Lay With The Devil

Lay With The Devil
Hampir Gagal


__ADS_3

Sarah masuk kedalam ruang kerja Pak Alfandi dengan membawa setumpuk dokumen dan segelas kopi.


"Kamu karyawan pindahan itu ya? Sarah?",


Sarah mengangguk ia kemudian meletakkan segelas kopi yang ia bawa.


"Titipan dari Mbak Jen, Pak...", jelas Sarah.


Pak Alfandi hanya mengangguk. Ia menerima dokumen dari Sarah dan mulai menandatanganinya. Jaka dan Paul sendiri masih bertahan duduk di depan Pak Alfandi.


"Kalian berdua, masih ada hal lain yang mau dibicarakan? Kalau tidak, saya akan minta Jennie untuk mengarahkan kalian dengan pekerjaan baru kalian. Saya tidak suka buang-buang waktu", Jelas Pak Alfandi.


Jaka dan Paul kemudian pamit keluar. Jennie yang tadi sudah dihubungi Pak Alfandi, telah menunggu di luar. Jaka sebenarnya tidak ingin meninggalkan Sarah berdua saja dengan Pak Alfandi, nyatanya Ia merasa ada sesuatu pada Sarah yang menarik perhatiannya.


Kantin Finance, Jam Makan Siang


"Pak, ini baru hari pertama dan anda sudah memusatkan perhatian pada satu objek saja...", jelas Paul pada bos nya itu.


"Maksudmu Sarah?",


Mengingatnya saja sudah membuat Jaka menegang. Ia tau ada sesuatu yang membuat Sarah begitu menarik.


Ia cantik. Tapi diluar sana banyak wanita yang lebih cantik mengejar-ngejar dirinya. Pintar? Tidak, mereka belum tau itu...


"You said so...", jawab Paul.


"Aku penasaran... Sudahlah. Tidak usah dilanjutkan. Tujuan kita datang kemari bukan itu. Kalau wanita bisa ditemui kapan saja. Tapi masalah di perusahaan bapak ini sudah terlampau jauh. Kalau dibiarkan, perusahaan bisa rugi besar...",


Mereka berusaha melanjutkan makan siang. Tapi perhatian mereka kemudian beralih pada orang-orang dari divisi keuangan yang sedang meributkan sesuatu.


"*Kalian tahu karyawan yang baru pindah itu kan? Habis dia dibuat Pak Alfandi..",


"Iya... Katanya baru hari pertama kerja, ia sudah menghilangkan dokumen penting yang akan dilaporkan pada bos besar kan",


"Biasanya kan Mbak Jennie yang menghandle dokumen sepenting itu. Kenapa Pak Alfandi percaya sih, sama anak baru?", yang lain hanya angkat bahu.

__ADS_1


"Terus.. terus... gimana ia sekarang?",


"Rekap ulang lah, mau gimana lagi... malam ini kan Pak Alfandi mau laporan... Kasian aja liatnya. Tapi sama Pak Alfandi gak boleh ada yang bantu gitu sih... katanya biar jera*",


Jaka megernyitkan dahinya.


"Itu yang mereka maksud anak baru Sarah kan?", tanya Jaka pada Paul yang juga memperhatikan percakapan itu.


Aasistennya itu mengangguk.


Pantas saja mereka tidak melihat sarah keluar dari kantor.


Jaka kemudian menghampiri meja kasir dan membeli beberapa bungkus roti beraneka rasa. Setelah membayar semuanya, Jaka bergegas meninggalkan kantin diikuti oleh Paul.


"Menurut Bapak, apa yang kita lakukan tidak beresiko kepada kita bertiga kedepannya?",


"F*ck it. Bapak ku tidak pernah mengajarkan untuk memperlakukan wanita seperti pembantu... Walaupun ia seorang pembantu sekalipun... Dan ini adalah perusahaan milik Bapak ku", jelas Jaka. Terlihat sekali ia marah.


Ting!


Langkahnya terhenti tepat didepan pintu kantor bos barunya itu. Ia mendengar sebuah percakapan yang seharusnya tidak ia dengar.


"Kau tau sendiri kan, hubungan ini gak bisa terus disembunyikan seperti ini... Aku capek...", terdengar sekali suara Sarah di antara isakan tangis nya.


"Kamu kan, yang gak mengijinkan ku untuk menceraikan Lisa",


"Terus apa mas? Setelah kau menceraikan dia, kau mau menikahiku? Orang-orang gak sebodoh itu... ",


"Hubungan kita baru dua bulan, dan kau berani sekali minta dimutasi kesini...",


"Aku terpaksa...", Sarah menyeka air matanya "Ibu Ranti benar-benar menjengkelkan... Aku harus selalu lembur hingga malam... aku lelah..",


Jaka mengepalkan tinjunya. Jadi wanita polos yang ditemuinya, yang di khawatirkannya, sejalang ini???


Dengan langkah besar-besar ia meninggalkan ruangan itu kembali menemui Paul yang menunggu di depan lift.

__ADS_1


Sesaat sebelum pintu lift benar-benar tertutup rapat, ia mendengar suara pintu ruangan terbuka, disusul dengan langkah sepatu wanita yang bergegas.


Persetan jika mereka mengetahui keberadaanku!!


Dadanya sesak, bagaimana bisa ia tertarik dengan sosok ******* yang terlihat manis, walau hanya sebentar saja.


Beberapa hari kemudian...


Jaka menggeliat dibawah selimutnya. Ia melihat jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 9.38 dan ada tiga missed call dari paul dan sebuah pesan.


📩Aku tidak tau kenapa beberapa hari kemarin mood mu berubah dan hari ini malah tidak masuk kerja. Tapi aku sudah memberi alasan yang cukup meyakinkan pada Pak Alfandi


📩Tadi Sarah mencari mu. Saat tau kau tidak masuk, ia kemudian meminta nomor ponselmu. Tapi aku tidak punya hak memberikannya


📩Ia menitipkan ini: 0800 7887 8877


Jadi, ia sadar kalau itu aku?


Apa ia merasa jika beberapa hari ini aku menghindarinya?


Baguslah... Wanita itu membuatku muak. Aku yakin ia berdarah campuran... Prancis? Jerman? Entahlah... Kenapa juga aku pusingkan...


Jaka meletakkan kembali ponselnya dan langsung masuk ke kamar mandi.


Hari ini aku tidak akan menyentuh penyamaran bodoh itu...


Jaka berencana untuk pergi ke apartemen Reza, salah seorang temannya yang kebetulan ahli dalam bidang IT. Ada beberapa hal yang ingin ia ketahui.


Misalnya, mengapa Sarah terasa begitu familiar...


♡


♡


♡

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2