Lay With The Devil

Lay With The Devil
Amerika


__ADS_3

Sarah menyelesaikan packing nya. Ia tau Margo tidak pernah asal saat menyampaikan pesan dari bos nya. Ia tidak ingin Margo menyeretnya ke bandara tanpa persiapan apa-apa.


Ding Dong!!


Suara bel rumah bahkan mengagetkannya.


Sarah bergegas kedepan. Ia melihat kakak dan keluarganya di depan pintu.


Oke... aku lupa kalau harus menjelaskan kepergian ini pada kakak...


Sarah berfikir. Sudah sejauh ini, kakak tidak boleh ikut campur. Bahaya...


°°°


Jaka masih serius mempelajari data kiriman Paul. Sesekali ia menghubungi asistennya itu untuk minta penjelasan.


"Kalau menurut data ini, pergerakan Indra sudah dimulai empat bulan lalu. Dan kita baru menyadari selama dua bulan terakhir... Bagaimana bisa?",


"Ini ada kaitannya dengan Alfandi. Pada awalnya ia mengira kalau keluarnya uang-uang itu karena pinalti yang diterima perusahaan. Ada beberapa pihak ketiga yang menerapkan sistem tersebut. Tapi baru pada bulan berikutnya ia menyadari kalau uang itu bukannya uang pinalti tapi ada screening entah dari mana.


"Astaga... Sebenarnya dimana orang itu sekolah sebelumnya... Baiklah. Aku akan menghubunginya sendiri. Aku mau ia mengirimkan data saat ia menemukan pinalti itu...", jelas Jaka. Ia kemudian memutuskan hubungan.


Tanpa membuang waktu ia menghubungi Alfandi.


Bapak benar-benar harus menegur orang itu... Gumam Jaka.


°°°


"Jadi gitu kak... Gimana? Sarah boleh pergi kan?",


"Ya boleh sih... tapi kok mendadak banget? Besok?",


"Eemmm... Kalau gak besok, ya lusa kak... Yang penting Sarah siap-siap dulu kan...",


"Ia.. ia.. yang penting hati-hati aja ya. Bali kan lumayan ekstrim. Takutnya aja entar kepincut bule...",


"Eemmm... emang gak boleh ya kak? hehehehe...",


"Ih. Kamu ini ya... Udahlah... Jangan terlalu boros, de. Ingat, tabunganmu buat apa... Jangan nyesal di belakangan...", kakak nya mengingatkan.


Sarah tau betul tabungannya untuk apa. Ia dan kakak. Hanya mereka yang tau.


Sarah bangkit dan memeluk kakak nya.


"Makasih ya kak, sudah bertahan dengan Sarah sejauh ini...",


Kakaknya tersenyum.


"Kamu satu-satunya saudara kakak, yang perhatiannya sudah kayak... kita ini sedarah. Masa iya kakak gak bantu...",

__ADS_1


Sarah sadar Kak Andini hanya saudara sepupu saja. Tapi ia sudah sangat dekat dengannya sejak mereka kecil.


"Heheheh... Sarah kan memang gak punya kakak... tapi...",


"Hai, kalian ngobroloin apa sih? Itu Bima nyari kamu, mah...", jelas Bang Roni.


Bang Roni duduk di samping istrinya.


Sarah yang risih, langsung ikut bangkit mengekori kakaknya.


"Kasian Bima, pasti capek ya... Sarah kangen juga sama dia...", jelas Sarah.


"Dia sering banget nanyain, kenapa sih tante Sarah gak ikut pergi... Sampai capek Ayahnya ngejelasin...",


"Sweet banget siih...", gumam Sarah.


Paling enggak, dia gak di ganggu.


°°°


Paul mengecek ulang bawaan Bos nya. Jaka sendiri tengah sibuk membaca file yang baru saja di kirim Herman.


"Sial...",


"Ha? Ada apa?", tanya Paul.


"Hmmm... apa itu artinya Nona Sarah di tipu?",


"Aku yakin begitu. Nominal ini hanya shadow. Karena Sarah tidak pernah menggunakan uangnya, Ia merasa aman-aman saja hanya dengan begini. Entahlah... Wanita itu juga tidak bisa berbuat apa jika ia tau yg sebenarnya...",


"Apa sebaiknya kita ajak ia juga? Dia perlu tau...",


"Jangan. Cukup kita yang selesaikan... Aku heran mengapa orang ini selalu membuat masalah...",


°°°


Sarah tertidur di ruang baca. Ia sedang mencari sesuatu yang pernah ia simpan saat pertama kali ia datang kerumah ini beberapa tahun yang lalu.


Sarah merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya. Ia mengibaskannya dengan malas. Sarah merasakannya lagi. Dengan berat ia membuka matanya.


"Apa yang... ABANG!! bang mau apa?!", tanya Sarah setengah terkejut. Ia langsung bangkit dan meninggalkan ruangan itu.


Sebelum masuk ke kamarnya, ia melihat kalau jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.26 am. Sarah mengunci pintu.


Sarah membuka balkon jendela kamarnya dan menghirup nafas dalam-dalam.


Sabar Sarah!! Setelah masalah dengan orang asing itu selesai, kamu bisa pulang dan menemui orang tua di kampung. Paling tidak kamu perlu liburan yang sesungguhnya.


Sarah menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya dari dalam kantong celana. Ada sebuah missed call dari Pak Jaka.


Sarah kemudian mencoba menghubungi ulang orang itu. Tapi nomornya sudah tidak aktif.


Sarah memutuskan untuk tidur.


°°°


Jaka melepaskan sabuk pengamannya. Setelah perjalanan selama 12 jam, yang ada dipikiran Jaka hanya kasur yang empuk dan kamar yang hangat. Ini ke sekian kalinya Jaka datang ke Amerika. Terakhir kali Ia datang bersama mantan istrinya untuk berbulan madu. Sayangnya pernikahan itu hanya bertahan beberapa bulan saja.


°°°


Jaka melepaskan sepatunya dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Dengan malas ia membuka Polo Shirt nya. Kamar ini sudah sangat hangat. Dengan malas ia duduk dan melepas celananya.


Jaka menutup matanya. Ia membayangkan saat ia berbulan madu dengan mantan istrinya dulu.


Baru saja mereka pulang dari bulan madu, Istrinya sudah mencari masalah. Jaka menyaksikan sendiri saat lagi-lagi Angel menemui mantan pacarnya. Angel selalu berdalih kalau pertemuan itu urusan bisnis. Angel yang merupakan seorang wartawan berita, selalu beralasan yang sama untuk menemui mantannya yang seorang artis film.


Damn!!


°°°


Sarah tidak menyangka kalau ia sudah berada di penerbangan ini. Beberapa jam yang lalu, ia masih berada di rumah bersama keponakan dan kakaknya. Sekarang ia sudah di dalam pesawat yang akan membawa nya untuk menemui Mr. Black. Orang yang mengikat hidupnya beberapa bulan ini. Ia ingin semuanya selesai. Ia ingin hidup tenang.


"Excuse me, miss.... Can you fasten your sit belt? Thank you...", seorang wanita membuyarkan lamunannya.


Kesadarannya kembali. Margo sendiri sudah asik dengan ponselnya di samping Sarah. Pria itu mengenakan headphone.


°°°


Angin dingin menerpa wajahnya. Ia tau kalau Amerika sedang bersalju. Tapi ia tidak menyangka kalau akan sedingin ini. Terakhir kali ia kemari saat masih sekolah dasar. Saat ia mengunjungi kakek dan neneknya yang merupakan orang Jerman. Setau Sarah, kakek sudah kembali ke Jerman saat nenek meninggal.


"Aku perlu kopi...",


"Jangan mengulur waktu. Aku akan mengantarmu ke hotel, setelah itu terserah kamu ingin melakukan apa. Tapi ingat, kamu tidak punya hak untuk kabur. Visa mu ada padaku dan nasib orang tuamu ada di tangan Mr. Black",


Sarah malas berdebat. Ia sudah cukup lelah. Ia masuk ke taxi yang di panggil Margo.


Sarah mengambil ponselnya, ia berusaha menghidupkannya. Saat itulah ia melihat sosok Jaka yang sedang melaju di dalam mini Cooper bersama seorang wanita.


Oke, bahkan aku mulai menghayalkannya...





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2