
Jaka sudah duduk manis di ruang tamu Sarah. Sarah sendiri duduk di seberangnya. Meja di hadapan mereka membuat masing-masing dari mereka bisa lebih tenang.
"Sa.. saya siapkan minum dulu...", Jelas Sarah tergagap.
Bodohnya aku!!! Padahal kemarin-kemarin aku keluar masuk apartemennya dengan santai. Kenapa malam ini sangat gugup??
Sarah menyeduh teh cinnamon kesukaannya. Ia menambahkan satu balok gula kedalam teh dan menambahkan dua balok lagi di atas piring cangkirnya.
"Apa biasanya kau seceroboh ini?", tanya Jaka sesaat setelah Sarah kembali duduk.
"Aa? Ah, tidak... tadi aku baru selesai masak, dan anda datang...",
"Apakah dapurnya tidak apa-apa?"
"Ti..tidak apa-apa kalau pemilik apartemen tidak mengetahuinya... Walaupun apartemen pribadi, tapi kalau membahayakan warganya, bisa-bisa kami di usir...",
"Oke... saya akan pura-pura tidak ingat hari ini. Tapi aku masih lapar dan sepertinya mie instan mu juga sudah tidak menarik...", jelas Jaka sambil melirik ke arah meja makan.
Mie instan milik Sarah tadi, sudah jelas menjadi dua kali lebih besar dari porsi seharusnya.
"Ma...af, Pak...", Sarah bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana kalau kau ganti baju dan kita makan di luar? Mungkin di sekitar sini ada warung makan yang lumayan enak?", tanya Jaka mencoba membujuk. Mungkin saja wanita ini terlalu malu untuk makan di restoran bersamanya.
Sarah hanya mengangguk dan langsung bergegas masuk ke kamarnya.
Jaka memandangi Jas nya yang masih basah karena insiden tadi. Ajaibnya, tidak ada bekas apapun di jas nya. Hanya basah.
°°°
Mereka sudah berada di dalam mobil Jaka.
Bukannya memakai baju jalan, Sarah hanya mengenakan jaket setelah piyama tidurnya tadi.
"Selain baju kerja dan piyama, kamu tidak punya baju lain ya??", tanya Jaka to the point.
"Memangnya kenapa Pak? Baju saya kurang sopan ya?", tanya Sarah tanpa berani melihat lawan bicaranya.
Jaka memijat keningnya.
"Tidak. Lupakan saja...", jelas Jaka sambil kemudian berhenti di salah satu warung makan yang di klaim Sarah enak.
__ADS_1
"Bapak yakin mau makan disini?",
"Bukankah kau yang merekomendasikannya? Apa maksudmu?",
"Tapi ini kan hanya warung kecil, Pak...",
"Astaga kau ini. Aku pernah bekerja sebagai penjual nasi goreng di pinggir jalan. Sudahlah. Aku juga manusia", Jaka melepaskan safety belt wanita itu.
°°°
Jaka kurang percaya dengan pendengaannya sendiri. Bisa-bisanya ia membeberkan hal itu. Hal yang sudah sangat lama.
"Bapak beneran pernah jualan nasi goreng? Kan Pak Ismail aja udah kaya dari lahir... Gak mungkin ah...", jelas Sarah menyelidik. Ia tertarik, apakah pernyataan orang itu hanya bualan atau memang fakta.
Jaka menatap langsung ke arah mata Sarah.
"Jangan memancing. Saya cukup yakin kamu tau lebih banyak dari orang yang menyuruhmu melakukan hal-hal bodoh ini...",
Sarah hampir saja membantah kata-kata orang itu. Tapi ia menahannya.
"Maaf...", ucap Sarah akhirnya, agak canggung. Ia lupa kalau sudah banyak membuat masalah terhadap lawan bicaranya.
"Sudahlah. Mau makan apa?",
Jaka kemudian menghampiri si penjual dan memesan makanan mereka.
°°°
"Apa saya boleh bertanya-tanya sedikit?", tanya Sarah pada Jaka yang baru saja menghabiskan nasi goreng cumi nya.
Jaka mengangguk.
"Mengapa and datang ke AntiQ Jaya dengan menyamar?",
"Target sebenarnya itu Alfandi. Jadi supaya tidak ketahuan saja. Tapi ternyata kami tetap ketahuan...",
"Well, Saya tidak tau apa-apa sampai orang itu yang memberi tahu. Saya juga tidak ingin tau... Masalah kopi itu, saya minta maaf...",
"Kopi itu membuatku sakit kepala",
"Sebelumnya saya fikir, itu buat Pak Alfandi. Tapi orang itu bilang untuk siapa saja yang ada disana saat itu... ",
__ADS_1
"Kau ini benar-benar ya... Apa sih, yang membuatmu tidak melaporkannya ke polisi saja?",
"Kalian pasti sudah tau kalau saya di peras kan... Saya bahkan tidak tau kenapa saya. Kalau ia hanya mengancam tentang saya, saya sudah laporkan sejak dulu. Tapi ia mengancam keluarga saya di kampung. Saya tidak bisa melindungi mereka dari sini...",
"Keluarga segalanya....",
Sarah mengangguk.
"Ayah sendiri sudah sakit-sakitan sejak dua bulan lalu. Saya hanya bisa mengirim uang setiap bulan. Usaha ibu sedang sepi. Awalnya orang itu menawarkan bantuan berupa tabungan setiap bulan. Saya hanya perlu menginstal sebuah flashdisk setiap pagi di ruangan Pak Alfandi. Berbulan-bulan saya berusaha agar bisa pindah ke departemen milik Pak Alfandi",
"Sampai kau harus menjadi simpanannya?",
Sarah diam. Ia tertunduk. Ia tidak mengira kalau hal itupun diketahui orang didepannya.
"Kau tau apa yang kau instal setiap paginya?",
"Aku tidak boleh tau. Setelah aku mulai menginstal, aku harus menyembunyikannya. Pernah sekali aku mengintip isinya. Tapi pada saat istirahat siang, aku mendapatkan telpon dari bank kalau seluruh tabunganku telah berpindah. Aku syok. Berjam-jam aku menunggu kedatangan margo, hanya karen aku tidak bisa menghubungi mereka... Aku hampir gila saat itu. Karena selain uang bulanan yang mereka kirim, uang tabunganku, gaji bulanan yang belum ku kirim juga ada disana. Kata orang, uang bukan segalanya. Tapi aku tau kalau uang bisa mengatur segalanya...",
"Berapa banyak mereka membayarmu?",
"Sepuluh juta setiap seminggu",
"Dan kau tidak membeli apartemen sendiri menghindari iparmu yang brengsek itu?",
Sarah menggeleng.
"Tapi aku tidak menyentuh uang itu sedikitpun. Aku sadar kalau aku mulai menggunakannya, aku akan semakin terikat. Aku akan menghilang suatu saat nanti. Uang itu mungkin akan kutitipkan di kantor polisi...",
"Wanita aneh", Jaka mengerutkan kening. Memang penjelasannya masuk akal. Tapi bagaimana pun, korban pemerasan tidak akan pernah bebas dari pemeras sampai mereka bilang sudah. Atau jika si pemeras berhasil di tangkap polisi.
°°°
Jaka melepas kemejanya. Ia terlalu lelah untuk mandi. Jaka langsung saja merebahkan tubuh di atas kasurnya.
Setelah mengantar wanita itu pulang dan mendaratkan sebuah kecupan di keningnya, otak Jaka berfikir agak lambat.
"Sial!!! Aku benci saat otak dan badanku tidak terlalu kompak!", umpat Jaka mengingat hal itu. Ia memejamkan mata.
♡
♡
__ADS_1
♡
bersambung...