
🌸Happy Reading🌸
Vegas langsung menyusul Sarah yang sudah berdiri di bibir pantai. Nyonya besar nya, ternyata sudah tidak sendirian. Ia bersama seorang wanita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Setengah berlari, ia menghampiri mereka.
"Nyonya..." Vegas sudah sampai di belakang Sarah.
Sarah yang menyadari kedatangan bodyguard-nya, kemudian berbalik.
"Vegas. Dimana mbak Betty?"
"Masakannya belum selesai, nyonya. Sebentar lagi dia menyusul."
"Oh, baiklah..."
"Apa nyonya dalam masalah?" tanya Vegas agak berbisik.
Wanita yang sejak tadi hanya menyesap rokoknya, terlihat tidak suka dengan kata-kata Vegas.
Ia lalu mendekati Vegas dan menghembuskan asap rokoknya ke wajah pria berotot itu.
"Nyonya, saya tidak main kasar dengan perempuan. Jaga sikap anda atau—"
"Atau apa, hah?!" wanita itu semakin menantang.
Siapa sih dia? batin Sarah kesal.
Tanpa ada yang menduga, Vegas merebut rokok menyala dari bibir wanita itu dan membuangnya ke atas pasir. Setelah menginjaknya, Vegas kembali mengambilnya.
Ia lalu meraih tangan wanita itu dan meletakkan puntung rokok tadi.
"Bawa sampah mu pergi dari sini. Atau saya yang memaksa anda pergi!" ucap Vegas.
"Ck! Dasar kalian orang kaya sombong! Menikmati pantai saja tidak boleh..." wanita asing itu ngomel.
"Ini wilayah pribadi, nyonya. Silakan pergi!" Vegas menegaskan.
Wanita itu melangkah pergi.
Setelah tidak terlihat lagi, Sarah akhirnya berani buka suara.
"Vegas, apa kau mengenal dia? Apa dia kenalan Pak Jaka, ya?" Sarah penasaran.
"Wah... Kalau itu, Saya kurang tahu nyonya... Saya kan orang baru." Jawab Vegas dengan suara yang lebih kalem.
Sarah memandang pria itu sekilas.
Tentu saja ia tidak tahu. Batin Sarah.
"Ya sudah. Saya mau masuk... Main air nya besok-besok saja..." jelas Sarah sambil melangkah pergi.
Vegas mengikuti langkah Sarah di belakang wanita itu.
"Nyonya, memangnya dia ada bicara apa dengan nyonya tadi?" tanya Vegas.
"Dia bilang, ia kenal dengan pemilik rumah ini. Lumayan dekat,"
"Wah, kalau begitu langsung tanya sama tuan saja... "
"Iya, saya tau." Sarah berhenti. Ia lalu berbalik menghadap Vegas.
__ADS_1
"Eh?"
"Ingat ya, jangan bilang semua ini pada siapa pun. Termasuk pada mbak Betty. Siapapun!"
"Eemm, jadi saya tidak perlu tanya sama tuan Jaka?"
"Jangan. Biar saya saja yang menanyakannya nanti. Oke?"
"O-oke nyonya..." Vegas mau tidak mau mengangguk.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.
※※※
Di Lokasi Jaka dan Paul
Jaka membuang gelas kopinya yang sudah habis. Ia dan Paul baru saja selesai dari pertemuan dengan klien mereka di salah satu club malam terkenal di kota itu.
"Terima kasih sudah menjagaku tadi. Kepalaku masih sedikit sakit..." jelas Jaka saat mereka sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka kembali ke hotel.
"Makanya kau harus segera mengadakan resepsi mewah untuk pernikahan kalian. Biar semua kolega dan calon klienmu tau, kalau kau sudah menikah..."
"Kau benar juga. Aku malah sudah melupakannya, karena kehamilan Sarah sudah mulai membesar..."
Flashback On
Tuan Billie yang rencananya akan menandatangani kontrak dengan Emerald Auto, mengajak mereka untuk meneruskan pertemuan mereka di Club Blizzard. Sebuah club malam yang terkenal mewah dan berkelas.
"Apa kita harus melakukannya disini, tuan?" tanya Paul yang melihat Jaka mulai tidak suka dengan tatapan-tatapan wanita disana kepadanya.
Bahkan ada beberapa wanita yang terang-terangan 'menyentuhnya'.
"Ha..ha..ha... Santai saja lah, saya sudah memesan ruangan VIP, jadi kita tidak akan di ganggu lagi, oke..." jelas Tuan Billie yang sudah sampai di depan ruangan yang mereka pesan.
Seorang penjaga bertubuh jangkung membukakan pintu untuk mereka.
Saat masuk, mereka di suguhkan pemandangan yang lumayan panas. Ada lima orang wanita penghibur dengan pakaian minim, yang sudah menunggu di sana.
"Oke. Silahkan masuk. Kita akan bicarakan bisnis nya..." jelas Tuan Billie yang sudah di kelilingi oleh tiga wanita tadi.
"Setauku dia sudah berkeluarga..." gumam Jaka pelan.
"Ya, begitulah orang kaya... Semaunya." jawab Paul kemudian.
"Hei. Aku lumayan kaya, dan aku tidak begitu. Aku setia pada istriku."protes Jaka.
"Ck! Ya, aku tau. Sensitif sekali..." jelas Paul yang kemudian duduk di sofa panjang yang tersedia disana.
Dua wanita yang tadi hanya duduk saja, sekarang mulai menuangkan minuman untuk mereka. Salah satunya kemudian mendekati Jaka dan menyodorkan gelas minuman itu langsung ke bibirnya.
"Hei nona, aku bisa melakukannya sendiri." protes Jaka yang kemudian mengambil gelas itu. Ia meletakkannya kembali ke atas meja.
"Oke tuan Billie, sebelum kita mabuk dan tidak bisa berfikir jernih, sebaiknya selesaikan dulu kontraknya... Apa anda tidak takut jika kami menipu anda?" jelas Paul.
.
.
.
__ADS_1
Setelah hampir sejam disana, kontrak itu akhirnya beres. Jaka sendiri sudah agak mabuk karena paksaan untuk minum yang mereka lakukan.
Sesekali ia mendapati kalau salah satu wanita penghibur itu suka curi pandang padanya. Jaka hanya mengabaikannya.
"Paul, aku ke toilet sebentar. Tolong jaga berkasnya." jelas Jaka berbisik.
Paul mengangguk. Jaka lalu meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Di Toilet
Jaka membasuh tangan dan wajahnya. Ia menyesal sudah mau minum tadi. Walau hanya tiga gelas, ternyata ia sudah tidak sekuat dulu. Nyatanya, ia sudah mulai pusing dan pandangannya agak buram.
Cklek
Jaka yang tengah membasuh wajah untuk kedua kalinya, dikagetkan dengan pelukan sesorang wanita dari belakang. Dua buah benda kenyal itu benar-benar menempel di punggungnya. Tanpa aba-aba, senjatanya menegang.
Jaka berbalik untuk melepaskan pelukan itu darinya.
"Kamu?!"
"Tuan Saga... Aku merindukanmu..." bisiknya yang masih berusaha maju, walau Jaka sudah menahan kedua bahunya.
"Anda mabuk ya? Saya Jaka. Bukan tuan Saga mu itu!"
"Tuan Saga... Kau jangan menipuku terus... Kau sudah bermain-main denganku, sudah puas denganku, sekarang kau bilang tidak kenal aku... Kau jahat..." jelasnya lagi.
Jaka menurunkan tangannya karena wanita itu sudah tidak memaksa untuk maju atau memeluk Jaka.
Jaka memijat keningnya.
"Maaf ya, nona... Saya bukan tu—"
Belum lagi Jaka menyelesaikan kalimatnya, bibir wanita itu sudah mendarat di bibirnya. Wanita itu menarik kerah baju Jaka dan membuat Jaka tunduk mendekatinya. Bibir wanita itu memaksa agar lawannya memberi jalan.
Jaka yang tersadar dengan apa yang terjadi, langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh ke lantai.
"Dasar wanita aneh! Sudah aku bilang aku ini Jaka bukan Tuan Saga mu itu!" omel Jaka yang langsung berbalik untuk membasuh bibirnya - lagi.
Dasar! Sudah berapa banyak laki-laki yang ia cium dengan bibir itu! Brengs*k! Batin Jaka.
Jaka lalu meninggalkan wanita itu sendirian. Ia tidak ingin lebih lama lagi berada di tempat ini. Ia dan Paul harus pulang sekarang.
Flashback Off
Jaka dan Paul masuk kedalam loby hotel tempat mereka menginap. Jaka melirik jam di tangannya.
Sudah tidur apa belum ya? Aku ingin mendengar suaranya... gumam Jaka dengan senyum mengembang.
🗣 bersambung...
Hallo semuanya... Jangan lupa kasih dukungan kalian buat author ya...
Terima kasih 😘😘
__ADS_1