Lay With The Devil

Lay With The Devil
Muss Heiraten


__ADS_3

Debby melangkah dengan malas. Kemarin ia sengaja tidak masuk kerja karena tau kalau Jaka tidak masuk kerja lagi. Hari ini ia harus masuk kerja, kalau tidak Paul akan menendangnya keluar. Walaupun bagaimana, jabatan Paul berada langsung di bawah Jaka.


Debby mendatangi Paul yang sedang berada di ruangan Jaka.


"Hai Paul, kau tau kemana bos mu?" tanya Debby yang sudah duduk di hadapan Paul tanpa di persilahkan.


Paul menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop yang sedang menyala di depannya.


"Bolehkah kau berikan aku nomor ponselnya?" tanya Debby lagi.


Lagi-lagi Paul menggeleng.


Debby yang merasa geram karena Paul sama sekali tidak menggubrisnya, lalu keluar sambil menghentakkan kakinya.


Awas aja kamu Paul!! Nanti kalau aku sudah jadi Nyonya Sanjaya, kamu yang lebih dulu ku singkirkan... Debby kesal sekali.


Di Rumah Orang Tua Sarah...


Jaka mondar-mandir di kamar Axel. Ia sedang memikirkan kata-kata Axel tentang tantangan yang dikatakan Axel. Sarah sendiri sedang ke supermarket dengan Ibunya.


"Aku memang berencana melakukannya. Tapi bukannya dengan begitu Ayahmu akan semakin murka padaku?" Jaka bingung sekali. Apalagi menurut Axel, Sarah jangan sampai tau. Wanita itu pasti tidak akan setuju.


"Ya sudah, lakukan saja. Lagi pula, aku percaya kau orang baik. Aku rela kalau kakakku berada bersamamu,"


Jaka menepuk bahu Axel. Ia yakin dengan dirinya sendiri. Ia akan menaklukan hati Ayah nya Sarah malam ini.


※※※


Pak Arnold masih terlihat dingin kepada Jaka. Hal itu membuat Sarah menjadi tidak mood makan. Sarah meletakkan sendoknya dan bersandar di kursi makan. Perutnya juga tidak nyaman.


Jaka yang duduk di samping Sarah menyadari tingkah laku Sarah itu.


"Apa kau sakit?" Jaka berbisik. Sarah menggeleng.


Setelah makan malam, Axel bicara dengan Ibunya. Entah apa yang ia katakan, mereka lalu berkumpul di ruang tengah.


"Ada apa ini?" Sarah berbisik pada Axel.

__ADS_1


"Calon suamimu mau bicara. Aku hanya mengumpulkan kalian..." Axel menjelaskan.


Kini giliran Sarah yang deg-deg an. Ia takut kalau Jaka salah bicara dan mengakibatkan Ayahnya marah besar.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Pak Arnold to the point.


"Saya hanya ingin bilang, kalau Bapak boleh meminta saya melakukan apapun agar saya bisa mendapat restu dari anda...",


Sarah tidak menyangka akan mendengar itu. Agak berlebihan untuknya. Tapi ia senang.


"Huh... Memangnya, ada jaminan kau tidak akan menyakitinya?"


"Aku bisa bersumpah jika itu yang anda inginkan."


Sarah merangkul Axel. Sandra berada di samping Ibunya. Mereka seperti sedang menonton drama antara kedua orang itu.


Pak Arnold diam. Begitu pula dengan Jaka. Suasana ruangan itu sangat panas.


Jaka harus mendapat restu Ayahnya Sarah saat ini atau moment nya akan hilang.


Sarah semakin khawatir. Ia takut kalau Ayahnya meminta Jaka mengembalikan perusahaannya, atau jika Ayahnya meminta Jaka menbayar semua kerugian keluarga mereka dulu. Hal-hal yang mustahil.


"Apapun itu," Jaka yakin. Walaupun Ayahnya Sarah ingin semua hartanya, ia akan memberikannya. Ia terlalu mencintai Sarah. Ia juga berjanji pada wanita itu untuk memperjuangkannya.


Lagi pula, ia laki-laki. Dan ia sudah merenggut mahkota wanita itu. Maka, ia ******** jika meninggalkannya saat ini.


"Kalau begitu, Ich möchte, dass du meinen Sohn heiratest, bevor du zurückkommst."


"Oke. What?" Jaka bingung.


Pak Arnold meninggalkan ruangan itu. Nyonya Mutia hanya bisa menutup mulutnya karena kaget. Terlebih lagi Sandra. Tidak ada yang menyangka dengan permintaan Pak Arnold.


Mereka akhirnya meninggalkan ruangan itu. Tinggal Jaka, Sarah dan Axel yang masih berdiri disana.


"Jadi, apa kau benar-benar setuju?" tanya Axel pada Jaka yang sedang merangkul Sarah.


"Aku bahkan tidak tau apa yang ayah kalian katakan."

__ADS_1


"Dia bilang, aku ingin kau menikahi anakku sebelum kalian kembali." Sarah menjelaskan dengam suara yang tertahan. Ia tidak mengira permintaan ayahnya bukan seperti yang ia bayangkan.


"Benarkah?" Jaka seakan tidak percaya "Itu bagus..." Jaka mengecup kening Sarah.


"Tapi itu artinya dalam waktu dekat ini sayang. Bagaimana dengan restu dari orang tuamu... Pak Ismail, kan..."Sarah memikirkan kata yang sesuai.


Jaka mencium bibir Sarah. Ia bahkan tidak peduli kalau Axel masih mengamati perdebatan mereka.


"Sudah ku bilang, yang paling penting adalah restu dari orang tuamu, ingat?" Jaka memeluk Sarah. Mereka bahkan tidak sadar kalau Axel sudah tidak ada disana.


※※※


Sarah tidak menyangka akan melangsungkan pernikahan secepat ini. Persiapannya hanya sehari.


Seluruh dokumen yang diperlukan Jaka, sudah dikirimkan langsung oleh orang suruhan Paul. Ia hanya bilang ingin mengurus sesuatu, saat Paul bertanya.


Mereka akan menikah pagi ini di dinas pencatatan sipil. Kemarin Jaka mengurus kelengkapan dokumen. Begitu juga Sarah.


Sarah lalu ke butik dengan Ibunya dan Sandra untuk mencari gaun simple yang sesuai. Jaka memakai Jas Axel karena perawakan mereka tidak jauh berbeda. Laki-laki memang tidak ingin yang ribet.


"Padahal aku pikir ayahku akan minta perusahaannya dikembalikan..." Axel menepuk bahu Jaka.


"Benarkah? Aku malah tidak berpikir ke sana." Jaka mengerutkan keningnya.


Ya, kenapa bukan itu yang ia minta?





bersambung...


On title:


Muss Heiraten (Jerman): Harus Menikah

__ADS_1


__ADS_2