Lay With The Devil

Lay With The Devil
Menunggu


__ADS_3

Sarah menyusun kopernya di sudut ruangan. Beruntung Margo masih berbaik hati mau memberikan kamar indah ini.


"Ingat ya, kamu tidak boleh keluar kamar ini tanpa seijin dan sepengetahuan saya. Kalau kamu nekat keluar, Saya tidak segan-segan melaporkannya kepada Mr. Black",


Begitulah pesan Margo sebelum dia pergi tadi. Sebenarnya Sarah sangat tergoda untuk mengunjungi salah satu keluarganya yang masih tinggal di Amerika. Adik dari ayahnya nya yang paling kecil. Ia sendiri tidak tahu bagaimana kabar dan keadaan pamannya itu saat ini. Apakah masih tinggal di rumah yang sama, atau sudah pindah ke tempat lain.


Sarah ingin menghubungi orang tuanya di kampung, tapi dia sendiri tidak tahu mau bilang apa.


°°°


Sarah menggeliat di atas kasurnya. Ia bosan. Percuma saja Ia datang jauh-jauh ke sini jika tidak bisa jalan-jalan. Tapi dia juga tidak berani untuk melanggar aturan yang dibuat Margo.


"Ya Tuhan... aku lapar...", Sarah bangkit dari kasurnya dan kemudian membuka tirai jendela kamarnya. Pemandangannya hanya gedung di seberang jalan dan jalan raya yang lumayan sepi. Semua orang pasti enggan keluar rumah pada cuaca sedingin ini.


Tidak lama berselang, Sarah mendengar seseorang memencet bell kamarnya. Ia kemudian menghampiri pintu depan.


Sarah mengintip melalui lubang yang ada di pintu. Seorang pizza delivery. Sarah agak ragu untuk membuka pintu kamarnya. Tapi ia lapar.


"Hai there, Pizza deliery ... ",


"I'm not order any pizza. Sorry",


"Someone called Mr. Black did. Is he is not here?",


"Owh... yes, sorry... Wait a second...", Sarah membukankan pintu dan menerima sekotak pizza yang masih panas.


Sarah bahkan tidak perlu membayar pizza itu.


Sarah terbiasa mengantisipasi dan mengamankan dirinya sendiri. Ia lalu mengunci pintu. Ia tahu Margo pasti memiliki kunci kamar ini juga, jadi ia mengaitkan pula rantai pengaman yang ada disana.


Sarah membawa pizza itu ke meja makan. Saat hendak mengambil potongan pertamanya, ia dikagetkan dengan bunyi ponselnya sendiri.


📞Hallo? Pak?


📞Bagaimana kabar anda? Apa yang anda lakukan?


📞Hmmm... saya mau makan... dan saya baik-baik saja... sejauh ini...


📞Dimana anda sekarang?


📞Emm... itu... saya ada urusan... Bapak ke rumah saya?


📞Well, yeah... tapi gimana ya... feeling saya kalau anda sedang tidak di Bali...


📞Yaaaahh... itu... kalau bapak tidak percaya ya saya bisa apa? Heheheh... Mau cek saya kesini?


📞Mungkin... kenapa tidak? Ingat ya... Ditengah masalah seperti yang anda hadapi sekarang ini, dan anda liburan ke Bali... rasanya tidak mungkin. Kalau anda bersembunyi di suatu tempat, mungkin saya percaya...


📞Oke... Sebenarnya...


Akhirnya Sarah menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Dari awal hingga ia di hotel itu sekarang.

__ADS_1


📞Yah... Saya sudah menduganya. Kalau begitu bersiaplah. Saya akan mampir ke sana. Sebenarnya ada hal yang ingin saya jelaskan juga kepada anda...


Sarah merasa pusing. Jadi sosok yang ia lihat di dalam mini cooper itu memang Pak Jaka?


Sarah buru-buru mandi dan mengeringkan rambutnya.


Hampir sejam dan ia masih menunggu.


Luar biasa... apa aku dipermainkan??


Sarah mengambil potongan pizzanya yang kedua. Ia membuka kaleng soda keduanya. Kepalanya pusing. Tapi apa ia bisa lebih pusing lagi?


Jauh-jauh datang ke Negara besar ini tanpa bisa menikmatinya.


°°°


Jaka menandatangani lembaran-lembaran dokumen yang di sodorkan abangnya.


"Jadi begini caramu hidup? Menguras sendiri harta orang tuamu? Padahal Bapak dan Ibu juga sudah memberikan aset untukmu, bang?",


"Ya, gimana ya... Aku perlu uang. Dan kurasa, harta Bapak gak akan habis walaupun AntiQ Jaya bangkrut... Saham Bapak itu dimana-mana...",


"Kamu betul-betul orang gak guna, Dra. Mulai sekarang, kalau kau masih bermain-main di perusahaan Bapak, aku gak akan segan memberi tahu Bapak... Biar beliau yang memutuskan hukuman yang bagus untukmu...",


"Kamu gak akan bisa",


"Aku bisa. Tenang saja, Aku gak akan berani menemuimu kalau tidak punya bukti apa-apa...", jelas Jaka yang kemudian menerima amplop biru dari Paul.


Indra terlihat mengerutkan keningnya.


"Oh, astaga... gadis itu? Apa seleramu hanya segitu? Hahahah... Aku bisa memperkenalkan teman-temanku disini... Kalau kamu mau... Kamu masih muda, Jak...",


Jaka terlihat tidak suka dengan cara Indra menggambarkan Sarah.


"Cukup",


"Hohoho... Okey... ", Indra tau bagaimana adiknya jika marah. Sebagai anak bungsu, Jaka lah yang paling menyeramkan saat marah. Apalagi umur mereka terpaut jauh.


"Baiklah... Aku masih harus memulangkan wanita yang kau bawa-bawa kedalam masalah ini... Mana orang mu yang membawanya? Mungkin ada yang ingin ia berikan...",


Indra kemudian menghubungi Margo. Rupanya orang itu hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Hanya saja tampilannya dirubah. Indra memerintahkan Margo untuk memberikan kunci kamar yang di pegang Margo.


"Baiklah, mungkin kau harus mencoba untuk memulai lagi investasi yang baik, jauh-jauhlah dari masalah!",


°°°


"Hmmmm... sudah lama aku tidak memegang salju...", Sarah tidak perduli. Ia akan mengabaikan perintah Margo.


Dengan bersemangat ia membongkar kopernya dan menarik mantel tebalnya. Dengan buru-buru ia mengganti bajunya dengan t-shirt dan jeans sebagai bawahan.


Rambutnya ia biarkan terurai. Dengan buru-buru ia memakai mantel putihnya.

__ADS_1


Setelah mengunci kamar, Sarah melesat meninggalkan kehangatan yang diberikan kamarnya.


°°°


Saat berada di luar, ia baru sadar kalau banyak perlengkapan yang tidak ia gunakan untuk menghadapi dingin nya salju di New York.


Telinganya dingin. Tangannya gemetar. Dan tumpukan salju yang lumayan tinggi masuk kedalam snikers nya.


Sayangnya ia sudah berjalan cukup jauh untuk kembali ke hotelnya.


Damn!!


Aku sudah kangen aja sama kamar itu... Dingin banget di luar sini... bbrrrr....


Sarah memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang terlihat sedikit bersalju. Sarah membersihkannya dan kemudian duduk. Ia capek. Tapi ia tau kalau ia tidak boleh duduk terlalu lama.


Ponselnya bunyi.


📞Hallo?


📞Ha.. halo, Pak Jaka? Saya fikir bapak sudah tidak ingat dengan saya..


📞Dimana kamu?


📞Eeemmm... apa itu perlu?


📞Saya di depan kamar mu, dan sepertinya kamu tidak ada di dalam


📞Well, yeah... saya lagi jalan-jalan. Agak bosan menunggu lama...


📞Sebaiknya kamu pulang. Sepertinya cuaca siang ini tidak terlalu baik. Angin nya juga agak kencang...


📞Hmmmm... terima kasih atas perhatiannya. Saya tau kapan saya harus pulang


Sarah memutuskan hubungan.


"Apa orang itu tidak tau kalau aku marah padanya? Dasar orang kaya... Selalu semaunya...", Sarah ngomel.


Ia lalu bangkit dan kembali berjalan menuju bagian taman yang sering di lihatnya di salah satu film. Paling tidak, ia ingin bisa menikmati liburannya.


Baterai ponselnya full, ia ingin menyimpan beberapa kenangan selama disini...


Oke, Semangat Sarah!!





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2