Lay With The Devil

Lay With The Devil
Kamar Jaka


__ADS_3

"Sarah... Mau tidur sampai kapan?", Suara Jaka membangunkannya.


Sarah membuka matanya. Ia mencari asal suara itu. Lalu tercium bau kesegaran lavender, matanya kemudian tertuju pada sesosok pria dengan baju mandi di berwarna hitam yang tengah membelakanginya. Jaka sedang mencari baju di dalam tumpukan kopernya.


Sarah yang merasa tidak enak langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Sarah mandi secepatnya. Setelah selesai, barulah ia sadar kalau itu bukanlah kamar ataupun kamar mandinya. Dengan perasaan was-was Sarah membuka pintu kamar mandi dan mengintip dari baliknya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Jaka di sana.


"Psst... Pak Jaka?", Sarah mengecek.


Tidak ada jawaban.


Sarah melilitkan handuk ke badannya dan berencana keluar lalu mengunci pintu kamar. Sarah berjalan agak cepat. Tepat saat Sarah akan meraih gagang pintu, pintu itu terbuka.


"Kyaa!!!", Sarah kaget. Benar-benar kaget. Refleks ia bersembunyi di balik pintu.


"Suaramu bisa membuatku dalam masalah. Mana pakaianmu?", Jaka berusaha mengalihkan pandangannya.


"Please... Bapak keluar dulu... Saya mau ambil baju di kamar...", Sarah memohon.


"Tidak masalah... Tapi pembasmi serangga baru akan datang sejam lagi",


"...",


"Aku lupa kalau mereka masih disana... Eemm... Bolehkah... saya pinjam baju bapak?", Sarah memohon.


"Apa kau ingin aku membeli sepasang baju untukmu? Rasanya aku juga tidak ingin masuk kesana dengan mereka terbang kesana-sini", Jaka menawarkan diri.


Tapi membayangkannya saja membuat wajah Sarah memerah. Ia tidak ingin orang itu memilihkan pakaian dalam untuknya.


"Ti-tidak perlu...",


"Okeeyy... Carilah apa yang bisa kau kenakan disana. Aku ingin sarapan. Kalau kau sudah siap, sarapanmu sudah menunggu", Jaka menjelaskan.


Sarah hanya mengacungkan jempolnya. Ia lalu menutup pintu kamar.


Dengan buru-buru Sarah membongkar koper Jaka. Hanya ada kemeja dan polo shirt. Bisa di pakai kalau ia punya pasangannya. Sarah memutar otak.


Tidak ada yang bisa dipakai!!!


Sarah memijat pelipis nya. Ia menyusun kembali pakaian Jaka yang ia bongkar.


Sarah lalu membuka lemari baju yang ada di kamar Jaka. Tidak ada selembarpun pakaian. Hanya tumpukan kain dan selimut serba putih.

__ADS_1


Sarah menarik selembar kain dan melilitkannya di tubuhnya. Setelah itu sarah meraih selembar kemeja putih Jaka.


"Ah, sudahlah... begini cukup", Sarah menggulung rambutnya.


Tapi Sarah agak ragu untuk keluar kamar dan pergi sarapan. Akhirnya ia hanya duduk saja di kamar sambil memainkan ponselnya.


Tok tok tok


"I-Iya... ", Sarah membuka pintu sedikit. Ia lalu mengintip keluar.


"Kamu tidak keluar untuk sarapan?",


"Eemm... pakaianku tidak cukup sopan... A-aku juga masih cukup kenyang...",


"Kau malu? Oke, aku akan nonton TV selagi kau makan. Bagaimana?",


"Maaf, aku begitu merepotkan...",


"Apa kau bilang? Kau merepotkanku cukup sering...", Jaka tersenyum. Ia meninggalkan sarah dan menuju ruang TV.


"Take your time", Jaka menambahkan.


Sarah akhirnya sarapan. Ia membuat susu hangat dan membuat roti bakar dan selai cokelat.


Sarah kemudian mencuci beberapa piring kotor.


Sarah sudah selesai, dan saat itulah keran air di tempat pencucian piring patah. Air keluar dan menyebar kemana-mana.


"Astaagaa!! Waduuuh.. Pak!! Pak Jaka, tolong!!", Sarah berteriak.


Tidak lama berselang Jaka datang dengan wajah kaget yang benar-benar kaget.


Sarah berdiri di depan tempat cuci piring dengan keadaan basah. Ia sibuk menghalangi air yang merembes kemana-mana.


Jaka langsung menjauhkan barang-barang elektronik di sekitarnya. Ia kemudian meraih beberapa lembar lap dapur dan menutupi air deras yang keluar. Ia ikut panik.


"Tutup soket yang di bawah sana", Jaka menunjuk ke bawah kompor "Yang warna biru", kewarasannya kembali.


Sarah bergegas. Akhirnya air berhenti keluar.


"Bagus... mungkin ini hari sialku...",

__ADS_1


"Bisa jadi... ", Jaka membuka kemejanya yang basah "Mungkin kau perlu beli penangkal sial. Hahaha... sorry, aku bercanda...",


Jaka melirik Sarah. Ternyata wanita itu sedang mengamatinya. Saat itu pula Jaka melihat apa yang harusnya tidak ia lihat. Pakaian seadanya Sarah yang basah membuat rahangnya megeras. Wanita itu tidak berada jauh darinya, membuatnya bisa merasakan hawa panas yang ditimbulkan Sarah.


Entah sadar atau tidak, Jaka menarik Sarah mendekat. Nafas Sarah terdengar berat. Dalam posisi sedekat ini Jaka melihat kalau pay*dara Sarah menegang.


Ia benar-benar tidak mengenakan apa-apa...


Jaka menarik wajah itu mendekat. Dengan sekali gerakan saja, bibir mereka sudah saling bertaut. Beberapa menit, dan Jaka seakan tidak ingin berhenti. Ia semakin intens. Tangannya membuka kancing kemejanya di tubuh Sarah. Sesekali ia bahkan menggigit bibir bawah Sarah.


"Oookkeee.. sebaiknya kita berhentiii...", Sarah meminta dengan enggan.


Jaka mengeluh. Ia tidak ingin semua usai.


"Entahlah... aku bahkan... tidak tau... caranya...", tangan Jaka sudah melepaskan simpul yang dibuat Sarah untuk menahan kain yang menutupi tubuhnya.


Tangan Sarah menahannya.


Ting tong


"Maaf Pak... aku...",


"Katakan kalau kau tidak menginginkannya, Sarah...",


"Aku... ada orang di pintu...",


Ting tong


"Damn!! Masuklah ke kamarku... ada kecoa yang harus di usir...", Jaka terlihat jengkel. Ia meninggalkan Sarah yang hampir telanjang.


Sarah mengambil baju Jaka dan menbawanya ke kamar. Sarah mengunci pintu kamar Jaka.


Sarah melepaskan kain basah yang masih bertahan di tubuhnya. Setelah mengeringkan diri, ia masuk ke bawah selimut hangat milik Jaka. Ia benar-benar kedinginan dan kepanasan di saat yang sama.





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2