
Jaka mengamati berulang kali rekaman yang dibuat Paul. Gambarnya goyang, tidak fokus dan noisy. Tapi ia bisa menangkap isi percakapan itu. Dan sesuai penjelasan Paul, Sarah adalah korban blackmail.
"Bagaimana menurutmu Paul?", Jaka meminta pendapat asistennya.
"Kita tidak punya bukti apa-apa selain percakapan ini. Hal ini menjurus kemana, kita juga tidak mengetahuinya. Jadi menurut saya, kita biarkan air mengalir dengan sendirinya dan kita akan lihat kemana ia akan bermuara...",
"Kau benar juga. Mulai besok aku akan kembali datang ke kantor Bapak. Kalau benar wanita itu masih mencari-cari ku, aku jadi penasaran... Apa ada hal lain selain masalah yang tempo hari...",
Jaka mengirimkan rekaman itu ke ponselnya sendiri. Ia kemudian memberikan kembali ponsel Paul kepada pemiliknya.
°°°
Sarah melemparkan flash disk Mini itu ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Selang beberapa detik, Pintu itu terbuka dan wajah abang iparnya muncul.
"Apa ada yang terjatuh?", tanyanya sambil melirik isi kamar adik iparnya.
"Gak ada Bang, aku hanya menjatuhkan stapler milikku... Kak Andini mana?", tanyaku mengalihkan perhatian.
Sial!! Aku lupa mengunci pintu kamarku!! Umpat Sarah jengkel.
"Kakakmu lagi kepasar buah dengan Bima. Biasa, anak itu gak mau makan kalau gak di sediakan buah apel kesukaannya...", jelas abang iparnya, Bang Nanda. Orang itu melangkah masuk ke kamar Sarah.
"Gak di antar bang?", tanya Sarah sambil bangkit dari kasurnya dan mendekati balkon kamarnya yang tertutup.
Ia kemudian membukanya. Ingin sekali ia lompat dari sini kebawah untuk menghindari abang iparnya yang genit itu.
"Enggak, tadi naik StarJek. Biar gak kena macet katanya... Kenapa jendelanya dibuka?", tanya orang itu yang terus mengekor Sarah.
"Gerah bang",
Sama kelakuan lu!! Brengs*k!! Sarah mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Sarah memandang jauh ke arah lampu-lampu kota yang masih terang.
Andai saja Ayah tidak ngotot menyuruhku tinggal dengan Kak Andini dan suaminya, pasti hidupku gak akan sesial ini... Astagfirullah... itu ayah yang ku bicarakan...
Sarah menghapus titik air mata yang hampir mengalir dari sudut matanya.
Sarah berbalik kaget saat sesuatu menyentuh pinggangnya.
"Astaga bang?!, Saya ini adik istri abang loh! Yang sopan ya bang!! Sarah adukan ke kak Andini kalau abang selalu kurang ajar begini!", pekik Sarah setelah menepiskan tangan Abang ipar nya.
"Kamu nggak akan berani kan? Kalau memang kamu berani, sudah dari dulu kamu keluar dari rumah ini...", tantang iparnya dengan wajah yang super memuakkan.
"Jadi, dari dulu hal yang Abang inginkan supaya aku keluar dari sini? Ingat ya Bang, ini rumah orang tuaku bukan rumah Kak Andini, apalagi rumah abang. Mereka juga masih hidup kok!", jelas Sarah dengan nada yang tak kalah tinggi.
Plaak!!
Suara itu mengagetkan Sarah. Pipinya perih.
"Kurang ajar! Ingat ya, aku akan ceraikan kakak mu dan buat hidupnya menderita dengan membawa Bima pergi dari sini. Jadi, jangan macam-macam denganku!! Dasar anak manja!!", ancam orang itu. Ia tau Bima adalah segala-galanya buat Andini.
Sarah menarik backpack mininya, memasukkan dompet dan mengambil flashdisk mini yang ia lempar tadi di lantai. Dengan langkah besar-besar Sarah meninggalkan orang itu. Masalahnya sudah banyak. Orang ini menambahnya lagi dengan hal yang tidak masuk akal.
Sarah pergi keluar dengan selop kesayangannya. Hadiah dari Bima kecil yang masih berusia lima tahun.
Anak itu, semoga tidak memiliki sifat dan perangai bapaknya... gumam Sarah.
Sarah naik ke bus yang masih lalu lalang pada jam sembilan seperti sekarang ini. Dia kemudian turun di salah satu pemberhentian bus. Ia sendiri tidak memperhatikan berapa halte yang sudah ia lewati. Ia terlalu sibuk menghapus air matanya. Sarah kemudian melihat papan nama halte yang singgahi.
"Cut Nyak Dien... Berarti aku melewatkan tiga halte ya... Astaga... mau apa aku di daerah ini...", Sarah menimbang-nimbang. Perutnya keroncongan. Ia lupa makan malam tadi. Ia terlalu fokus dengan flashdisk itu.
Setelah mengelilingkan pandangan, matanya tertuju pada sebuah warung nasi goreng dengan penerangan seadanya. Sarah mendekatinya.
__ADS_1
"Pak, nasi gorengnya masih ada?", tanya sarah penuh harap.
"Waduh Dek, sudah habis dari tadi... ini Bapak dan ibu lagi simpun-simpun mau pulang... Mau minum aja atau gimana, Dek?", tanya bapak tua itu sambil menyodorkan sebotol Akua.
Sarah menerima nya dan kemudian memberikan uang satu lembar sepuluh ribu kepada bapak itu.
"Kembalinya buat bapak aja...", jelas Sarah yang kemudian menyimpan kembali dompetnya.
Bapak itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sarah berlalu. Ia kemudian duduk di bawah pohon sambil meneguk minumannya.
°°°
Jaka menjalankan mobil sport nya dengan kecepatan rendah. Kepalanya agak pusing. Belum selesai masalah di AntiQ Jaya, muncul lagi masalah di perusahaanya sendiri, Emerald Auto.
Beberapa ratus meter lagi ia sampai di apartemen nya. Saat itulah ia melihat seorang wanita yang dikenalnya. Sarah. Duduk dibawah pohon. Padahal rintik hujan mulai berjatuhan.
Jaka menepikan mobilnya.
Ia kemudian mendekati gadis itu. Hanya mengenakan baju tidur dan memeluk backpack mungil berwarna cokelat.
Mungkin ia berjalan saat tidur...
"Hei..", Jaka berusaha membangunkan Sarah yang tidur lumayan pulas.
"Lima menit lagi, bu...", Sarah malah merebahkan tubuhnya di atas rumput.
Saat itulah hujan turun. Sarah terbangun dan masih setengah sadar saat seseorang mengangkatnya dan mendudukannya ke dalam mobil. Kejadiannya sangat cepat. Sarah bahkan tidak sempat menolak.
♡
♡
__ADS_1
♡
bersambung....