Lay With The Devil

Lay With The Devil
Pengakuan, Pengakuan.


__ADS_3

Jaka menolak tawaran Sarah untuk turun dan naik ke lantai atas kapal feri penyeberangan. Padahal Sarah berniat untuk mengajak Jaka menikmati minuman hangat di atas.


"Rasanya aku akan mabuk laut kalau keluar dari sini...", Jaka mejelaskan.


Jaka masih menyalakan mobilnya. Ia perlu AC agar ia tidak tumbang saat ini juga.


Sarah meninggalkan Jaka sendirian. Ia mau minum kopi hangat di atas. Setau dia, ada kantin di lantai atas.


※※※


Sarah membeli beberapa jenis cemilan dan permen mint untuk Jaka. Ia juga membeli kopi, siapa tahu Jaka menginginkannya.


tok tok tok


Sarah mengetuk jendela mobil Jaka. Laki-laki itu lalu membuka kunci pintu agar Sarah bisa masuk.


Jaka memijat-mijat keningnya.


"Aku punya permen mint, kopi dan cemilan. Sebaiknya kamu makan agar tidak terlalu mual", Sarah membuka bungkusan yang tadi ya bawa.


Tanpa basa-basi, Jaka mengambil beberapa bungkus permen dan langsung memakan 2 bungkus. Ia lalu bersandar di kursi kemudi dan terlihat lebih baik.


"Boleh aku perbesar suara lagunya?", tanya Sarah. Jaka hanya mengangguk tanda setuju.


Sarah mulai mengikuti lirik lagu yang sedang diputar. Jaka yang terbawa suasana jadi mengikuti irama.


Sarah senang Jaka melupakan mual nya.


°°°


Jaka pusing sekali. Ia benar-benar harus menyampaikan ke Sarah kalau Ismail Wirawan itu memang bapaknya. Tapi ia takut Sarah marah dan meninggalkannya.


"Hei, Sayang!!", Sarah sampai menyenggol lengan Jaka agar orang itu menggubris panggilannya.


"Eh! kenapa Sayang?", Jaka menepi dan menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Loh... kok berhenti? Kamu melamun ya? Bahaya banget sih...", Sarah menyisir rambut Jaka yang kering.


Jaka menelungkupkan wajahnya di atas kemudi.


"Ada apa? Apa ada masalah?", Sarah mencoba menenangkan Jaka. Masih ada dua jam perjalanan lagi. Dan mereka tengah berada di antara hutan-hutan.


Jaka membuka dashboard di hadapan Sarah. Ia meraih sekotak rokok dan pematiknya. Ia kemudian keluar tanpa memperdulikan panggilan Sarah.


Sarah agak kaget. Ia tidak pernah melihat Jaka merokok. Bahkan Jaka tidak tercium seperti perokok. Sarah mengatur nafasnya. Ia keluar mengikuti Jaka yang sedang bersandar di belakang mobilnya.


"Sarah? Masuklah. Kita akan jalan sebentar lagi", Jaka menghisap rokoknya dalam.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kita enggak kemana-mana kalau kamu tidak bilang ada apa!", Sarah melipat tangannya di depan dada.


Jaka lalu menjatuhkan rokoknya yang masih tersisa banyak ke atas aspal dan menginjaknya agar tidak meninggalkan api. Ia menyisir rambutnya kebelakang. Ia betul-betul bingung dan gelisah.


"Sayang!! Kamu jangan buat aku takut dong!! Kamu kenapa sih?", Sarah merasa seperti bukan menghadapi Jaka.


Disisi lain, Otak Jaka sedang dilanda kebingungan. Tepat setelah mereka keluar dari fery penyebrangan, Paul mengirimkan sebuah email padanya. Sebenarnya ia tidak ingin membukanya saat itu. Tapi ia terlalu penasaran.


Isinya adalah total kerugian yang di alami orang tua Sarah. Dan fakta kalau Sarah masuk ke AntiQ Jaya dengan bantuan seseorang.


Jaka membalikkan badannya. Ia tau sikapnya agak kelewatan.


Sarah tidak sanggup lagi menahan air matanya yang sudah siap meluncur. Kelakuan Jaka sukses membuatnya kecewa.


"Kalau kamu begini terus sebaiknya aku meneruskan perjalanan ini sendirian!!", Sarah sudah akan membuka bagasi mobil itu saat tangan Jaka menahannya.


"Jangan... Maaf. Aku ingin... tidak, aku harus mengatakan sesutu. Setelah itu, kita akan lanjutkan perjalanan ini kalau kau masih mengingikannya",


Kata-kata Jaka sukses membuat kening Sarah berkerut.


"Oke",


"Aku Jaka. Anak dari Ismail Wirawan Sanjaya. Ismail Wirawan. Orang yang membuat kalian bangkrut. Orang yang menghancurkan Perusahaan Ayahmu", Jaka melihat ketakutan Sarah dimatanya.

__ADS_1


Sarah berbalik. Bahunya bergetar. Ia menangis. Jaka bahkan tidak berani menenangkanya.


"Aku tauu...", jelas Sarah di sela tangisnya "Iya... aku tau... maka dari itu aku tidak ingin kau ikut...",


Jaka kaget mendengar penjelasan Sarah.


Ia tau? Artinya apa yang dikatakan bapak benar?


Jaka semakin bingung.


"Apa maksudnya tau? Sejak kapan?", Jaka meminta penjelasan.


"Sejak Pak Ismail mengumumkannya malam itu. Perjodohanmu dengan Debby... Saat ia marah-marah padamu. Saat kau menyuruh Paul mengantarku pulang... Aku menunggu-nunggu kapan kau memberi tahuku...",


Giliran dada Jaka yang terasa sesak. Ia tidak menyangka kalau Sarah mendengarnya. Pasti perasaannya saat itu sangat sakit.


"Aku berharap tidak pernah mendengarnya...", Sarah tarisak "Maaf karena tidak meninggalkanmu... Aku terlalu mencintaimu...", akhirnya kata-kata itu berhasil keluar dari mulut Sarah denga susah payah.


Jaka tidak pernah mendengar Sarah menangis seperti itu. Ia berusaha menenangkan Sarah. Di peluknya wanita itu dari belakang.


"Seharusnya kau meninggalkanku saat itu juga... bukankah keluargaku penyebab Pak Ismail merugi...", Sarah masih terisak.


"Aku minta maaf... Aku pikir kau akan menyerangku karena aku tau, bapak membuat keluargamu hancur... Kalian kehilangan banyak sekali...",


"Entahlah... aku tau tidak bisa menyalahkan satu pihak dari sudut pandangku saja. Aku berusaha mengubur masalah itu. Walaupun ayahku masih sangat berharap dengan perusahaannya, setidaknya aku dan adikku berusaha untuk menutupi kebutuhan kami... Berhasil sejauh ini...",


Jaka membuat Sarah berhadapan dengannya. Ia menghapus air mata yang tersisa di wajah mulus itu.


"Apa kau masih mencintaiku?", Jaka bertanya dengan penuh harap.


Sarah mengangguk. Ia menyusup kedalam pelukan Jaka. Ia terlalu mencintai Jaka.



__ADS_1



bersambung....


__ADS_2