Lay With The Devil

Lay With The Devil
Sepihak


__ADS_3

Sarah tidak bisa tidur. Paul bilang, Jaka akan mengunjunginya jika ia sudah pulang nanti. Bahkan ponsel Jaka tidak bisa dihubungi. Sarah menunggu Jaka dengan gusar. Perasaannya tidak enak.


Ting Tong...


Sarah bangkit dari sofanya. Ia hampir saja ketiduran tadi.


"Ya... aku datang", Sarah menyahut.


Jaka terlihat sangat lesu. Dengan segera Sarah membukakan pintu untuk pria itu.


"Hai... Apa semuanya baik-baik saja?",


Tapi bukannya menjawab pertanyaan Sarah, pria itu langsung memeluk Sarah.


Sejenak Sarah membiarkannya, ia lalu melepaskan pelukan Jaka dan menutup pintu.


"Apa kau mencintaiku?", Jaka menatap wajah Sarah. Ia baru menyadari kalau Sarah hanya mengenakan baju tidur tipis berwarna putih. Warna favoritnya.


"Kau tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Pak...", Sarah memberi tahu.


Jaka beranjak ke sofa putih yang terlihat nyaman. Sarah mengikutinya di belakang. Jaka terlihat sangat kusut. Sarah lalu membantu pria itu melepaskan jasnya dan melonggarkan dasi yang ia kenakan.


"Kau membuatku takut... Ada apa sebenarnya?", Sarah menggenggam tangan Jaka yang terasa dingin.


Jaka lalu tersenyum. Tapi semuanya berbeda. Dia terlihat lelah, terpaksa dan bingung.


Sarah maju dan memeluk Jaka. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi perilaku Jaka malam ini benar-benar membuatnya khawatir.


Jaka memijat-mijat keningnya. Sarah berpikir mungkin kekasihnya ingin langsung istirahat saja. Ia lalu beranjak masuk ke kamarnya mengambil sebuah bantal dan selimut. Di luar, gerimis sudah mulai turun. Cuaca malam ini akan sangat dingin.


Sarah meletakkan bantal di ujung sofa dan membimbing Jaka untuk berbaring. Dibukanya sepatu dan kaos kaki Jaka. Sarah lalu membukakan selimut untuk Jaka. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jaka juga tidak ingin membicarakannya. Apalagi Sarah tidak berhak memaksa orang itu untuk bicara.


"Istirahatlah... Aku ada di kamar jika bapak ingin bicara atau memerlukan sesuatu...",


"Apa kau mencintaiku?", Jaka berusara.

__ADS_1


"Yaa...", kening Sarah berkerut "I love you...".


Sarah meninggalkan Jaka. Orang itu perlu istirahat. Mungkin ada pertengkaran kecil di rumah keluarga Sanjaya.


Sejam yang lalu di rumah kel. Sanjaya


Para tamu undangan sudah pulang, tersisa Pak Maulana, Debby dan kedua orang tua Jaka. Ada juga Paul yang berada tak jauh dari Jaka.


"Apa maksud dari pengumuman Bapak tadi?", Jaka bertanya dengan serius. Disampingnya, nyonya Ningsih berusaha menenangkan emosi anaknya.


"Bapak tidak punya maksud apa-apa... Bukankah kalian sudah lumayan dekat? Lagipula, umurmu juga sudah tidak muda lagi... Sudah saatnya kau memiliki keluarga sendiri", Pak Ismail berusaha menjelaskan dengan sebaik mungkin.


"Iya... tapi Jaka tidak punya perasaan apa-apa dengan Debby... Kenapa bapak memutuskannya sendiri? Ini Jaka, Pak... Jaka yang akan menjalani rumah tangga Jaka. Bukan orang lain!!", suara Jaka sudah mulai meninggi.


Debby yang mendengar pernyataan Jaka merangkul erat lengan ayahnya. Pak Maulana mendengus marah. Ia tidak mengira akan menerima penolakan dari Jaka.


"Nak Jaka... Bagaimana kalau kalian jalani dulu hubungan ini... Kata orang, pacaran setelah menikah lebih mengasyikkan. Tapi jika kalian ingin bertunangan dulu, saya rasa Debby juga tidak akan keberatan...", Pak Maulana berusaha menghibur. Baginya, memiliki menantu pengusaha seperti Jaka akan sangat menguntungkan. Sebisa mungkin ini tidak akan melepaskan kesempatan itu.


"DIAM!! Aku tidak ingin bertemu lagi dengan kalian!", Jaka marah.


Sebenarnya dalam hati Nyonya Ningsih juga tidak ingin berbesan dengan Pak Maulana. Hanya saja, Ia menghormati keputusan suaminya untuk menjodohkan Jaka dengan Debby.


Bapak dan anak itu akhirnya pulang. Walaupun dengan perasaan kecewa, mereka masih berharap Jaka mau dijodohkan dengan Debby.


"Kenapa kamu begitu di hadapan tamu bapak? Apa kamu sudah lupa dengan adab yang Bapak ajarkan?", Pak Ismail duduk di sebuah sofa dan diikuti oleh istrinya.


"Bapak memutuskan hal sepenting itu tanpa berbicara dengan Jaka... Padahal bapak sendiri tahu, kalau Jaka tidak menyukai Debby dan sekarang Jaka sedang dekat dengan orang lain...",


"Wanita itu? Siapa namanya? Sarah? Kau tahu latar belakang keluarganya?", tanya Pak Ismail serius.


Mendengar pertanyaan itu, Jaka diam saja. Ia memang belum mengenal keluarga Sarah, tapi mereka sudah berencana untuk menemui keluarga Sarah dalam waktu dekat ini.


"Sudah Bapak duga... Bapak kasih tahu ya, namanya Sarah Ayuasmara Clay anak dari Arnold Clay orang yang sudah menipu bapak...",


Puas Pak Ismail menjelaskan tentang bisnisnya yang hancur dan siapa dalang dibalik semua itu. Lebih puas lagi, karena anaknya hanya diam saja dan meresapi kabar itu tanpa membantah sepatah kata pun.

__ADS_1


"Untuk apalagi dia bekerja di perusahaan Bapak kalau bukan untuk balas dendam? Bapak tidak menyesal karena sudah membekukan kan perusahaan itu sehingga tidak bisa melakukan operasi apa-apa. Memang uang segitu bukan apa-apa bagi Bapak. Tapi kepercayaan yang Bapak berikan sudah mereka sia-siakan...",


Nyonya Ningsih juga baru mendengar masalah yang sebenarnya. Ia hanya bisa mengelus dada. Mungkin suaminya benar kalau anak itu bekerja di perusahaan mereka dengan tujuan tertentu. Tetapi mungkin juga suaminya salah karena Ia mengungkapkan opini itu tanpa bukti apa-apa.


Jaka yang masih berdiri terlihat syok.


"Paul, tolong kau antar Jaka ke atas... Dia perlu istirahat...", nyonya Ningsih memerintahkan kan asisten anaknya itu.


"Tidak Bu, aku akan pulang ke rumahku sendiri. Aku perlu memikirkan ini sendirian",


Jaka meninggalkan kedua orang tuanya dengan Paul yang berjalan tepat di belakangnya.


Ini gila...


°°°


Sarah baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan wajah dan mencuci kaki tangannya, saat suara ketukan di pintu kamarnya terdengar.


Pintu itu terbuka dan Jaka masuk dengan langkah sempoyongan. Ia duduk di tepi tempat tidur Sarah.


"Kalau aku jatuh miskin Apa kau masih akan ada bersamaku?", Jaka memikirkan kemungkinan terburuk Jika ia masih ngotot untuk bersama dengan Sarah.


Sarah menghela nafas panjang. Ia lalu naik ke tempat tidurnya dan menyentuh tengkuk Jaka yang dingin.


"Aku menyukai bapak sejak pertama melihat Bapak di kantor. Sejak saat itu aku hanya bisa bermimpi untuk menjadi kekasih bapak. Rasanya aku mencintai Bapak bukan karena harta. Tapi karena Bapak lah yang berhasil menyelamatkan hidupku... Dan karena bapak terlalu menawan...", Sarah menjelaskan.


"Kalau bukan bapak, mungkin aku sudah berada di negeri antah berantah dan menjadi simpanan orang jahat disana...", Sarah menambahkan.


Sarah memeluk Jaka dari belakang. Ia bersyukur laki-laki itu akhirnya mau bicara dengannya.




__ADS_1


bersambung....


__ADS_2