Lay With The Devil

Lay With The Devil
Negosiasi


__ADS_3

Sudah setengah jam Jaka menunggu di dalam mobil. Kakinya sudah sangat gatal ingin masuk dan memukul wajah abangnya itu. Tapi ia tahu risiko apa yang akan ia terima. Maka dari itu, ia masih menunggu beberapa temannya dari kepolisian untuk membantunya menjemput Sarah.


"Padahal sudah tanda tangan kontrak denganku. Tapi masih berani berulah... Mungkin sudah saatnya Bapak tau apa yang ia lakukan disini...", Jaka geram.


Jaka akhirnya keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu depan. Ia tidak bisa lagi menunggu terlalu lama. Ia mengenakan kaca mata dan kumis palsu. Masuk sebagai Jaka, pasti langsung di usir oleh bodyguard yang sedang berjaga di depan.


°°°


Jaka sudah memesan dua gelas vodka. Ia ingin meminumnya, tapi tujuannya kemari bukan itu. Matanya berkeliling mencari keberadaan Sarah.


Tidak ada... Mungkin ia di sekap, bukan dipekerjakan. Sial!! Kemana mereka...


°°°


Sarah berdiri menjauh. Ia tidak yakin. Tapi menurutnya orang di hadapannya ini adalah Mr. Black.


"Hai, Sarah... Bagaimana kabarmu?",


"Kau orang Indonesia? Apa aku kenal kau?", tanya Sarah kaget.


"Kau tidak kenal aku. Tapi aku tau kau... Gimana ya, kau tidak cocok bekerja disini... Dan beruntungnya aku, sudah ada pelangganku yang berani membayar sangat mahal untuk gadis blasteran seperti mu... Tapi tunggu dulu, kau masih perawan kan? Atau... Jaka sudah mendapatkan keinginannya denganmu?? Hargamu akan naik jika kau masih... ", orang itu berusaha menggoda Sarah.


Wajah Sarah memerah.


Bagaiman ia tau Jaka. Siapa orang ini.... Jangan-jangan...


Sarah melemparkan bantal yang ia pegang.


"Brengsek!! Biarin aku pergi! Dasar manusia sampah!!",


"Yes. I know it. Kalian semua memang cuma liat aku dari sisi ini saja. Aku yang gak guna, aku yang sampah. Tapi, kalian gak tau betapa bersusah payahnya aku mendirikan kerajaan ini...",


"Kerajaan sampah!?" tambah Sarah. Ia sudah terlanjur emosi. Mendengarkan curhatan orang ini bukan salah satu keinginannya.


"Hmmmm, mulut mu tajam nona. Sebaiknya kau jadi gadis penurut... kudengar Tuan barumu nanti memiliki perangai yang kurang baik... Ia suka main kasar...", akhir Mr. Black atau Indra. Ia langsung keluar dan mengunci pintu ruangan itu. Satu-satunya jalan keluar dari kamar ini.


Sarah melepaskan jaketnya. Ia lalu merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Ia menggeliat. Ia lelah.

__ADS_1


Baru saja ia ingin memejamkan mata saat tiba-tiba sesuatu terlintas di fikirannya. Dengan cepat ia bangkit dan bergidik jijik.


"Iiieeewwhh... Astaga... astaga... jijik banget!!", sebenarnya tidak ada apa-apa disana. Sarah hanya berfikiran terlalu jauh.


°°°


Jaka meninggalkan mejanya dengan dua gelas minuman yang telah kosong. Ia berjalan santai menuju toilet. Ia sangat berharap tau dimana Sarah.


Berkali-kali ia mengecek jam tangannya. Dan teman-temannya masih belum tiba. Ia agak jengkel.


°°°


Sarah tidak ingin makan dan tidak ingin berbaring. Ia kemudian menggedor-gedor pintu.


"Buka!! Buka... Buka... Open... Open the door... Damn!! Mr. Black, open the damn door!!", Sarah berteriak-teriak tidak karuan. Ia sadar kalau musik diluar semakin nyaring.


Dasar bodoh!!


°°°


Ia keluar dari toilet dan berjalan ke arah berlawanan. Ia tidak tau ada apa di belakang sini. Ia hanya berharap Sarah terus berteriak dan ia bisa mendengarnya. Lagipula ini klub malam, bukan tempat karoke. Dindingnya tidak mungkin kedap suara.


°°°


Sarah lelah. Ia duduk bersandar di pintu kamarnya. Ia berharap Pak Jaka menolongnya. Walaupun rasanya agak mustahil... Bagaimanapun Pak Jaka tidak tau apa-apa tentang kedatangannya kesini. Bagaimana bisa ia berharap ditolong oleh orang itu...


Andai saja Margo tidak mengabil ponselnya...


Sarah kemudian bangkit dan mulai menggeledah tempat itu. Tapi tidak ada apa-apa. Kamar itu hanya terdiri dari sebuah spring bed, sofa, meja kaca, lemari kosong dan TV yang hanya menampilkan layar biru. Lampu ruangan yang redup membuat matanya sakit.


Dasar klub miskin!! Sarah muak.


Sarah berbaring di lantai. Saat itulah ia melihat langkah kaki seseorang melalui celah di bawah pintu. Sarah tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Mungkin tamu. Kalaupun Mr. Black juga, memangnya kenapa...


"Help!! Someone help me!! they lock me down...",


"Sarah?!", tanya suara yang dipastikan Sarah sebagai orang yang ia kenal. Jaka.

__ADS_1


"Pak Jaka? Syukurlah... saya fikir saya akan dijual... Tolong keluarkan saya Pak...", Sarah memohon.


Tapi, saat itu juga Sarah mendengar suara keributan di luar. Sepertinya Jaka mendapat masalah.


°°°


Jaka tau dirinya bisa bela diri. Tapi untuk menghadapi tujuh orang sendirian ia pasti akan kewalahan.


"Kalian beraninya keroyokan ya... Oke...", jelas Jaka. Sebenarnya ia mengulur waktu.


"Dimana bos kalian? Aku akan menutup tempat ini. Dan jika aku jadi kalian, aku tidak ingin bekerja dengan orang yang akan bangkrut...",


Beberapa dari mereka terlihat ragu. Tentu saja mereka semua memerlukan uang, dan sepertinya hal itulah yang dimanfaatkan oleh Jaka.


"Kalian dengar ya... Aku Jaka Sanjaya. Anak dari Bapak Ismail Sanjaya. Itu artinya adik dari bos kalian. Dan sejujurnya, bos kalian itu bangkrut. Kalau kalian memihak padanya, kalian hanya akan di tangkap polisi karena aku sudah mengundang mereka datang kesini. Tapi kalau kalian berfikir dan melepaskan ku dan wanita di dalam sana, kalian akan bebas dan kami hanya akan menangkap bos kalian atas tuduhan penculikan dan penjualan manusia. Bagaimana?", Jaka menawarkan penawaran terbaiknya. Kalau masih ada dari mereka yang menyerang, mau tidak mau ia maju.


Seorang dari mereka lari. Jaka mengenalinya sebagai Margo. Ternyata nyalinya sangat kecil. Kemungkinan besar Margo akan mengadu pada Indra. Tapi ia tidak peduli. Yang penting ia membawa Sarah pulang.


Seseorang kemudian membuka pintu kamar yang mengurung Sarah dengan menggunakan sebuah kartu yang dimilikinya.


"Mungkin kau benar. Bos kami sudah mulai bangkrut. Gaji kami sudah digantung selama dua bulan. Kami akan menemuimu lagi untuk menagih janjimu. Sekarang, biarkan kami kembali berkerja dan pergilah dengan wanitamu itu. Dia sangat berisik",


"Ya, kerja di klub malam memang legal, tapi menjadi bagian dari penculikan dan penjualan manusia bukan bagian dari pekerjaan kami...", jawab seorang lagi.


Sarah yang menyaksikkan percakapan itu hanya bisa melongo. Ia sempat berfikir kalau Pak Jaka akan berkelahi. Tapi ternyata kemampuan bernegosiasinya sangat hebat.


Jaka meraih tangan Sarah dan membawanya pergi dari tempat itu.


"Mr. Black itu Indra Sanjaya? Apa maksudnya itu?!", Sarah bingung dan marah pada saat yang bersamaan.





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2