
Jaka duduk di samping Sarah. Disebelahnya lagi ada ayahnya Sarah.
"Jadi, dimana kalian bertemu?" Ibunya Sarah masih penasaran dengan Jaka.
"Emm... waktu saya bekerja di AntiQ Jaya... tapi sekarang sudah tidak..." Jaka berkata jujur.
Sarah melirik laki-laki itu.
Aku penasaran kapan ia akan bicara...
Sarah menyuap nasi nya.
※※※
Jaka sedang istirahat di kamar tamu yang jarang digunakan. Letaknya paling dekat dengan ruang tamu.
Sarah sendiri sedang ngobrol dengan ayahnya di kamar Sarah, di basement.
"Jadi... apa maksudmu membawanya pulang dan mengumumkan kalau kalian pacaran?"
"Kami memang pacaran ayah. Ia bahkan sudah melamarku," Sarah tersenyum sendiri membayangkan cara Jaka melamarnya.
"Sarah! Kamu tidak lupa kan, siapa dia?" Pak Arnold masih mempermasalahkan hal itu.
"Sarah tidak lupa, yah. Sarah tau siapa dia. Tapi... Dia begitu baik dengan Sarah. Ayah tau, kalau tidak ada dia, mungkin Sarah sudah tidak bisa bertemu lagi dengan keluarga ini... Dia yang menyelamatkan Sarah, yah... Apa tidak bisa, masalah itu dilupakan saja??"
tok tok tok...
Ibu Mutia masuk membawa dua gelas limun. Ia lalu ikut nimbrung dengan percakapan itu.
"Ayahmu mau bilang kalau ia akan melupakan masalah itu. Saatnya kau melanjutkan hidupmu sendiri... Lupakan balas dendam, dan hak yang telah direbut. Sudahlah. Kita bisa bertahan tanpa itu semua..." Ibunya memberi tau keinginan suaminya -tadinya- sebelum mereka datang.
Sarah memeluk ibunya. Ia tau ibunya memang yang terbaik.
"Asal kalian tau, ayah masih tidak percaya kalau ia memilihmu tanpa alasan lain. Jangan-jangan Pak Ismail juga menyuruhnya untuk menghancurkan keluarga kita..."
"Ayah terlalu jauh berfikir seperti itu. Aku bersama nya selama ini, aku tau kalau ia tidak mungkin begitu. Please stop it!"
Sarah kembali memeluk ibunya. Ayahnya keluar dengan segelas limun di tangan. Ia malas berdebat dengan komplotan itu.
Sarah memang keras kepala... Pak Arnold geleng-geleng kepala.
※※※
__ADS_1
Sarah duduk di taman bersama Jaka. Mereka baru saja selesai makan malam. Sarah lalu mengajak Jaka untuk melihat taman ibunya yang sangat indah.
"Kau tidak bohong. Pemandangam di sini sangat indah..." Jaka memandang Sarah yang asik mencium bunga-bunga di sampingnya.
"Benar kan... "
"Sayang... Apa aku boleh bertanya?" Jaka mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja boleh. Apa itu?"
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Hah? Apa maksudnya? Kau yang ingin bertanya," Sarah sedikit khawatir.
"Apa benar kau mengenalku sejak pertama kau tau kalau aku Jaka?" Jaka memandang langit malam tanpa bintang.
Sarah diam. Ia mengalihkan pandangannya. Ia tidak lagi memandangi bunga yang ia dan ibunya tanam dulu.
"Aku terlalu takut mengakuinya. Tapi kurasa kamu lebih tau daripada diriku sendiri..."
"Aku bersyukur karena aku bukan pendendam. Lagipula, bisnis bapakku bukan hanya itu, kami juga tidak lantas jatuh miskin... Kalian yang lebih merugi. Jadi, apa kita benar-benar bisa menjalani hubungan ini dengan baik?" Jaka menjelaskan pemikirannya.
Sarah menitikkan air matanya. Mungkin Jaka memang pilihan yang paling tepat.
Sarah menyusup kedalam pelukan Jaka.
"Apa kau punya trik khusus agar aku bisa mendekati ayahmu?"
Sarah melepaskan pelukannya. Ia mengingat-ingat lagi.
Tidak ada. Ayah terlalu keras kepala.
"Kau tau, ayah suka di tantang..." suara itu sukses mengagetkan Jaka dan Sarah. Mereka berbalik dan menemukan Axel yang sedang memainkan ponselnya.
Axel lalu bergabung dengan sepasang kekasih itu. Ia duduk di antara mereka.
"Hai. Kita belum berkenalan dengan resmi. Namaku Axel. Adik Kak Sarah yang paling ia sayangi..."
"Aku Jaka Sanjaya. Laki-laki yang sudah melamar kakakmu. Dan berharap bisa menikahinya..." Jaka menjabat tangan Axel.
"Jadi kalian sudah mantap sekali ingin menikah? Memangnya selain punya cinta dan harta orang tua, kamu punya apa?" Axel mengintrogasi Jaka.
Kata-kata Axel sukses membuat Sarah menjitak kepala adiknya itu. Ia tidak tahan dengan kelakuan adiknya yang sok paling dewasa.
__ADS_1
"Ehem... Apa yaa... kalau sebuah perusahaan yang sedang berkembang dan Investasi di bursa saham, cukup?" Jaka ikut menyombong.
"Lumayan... Baiklah, karena kamu cukup keren, aku akan memberi tau cara jitu mengalahkan Ayah. Tau kan kalau ia keras kepala? Ia paling tidak tahan di tantang. Pasti akan masuk kedalam jebakan..."
"Beneran ni anak... Ngomong apa sih? Ini ayah. Bukan beruang yang mau di jebak..." Sarah geram.
Sudah duduknya main nyelip aja
"Kakak-kakak... Makanya jangan main terlalu jauh... Watak Ayah sendiri gak paham..."
Sarah manyun mendengar kata-kata adiknya itu. Ia memang lebih dekat dengan ibunya selama ini.
"Baiklah, beri tahu aku. Kalau kata-katamu berhasil dibuktikan dan aku berhasil menikahi kakakmu, aku akan menukar mobilmu dengan model yang kau impikan. Bagaimana?" Jaka mencoba memancing Axel.
"Sayaaang... Apa sih... Gak usah kayak gitu... Anak ini gak usah di ladenin..." Sarah tidak menyangka adiknya punya otak marketing yang terlalu encer.
"Sini aku bisikin...", Axel menarik bahu Jaka. Ia bahkan tidak membiarkan Sarah mendengarnya.
Sarah yang berusaha maju dihalangi oleh tangan Jaka dan Axel secara bersamaan. Ia akhirnya memilih untuk masuk dan meninggalkan kedua laki-laki itu dengan urusannya sendiri. Ia mengantuk dan moodnya sedang tidak bagus karena period nya datang lebih awal.
※※※
Di Sebuah Hotel di Kota
Sepasang laki-laki dan perempuan dengan perbedaan usia terlampau jauh itu sedang makan malam dengan hidangan yang sangat mewah. Si laki-laki sesekali menggoda beberapa wanita yang melewati mereka.
"Dari sekian banyak orang, anda meminta pertolongan saya. Memangnya ada hal penting apa, hingga seorang Indra Sanjaya pulang ke Indonesia dan menjamu saya seperti ini?" perempuan itu meneguk limunnya.
"Karena yang ku dengar, kau tidak diterima oleh calon suamimu sendiri... Menyedihkan bukan?" Indra Sanjaya memainkan wine di gelasnya.
Debby merasa geram. Diletakkannya kembali sendok yang baru saja ia pegang.
"Apa mau mu?!" Debby terlihat tidak tenang. Ia tidak sabar ingin pergi dari tempat itu.
"Relax. Aku hanya ingin adikku hancur. Kalau aku menghancurkan perusahaannya, kurasa itu terlalu mudah. Tidak akan berdampak apa-apa. Ia masih punya Bapak yang akan membelanya. Jadi... aku ingin menghancurkan hidupnya dari dalam..."
"Kau jahat. Dia kan, adikmu?" Debby merasa ngeri dengan orang itu.
"Jangan munafik, dengan begitu kau juga akan menerima keuntungan, bukan?"
♡
♡
__ADS_1
♡
bersambung...