Lay With The Devil

Lay With The Devil
Apakah Ibu Merestui?


__ADS_3


Sarah menatap sebuah frame foto berukuran besar dengan foto mereka disana. Kata Jaka, foto candid yang di ambil Axel lumayan keren. Ia lalu membawanya ke percetakan foto untuk mencetaknya. Dan Jaka mencetaknya besar sekali.


Bukankah ini terlalu berlebihan...


Sarah baru saja ditinggalkan oleh dua orang yang di panggil Jaka untuk memasangnya.


Selama lima menit Sarah berdiri saja disana mengamati foto itu.


Lama-kelamaan seperti bukan aku. Make up Sandra luar biasa...


Sarah kemudian meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya. Ada dua panggilan tak terjawab dari Jaka. Ia menghubunginya kembali.


Ini Suamiku 😍


📞 Hallo...


📞 Hai sayang... apa kau sibuk? Sudah makan siang?


📞 Belum... Aku baru saja delivery. Mungkin sebentar lagi datang...


📞 Baiklah...


📞 Ada apa? Tumben jam kerja menghibungiku... Kau kangen ya...


📞 Aku selalu kangen padamu sayang. Aku menghubungimu agar kau bersiap. Nanti malam kita makan diluar.


📞 Berdua? Sayang... apa kau tidak lelah... Makan di rumah saja ya...


📞 Oke... Tapi aku bawa tamu...


📞 Benarkah? Siapa?


📞 Ibu


Jaka menikmati keterkejutan Sarah. Walaupun akhirnya mereka tetap makan malam dirumah, Jaka sudah memesan beberapa jenis makanan dari restoran favorite nya.


※※※


Sarah merapikan baju yang dikenakan suaminya. Ia juga berpakaian simple namun tetap elegan. Ia tidak ingin terlihat buruk di mata ibu mertuanya.


Tadi siang, Sarah hampir menangis karena Jaka ngotot kalau ibunya tidak akan marah kepada mereka. Tapi tetap saja ia takut. Takut kalau ibu mertuanya merasa tidak di anggap.


Jaka berhasil meyakinkan Sarah kalau ibunya tidak seperti itu.


"Apa kau baik-baik saja?" Jaka memeluk Sarah.


"Baik... Jauh sana... kau berbahaya jika terlalu dekat..." Sarah mendorong dada bidang Jaka. Laki-laki itu mundur.


Tepat setelahnya, bel pintu rumah mereka berbunyi.


"Ibu datang..." Sarah berbisik.


Jaka beranjak membuka pintu. Benar saja, sudah ada Ibu Ningsih dan Paul di belakangnya.


Paul tidak nampak terkejut dengan keberadaan Sarah di samping Jaka. Tapi tidak begitu dengan Ibu Ningsih. Wanita itu nampak sekali terkejut. Tapi ia tidak berkomentar sepatah katapun.

__ADS_1


Jaka masuk mengikuti ibunya.


Sarah sendiri masih berdiri di depan pintu.


"Apa kau tidak masuk?" tanya Sarah pada Paul.


"Aku tidak mengira kalian benar-benar menikah secepat ini. Aku pikir hanya perasaanku saja..."


"Itu... Yah... Lain kali kami akan ceritakan. Tolong doakan aku tidak jadi janda malam ini juga..."


Paul tersenyum. Ia lalu menepuk lengan kiri Sarah.


"Aku lumayan yakin kalau nyonya Ningsih ada dipihak kalian..."


"Terima kasih..."


※※※


Mereka menikmati berbagai sajian yang ada di atas meja.



Chines food seperti yang ibunya suka.


"Maaf jika hanya seperti ini..." Sarah sudah duduk di samping Jaka. Di depannya, ibu mertuanya masih tidak berkata apa-apa.


Sarah menyenggol kaki suaminya.


"Bu, Jaka dan Sarah mau minta maaf sebelumnya..."


"Karena melawan perintah bapakmu atau karena menikah tanpa sepengetahuan kami?" Ibu Ningsih to the point.


"Apa ibu marah?" Jaka mengerutkan keningnya.


"Lebih ke arah kecewa. Bagaimana bisa di hari sepenting itu kalian tidak mengajak ibu. Tapi ibu cukup maklum mengingat situasinya. Bapakmu sendiri tidak akan menyetujuinya..." Ibu Ningsih menjelaskan.


"Ibu sendiri, apakah merestui kami?" Jaka penasaran walaupun ia tau ibuya selalu memihaknya.


Ibu Ningsih mengangguk dan tersenyum. Sarah bernafas lega.


"Saya minta maaf karena harus seperti ini..." Sarah mencoba bicara.


"Apa Sarah hamil? Jaka!?" tanya Ibu Ningsih setengah penasaran setengah marah.


Pertanyaan itu sukses membuat Sarah tersedak minumannya.


"Sayang! Tidak apa-apa?" Jaka menepuk-nepuk punggung istrinya pelan.


Sarah tersenyum.


"Tidak bu... Ia bahkan sedang datang bulan saat kita menikah..." Jaka menjelaskan. Sarah menyenggol kaki Jaka lagi.


Suaminya terlalu jujur.


Ibu Ningsih tertawa mendengar penjelasan Jaka.


Makan malam itu berlangsung santai. Sarah senang karena ternyata sifat ibu mertuanya yang dulu sangat baik padanya, tidak berubah.

__ADS_1


"Sayang, kau dan suamimu harus segera memberikan Ibu cucu. Cuma Jaka yang belum memberikan kami cucu. Kau tau kan..." Ibu mertuanya menerangkan. Mungkin ia tidak mengingat seorang Indra Sanjaya.


Sarah tersenyum malu.


※※※


Mereka bertiga sedang duduk santai di ruang tamu. Ibu mertua Sarah masih terus memandangi foto mereka yang baru di pasang tadi siang.


Sepertinya Jaka sengaja membuat foto itu sedemikian besar...


Sarah melamun.


Ibu Ningsih kemudian duduk di samping Sarah.


"Bagaimana reaksi Ayahmu saat Jaka datang ke sana?" rupanya ibu Ningsih lumayan kepo dengan kisah mereka.


"Ya... awalnya ayah menentang, tapi saat tau calon mantunya sangat serius, ia mengajukan permintaan itu..." Sarah enggan menyebutkan kalau pernikahan itu sebuah syarat.


"Jaka terlalu nekat, nak... Apa kau tidak takut ayahmu murka?"


"Mengenai itu, bu... Jaka mau menanyakan sesuatu..."


Jaka mengeluarkan ponselnya dan membuka kotak masuk yang dikirimkan Tobias tadi siang.


Ibu Ningsih hanya geleng-geleng kepala saat membacanya.


"Ibu yakin sekali kalau itu bukan ayahmu... Walaupun dia menantang kalian, tapi dia tidak akan membawa masalah pribadi ke dalam hal seperti itu." Ibu Ningsih mengembalikan ponsel Jaka.


Sarah sendiri juga sudah membaca pesan itu sepulangnya Jaka dari kantor tadi.


"Bagaimana dengan Pak Maulana?" tanya Jaka mengingat orang itu. Anaknya sendiri masih bertahan di perusahaannya.


"Dia tidak akan berani," Ibu Ningsih sangat yakin.


Jaka lalu mengirimkan pesan itu pada ibunya. Ibu Ningsih akan menanyakannya langsung pada suaminya. Sudah saatnya ia maju dan membela anak serta menantunya. Kalau orang tua Sarah saja bisa melupakan masalah mereka, bagaimana mungkin suaminya tidak?


Ibu Ningsih memeluk Sarah begitu lama. Ia akan pulang dengan supirnya -Yono- yang sudah menjemput.


"Mana cincin kawin kalian?" tanya Ibu Ningsih saat pelukannya lepas "Apa Jaka sudah semiskin itu untuk memberimu cincin kawin?" ibu Ningsih terlihat mengerutkan keningnya.


"Ibu..." Jaka protes.


"Ah, itu... ada di kamar. Tadi pagi saya memintanya untuk dilepas saja. Takut jadi pertanyaan orang-orang. Kalau punya Sarah... agak longgar. Hampir hilang saat mencuci piring tadi..." Sarah berusaha menjelaskan.


"Baiklah... Sarah jangan sungkan bilang ke ibu kalau Jaka macam-macam padamu. Sudah bagus ia mendapatkanmu, daripada anak manja yang di pilihkan bapaknya..."


Sarah mengangguk. Sepasang suami istri itu kemudian mengantar ibu mereka sampai kedepan mobil jemputan.


Hanya ada perasaan lega yang mereka rasakan saat ini.





bersambung...

__ADS_1


Images: Google Search ✌


__ADS_2