Lay With The Devil

Lay With The Devil
Bertemu Orang Brengsek


__ADS_3

Jaka menyuruh agar Paul segera melepas penyamarannya. Ia tidak ingin Sarah banyak bertanya tentang kenalnya ia dengan Pak Samsul.


Tanpa banyak basa-basi lagi Jaka menjalankan mobilnya. Sedangkan Paul sendiri sedang mengganti kemejanya di bangku belakang.


Jarak antara tempat ia parkir dan rumahnya memang tidak jauh. Hanya lima menit saja mereka sudah sampai di depan apartemen Jaka.


"Bapak yakin dia tidak mengenali saya?", tanya Paul agak ragu.


"Tenanglah. Ia sedang tidak fokus saat ini...", jelas Jaka sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Tidak sampai lima menit mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Jaka. Baru sekali Jaka menekan bel rumahnya sendiri, Sarah sudah membukakannya.


"Hai Pak... Ini...", Sarah menyodorkan kartu sakti yang diberikan Jaka tadi.


Jaka menerimanya tanpa pertanyaan. Ia kemudian masuk dan langsung duduk di kursi malas miliknya.


"Apa ada masalah?", tanya Jaka sambil mengamati Sarah yang sudah menggendong tas ranselnya.


"Abang ipar saya menelpon... katanya kakak ribut dengannya karena saya pergi. Jadi ia menyuruh saya pulang", jelas Sarah. Sesekali ia mengamati orang yang tadi datang bersama Pak Jaka.


"Ini Paul. Asisten saya. Apakah mau saya antar saja? Kebetulan saya tidak sedang sibuk",


"Saya merepotkan. Sebaiknya saya pesan ojek online saja...",


Jaka kemudian mengamati jam ditangannya.


"Sudah hampir jam dua belas malam. Walaupun ojek online, tetap saja berbahaya untuk gadis dengan baju tidur seperti itu", jelas Jaka tanpa melihat lawan bicaranya.


"Saya cukup dewasa, Pak... Terima kasih atas perhatiannya...", jelas Sarah yang kemudian berbalik dan keluar dari apartemen Jaka.


Ia sudah memesan Starjek yang biasa ia gunakan. Tidak sampai lima menit ojol itu tiba. Sarah memperhatikkan plat nomor kendaraan yang di kendarainya.


"Plat nya beda ya, Pak?", Sarah basa-basi.


Ojol itu diam saja. Ia malah memperhatikkan Sarah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Keningnya berkerut.


"Sesuai aplikasi ya mbak?", tanya orang itu tanpa menjawab pertanyaan Sarah.


"Emmm... Ini beneran dengan Pak Ramos bukan? Maskernya boleh dibuka?", tanya Sarah lagi. Ia mau mundur, tapi ia takut orang ini marah-marah. Mana ia berani.


Ojol itu diam saja. Ia kemudian mengamati keadaan sekitar yang membuat Sarah mundur selangkah.


Sarah sudah ingin berbalik dan kembali ke apartemen Pak Jaka. Ia menyesal menolak tawaran orang itu.

__ADS_1


"Jadi tidak, mbak?", tanya ojol itu lagi.


Saat itulah Sarah merasa lengannya di tarik oleh seseorang.


"Sayang, Ini sudah larut... Sebaiknya besok saja kita cari...- Maaf Pak. Istri saya nekat mau mencari kucing kami yang kabur... Kami cancel saja ya Pak...", jelas Jaka yang menikmati perannya kali ini. Ia agak senang melihat kebingungan dimata Sarah.


"Wah... rugi dong saya. Ya sudahlah...",


"Eh, ini Pak. Maaf ya Pak...", jelas Jaka sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.


Jaka sadar Sarah memperhatikkannya dengan bingung.


Ojol itu beranjak. Sarah kemudian memperhatikan Jaka bingung.


"Buat apa dibayar sih Pak? Udah gak sopan juga...",


"Justru itu. Jaga-jaga supaya gak jadi gosip",


"Jadi, anda jadi pulang atau gimana?", tanya Paul yang dari tadi menunggu di samping pintu loby.


°°°


Sarah turun dari mobil Jaka dengan malas. Ia sudah tau keributan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekilas ia melihat jam tangan yang diberikan kakaknya beberapa bulan lalu saat ulang tahun kakaknya itu.


"Mau kami antar sampai depan?", tanya Paul.


Jaka ingin sekali ikut masuk dan melihat ipar wanita itu yang membuatnya sangat tidak nyaman. Ia sendiri sangat sayang dengan adik kakaknya. Iparnya juga sangat menghormatinya.


Paul memutar jalan agak jauh.


Jaka masih terus mengamati langkah tergesa Sarah. Ia heran, mengapa mudah sekali membuat wanita ini menyerah? Hanya sekali telfon dan ia langsung kembali.


Jaka melirik sekilas ke arah apartemen yang di tinggali Sarah dan keluarga kakaknya. Tipe yang lumayan besar. Walau tidak sebesar miliknya, tapi tipe seperti itu memiliki lebih banyak kamar.


Jaka pernah mensurvey beberapa apartemen yang ada di lokasi ini, sebelum akhirnya apartemen kakaknya lah yang ia tempati.


"Pak, anda baik-baik saja?", tanya Paul yang melihat bos nya melamun.


"Nothing. Hanya saja wanita ini seperti magnet... banyak sekali masalah memutarinya...", jelas Jaka sambil kembali


mengecek ponselnya.


°°°

__ADS_1


Usman masuk ke ruang Pak Alfandi dengan membawa sebuah surat di tangannya. Surat itu dari Bapaknya.


"Hmmmm... Saya bingung. Anda ini siapa sih? Bagaimana bisa Pak Usman mengeluarkan surat seperti ini. Biasanya beliau tidak memusingkan hal begini...",


"Bagaimana Pak??", Jaka menyipitkan matanya.


"Ah, tidak. Karena sudah seperti ini, Saya permisi dulu...", jelas Pak Alfandi sambil meraih ponselnya dan beranjak. Jaka tidak peduli. Ia harus cepat bergegas.


°°°


Sarah setengah kaget saat menemukan Pak Usman di kursi Pak Alfandi. Ia kemudian meletakkan berkas yang diminta Pak Alfandi kemarin.


"Maaf Pak, Apa yang anda lakukan di sini? dimana Pak Alfandi saat ini?",


"Oh maaf, Saya kurang tahu. Mungkin beliau sudah pulang atau ada di kantin. Maaf saya kurang sopan... tapi tugas dari Pak Ibrahim membuat kepala saya sangat pusing...",


"Baiklah Pak... Saya permisi... Apa anda perlu sesuatu?",


"Hmmmm... tidak ada. Sebentar lagi saya selesai. Terima kasih karena bertanya...", jelas Pak Usman tanpa memperhatikkan lawan bicaranya.


Sarah keluar. Ia membawa kembali berkas yang tadi ia antar.


Jaka mengamati kembali layar laptop Pak Alfandi.


Semuanya normal dari sini. Tidak ada berkas yang terkunci. Lebih baik ku sambungkan ke laptop Paul agar ia bisa melacaknya lebih dalam...


"Permisi Pak..."


"Hmmm ya... Mbak Sarah. Apa ada yang tertinggal?",


Sarah menggeleng. Ia kemudian meletakkan segelas kopi esspreso ke hadapan Pak Usman.


"Biasanya itu milik Pak Alfandi...", jelas Sarah singkat. Ia kemudian keluar.


Jaka begitu sibuk. Ia meneguk kopi tadi. Pemiliknya tidak disini, dan kopi itu lumayan menggoda indra penciumannya.


Jaka kembali menatap layar laptop. Tapi matanya terlalu berat. Ia mengantuk.


Damn!!!



__ADS_1



bersambung....


__ADS_2