Lay With The Devil

Lay With The Devil
Jalan-Jalan Malam


__ADS_3

Sarah seharusnya tidur karena ini sudah jam satu malam. Tapi matanya terlalu segar. Ia sudah banyak tidur di pesawat. Ia khawatir besok tidak bisa bangun lebih pagi. Bukankah ia akan pergi dengan Jaka menemui Pak Ibrahim?


Sarah meraih ponselnya. Ia membuka satu pesan yang baru masuk. Dari Jaka.


📩Aku yakin kau belum tidur, karena aku juga tidak bisa tidur. Keluarlah, aku di depan


Kening Sarah mengerut.


What? Semalam ini? Ini mulai menakutkan...


Sarah senyum-senyum sendiri.


Ia membawa ponselnya dan bergegas keluar.


Setengah berlari Sarah menghampiri mobil Jaka.


Jaka membuka kaca mobilnya.


"Mau keliling-keliling?", tanya Jaka tersenyum.


Oke, pasti ada sesuatu. Ia tidak pernah senyum seperti itu padaku...


"Ini larut malam, Pak...",


"Kita kan sudah melewati malam yang pajang di pesawat. Dan aku masih belum mengantuk. Ayolah... ada yang ingin ku perlihatkan...", Jaka membujuk.


Oke. Setauku orang ini tidak pernah membujuk. Ia memerintah...


Sarah memutar dan masuk ke kursi penumpang. BMW bertipe convertible itu sudah beberapa kali Sarah tumpangi.


Jaka menjalankan mobilnya. Lagi-lagi. Wanita itu hanya mengenakan baju tidur. Hanya saja kali ini berlengan panjang.



Jaka berusaha fokus dengan jalan dihadapannya. Walaupun ia tau, wanita di sebelahnya lebih menarik.


Seharusnya aku menyuruhnya ganti baju... tapi, ia lebih menarik begitu...


Pikiran Jaka saling berargumen.


"Kemana kita?", Sarah melipat tangan di depan dada.


Jaka menurunkan suhu AC, walaupun ia sendiri merasa gerah.


"Melihat sesuatu... Tempat favoritku. Sudah lama aku tidak kesana...", Jaka menjelaskan.


Sarah tidak tau ada tempat yang bisa membuat Jaka seperti saat ini.

__ADS_1


※※※


Setengah jam perjalanan, mereka akhirnya sampai. Jaka membuka atap mobilnya dan mematikan mesin mobil.


Setelah melewati sebuah rumah besar yang terlihat suram dan sebuah jalan kecil yang rapi, mereka tiba di tepi pantai.


Sarah terlihat sangat kagum. Apalagi saat itu langit sangat cerah dengan ribuan bintang terhampar. Tidak apa penerangan apa-apa selain cahaya bulan.


"Cantik banget... tempat apa ini...",


"Eeemmm... ini pantai",


"Bukan, Ini surga...",


"Well, bukan surga versi ku yang pasti...", Jaka menambahkan.


Ketimbang melihat bintang dan pantai, Jaka lebih tertarik dengan wanita di sampingnya. Yang lebih indah dari bulan ataupun bintang.


Ia sendiri tidak tau sejak kapan seperti itu, karena pada awalnya, bagi Jaka wanita seperti Sarah ada banyak dan biasa saja.


Tapi saat ia kehilangan Sarah di New York kemarin, pandangannya agak berubah. Ia tidak akan senekat itu dengan wanita yang biasa saja. Kecuali jika ia sudah sangat putus asa.


"Kau menyukainya?",


"Ada angin apa bapak membawaku ke sini? Tempat ini indah, tapi tidak akan bisa membuatku mengantuk...",


"Entahlah, aku selalu mengantuk jika terkena angin laut",


"Dipikirkan nanti",


Jaka berpaling dan mengambil sesuatu di jok belakang. Sebungkus gulali kapas. Jaka membuka bungkusnya dan menyuapnya sendiri.


Curang


"Bapak... beli satu aja ya?", Sarah memandangi bos nya.


Hahahahah... lucu sekali...


Jaka berusaha menahan tawanya. Ia lalu menyodorkannya ke wajah Sarah.


"Kau mau? Makanlah. Aku tidak pernah bisa menghabiskannya sendirian", Jaka beralasan.


Sarah menggigitnya besar sekali. Mereka berdua menghabiskan gulali itu sekejap saja.


"Pernah mencoba berenang malam-malam?", tanya Sarah sambil masih melihat air pantai yang sedikit bergelombang.


"Tidak. Terdengar tidak wajar buatku",

__ADS_1


"Hahahaha... iya sih. Tapi aku pernah. Saat masih SMA. Ayah dan ibuku menelpon saat sudah malam, menyuruhku pulang besoknya pagi-pagi sekali. Aku tidak ingin menyesal karena belum berenang sepanjang liburan, jadi malam itu juga aku berenang di pantai sendirian. Itu memalukan sih... apalagi saat ketahuan sama penjaga resort nya...",


"Lalu?",


"Besoknya aku pulang dalam keadaan flu berat...",


"Menarik sekali... Apa kau ingin berenang sekarang?", menanyakan itu saja membuat Jaka sadar akan resikonya. Bagi dirinya.


"Tidak. Aku akan basah kuyup sepanjang perjalanan...",


"Betul sekali. Besok kita punya urusan", Jaka mengingatkan.


Sebenarnya Sarah sangat penasaran. Ia ingin turun dan merasakan air pantai di kakinya.


Seperti bisa membaca pikiran, Jaka turun dan mengajak Sarah berjalan-jalan di sepanjang pantai.


"Biasanya aku berjalan di pantai yang ramai...", Sarah menjelaskan.


Jaka diam saja. Ia sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya ada dua hal yang ingin ia sampaikan. Tapi ia bingung yang mana lebih dulu....


Jaka lalu menahan tangan Sarah yang masih melangkah santai.


"Tunggu. Ada yang ingin ku beritahukan padamu...",


"Ya?",


"Ini masalah mu dengan Indra...",


"Apa masih ada masalah?",


"Kurasa begitu. Aku harus memberi tahu kalau semua uang yang dia bilang ada di dalam tabunganmu itu, nyatanya tidak ada. Semua hanya tipuannya saja...",


Sarah menatap mata Jaka dan tersenyum.


"Aku tau. Saat Bapak bilang kalau dia bangkrut, aku sudah tidak berharap apa-apa. Yang ku khawatirkan, karena masih ada sebagian gaji ku disana...",


"Kita akan membicarakannya dengan Bapak besok",


"Ja-jangan!! Aku bisa malu... Sebaiknya biarkan saja. Besok aku akan datang hanya untuk membantu Bapak menjelaskan apa saja yang ku alami. Tidak lebih...",


"Oke. Kalau kau mau begitu...",


Mereka berjalan kembali ke mobil. Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh satu. Mungkin sudah waktunya pulang...


♡


♡

__ADS_1


♡


bersambung....


__ADS_2