
Sarah sudah berpakaian sangat rapi. Setelah Paul meminta ijin untuk membawa tamu, Sarah menjadi agak gugup. Makananya juga sudah siap semua. Paling tidak itulah yang bisa ia masak.
Walaupun masih setengah jam lagi, seharusnya Jaka sudah datang lebih dulu.
Apa ia tidak berniat menolongku?
Baru saja ia duduk, ia mendengar suara bell pintu dibunyikan.
Akhirnya...
"Akhirnya... kau datang juga", Sarah melotot kepada sosok itu.
Jaka yang membawa buket bunga tidak luput dari kekesalan Sarah.
"I'm sorry... tadi aku keluar dulu untuk beli ini...", Jaka menyodorkan buket bunga mawar kepada Sarah "Special for my queen...", Jaka mulai menggombal.
Sarah merasa wajahnya memerah. Ia menerima buket itu dan kemudian ciuman dari Jaka.
"Hanya begitu? Hanya kecupan?", Jaka protes.
"Maaf ya, tapi ada tamu yang masih akan datang...",
"Hanya Paul kan... biarlah...", Jaka menarik pinggang ramping Sarah.
"Nooo... Dia bawa teman... ",
Jaka baru tau itu. Paul bahkan tidak bilang.
※※※
Esmeralda tidak henti-hentinya memuji masakan Sarah. Paul dan Jaka juga mengiyakan pujian-pujian Esmeralda.
"Emmm... nona Esmeralda... Kau terlalu berlebihan... ini hanya masakan sederhana...", Sarah merendah.
"Hei, panggil saja aku Alda. Kalian jangan sungkan padaku. Aku juga manusia..."
※※※
Sarah dan Jaka melambai pada Paul dan Alda.
Setelah berbincang banyak, akhirnya Alda pamit pulang. Paul menawarkan untuk mengantarkannya. Alda menerimanya dengan senang hati.
Sarah menatap lurus pada Jaka. Mereka masih di depan pintu.
"Oke, ini sudah jam sepuluh malam Pak... Apakah anda tidak pulang?", kening Sarah berkerut, tangannya ia lipat di depan dada.
"Bolehkah aku tinggal lebih lama?", Jaka menyenderkan satu tangannya di dinding.
"Asal jika Bapak mau membantuku membereskan sisa makan malam tadi...", jelas Sarah. Tangannya meraih kancing teratas kemeja Jaka dan melepasnya.
"Oke... let's do it...", Jaka menangkap tangan Sarah yang mulai usil.
__ADS_1
Setelah mengunci pintu, Sarah kemudian masuk diikuti oleh Jaka.
Meja makan terlihat sangat berantakan. Dalam artian, banyak piring dan gelas kotor. Hampir seluruh makanan yang Sarah masak dimakan habis.
"Sepertinya akan sangat melelahkan... Aku akan panggil Starclean saja, oke?", Jaka menawarkan.
Sarah ingin menolak, tapi ia juga sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Baiklah... terdengar seperti ide bagus... Aku sangat lelah...", Sarah menjelaskan.
"Ooh kasihan... Bagaimana kalau sedikit pijatan?", tanya Jaka.
Tanpa menunggu jawaban dari Sarah, Jaka mengangkat wanita itu. Sarah menjerit kecil. Ia hanya bisa berpegangan pada bahu Jaka yang kokoh. Dengan mudah Jaka membawanya ke sofa ruang tamu. Ia lalu merebahkan Sarah di sana.
Setelah melakukan pemesanan ke Starclean, Jaka melepas belt yang menjadi aksesoris pakaian Sarah. Ia meletakkannya di atas meja. Jaka kemudian duduk di samping Sarah yang berbaring. Diangkatnya kedua kaki Sarah ke atas pangkuannya. Jaka lalu memijat lembut kaki Sarah mulai dari telapak kakinya.
"Jangan Pak!", Sarah menghentikan tangan Jaka. Ia merasa tidak enak. Orang itu seorang Direktur perusahaan. Bagaimana bisa melakukan hal itu. Sarah duduk dan merapihkan bajunya.
"Eemm... punya trauma khusus dengan pijat?", tanya Jaka yang agak kaget dengan reaksi Sarah.
Sarah menggeleng.
"Bukan... Hanya saja... Aku jadi tidak enak...",
Jaka lalu meraih wajah Sarah dan menciumnya sekilas.
"Mau sampai kapan kau menganggapku sebagai atasan? Aku kan kekasihmu...",
Sangkalan Sarah tidak masuk akal bagi Jaka. Ia lalu menarik Sarah kedalam pelukannya.
"Aku sedih kalau kau selalu memanggilku dengan kata Pak...", Jaka mengutarakan pikirannya.
"Maaf... Aku tidak tau harus memanggilmu apa. Sedangkan sekarang ini saja, sikap orang-orang di kantor sudah sangat berubah...",
"Berubah??",
"Ya, mereka jadi terlalu hormat padaku",
"Itu bagus... ",
"Tidak juga. Padahal kita hanya sebatas kekasih...",
Jaka menatap lekat wajah kekasihnya itu.
"Bukankah aku akan menikahimu? Di usiaku sekarang, mencari pasangan bukan lagi untuk di jadikan pacar saja... Kau tau itu...", Jaka menjelaskan.
"I know... Tapi aku masih khawatir. Kita belum menemui keluarga masing-masing dan membicarakannya... Bagaimana bisa aku seyakin itu... Aku perempuan...", Sarah menjelaskan ketakutannya.
Jaka paham dengan perasaan yang di rasakan Sarah saat ini. Tapi ia benar-benar belum bisa mempertemukan Sarah dengan keluarga Sanjaya. Masalah bisnis Pak Ismail yang gagal karena ayahnya Sarah, masih dalam penyelidikan Jaka.
Jaka lalu mendapatkan ide yang sangat cemerlang. Ia bisa melakukan dua hal sekaligus jika rencana itu berhasil.
__ADS_1
"Kau tahu, aku tidak pernah meninggalkan perempuan jika aku benar-benar serius menjalin hubungan dengannya...",
"Aku tau kau bisa di percaya...",
"Aku punya sebuah ide di kepalaku sekarang. Apa kau mau mendengarnya?",
"Hhmmm... oke...", Sarah menyenderkan kepalanya di bahu Jaka.
"Aku ingin bertemu keluargamu dulu. Kalau keluargamu menerimaku, aku akan membawa keluarga Sanjaya kesana. Bagaimana?",
Sarah terlihat berfikir.
"Tapi... Cuti ku masih lama. Dan aku paling tidak bisa kalau pulang kerumah hanya satu atau dua hari...",
Jaka jadi ikut berfikir.
"Bagaimana kalau kau berhenti bekerja?", usul yang sangat ekstrem. Tapi ia serius.
"Ha ha ha ha... Kau lucu sayang...",
Jaka tersenyum.
"Coba katakan lagi...",
"Apa? Kau lucu?",
"Lalu?",
"Sayang...",
Jaka meraih Sarah kedalam pelukannya.
"Pertahankan itu...",
"Tentu saja tidak... Aku hanya akan memanggilmu dengan kata sayang saat hanya ada kita. Aku tetap akan memanggilmu Bapak di depan orang-orang. Termasuk Paul. Deal?",
"Tidak sesuai keinginanku, tapi oke lah...".
Starclean yang mereka pesan akhirnya sampai.
Sambil menonton televisi, sesekali Sarah melihat pekerjaan dua anggota Starclean didapurnya.
Saat semua selesai, Jaka juga pamit pulang. Ia tidak ingin istirahat Sarah terganggu karena dirinya. Besok ia akan datang lagi dan membahas masalah mereka tentang pekerjaan Sarah.
Jaka berencana menarik Sarah ke perusahaannya. Pada akhirnya, Sarah juga tidak perlu bekerja lagi...
♡
♡
♡
__ADS_1
bersambung....