
Jaka masih menunggu kekasihnya itu menjawab pertanyaannya. Ini semua demi kebaikan Sarah. Dan sesungguhnya ia sudah siap dengan bujuk rayunya jika Sarah berusaha menolak.
"Entahlah Pak... Tapi aku jadi sangat merepotkan...",
"Kebetulan apartemen itu kosong karena pemiliknya pindah keluar negeri. Aku kan ada disana jika kau butuh bantuan...",
"Aku tau Bapak bisa di andalkan...",
"Jangan panggil begitu. Kau calon istriku",
"Itu kebiasaan... Intinya, apartemen itu terlalu besar untukku...",
"Mungkin kau mau tinggal di apartemenku saja? Kamar kosongnya banyak...",
"Tidak. Kau akan menggangguku... ", Sarah melirik Jaka.
"Itu pasti...", Jaka tersenyum.
"Aku akan pikirkan... beri aku waktu...",
"Oke... Malam ini aku kerumah kakak mu untuk mendengar keputusanmu. Bagaimana?",
Sarah mengangguk. Ia sudah selesai dengan Es Mocca nya. Jam istirahat juga sudah hampir usai. Mereka harus kembali ke kantor masing-masing.
※※※
Sarah merasa kalau pandangan orang-orang di kantor terhadap dirinya mulai berubah. Mereka lebih sering menunduk, menghindar dan tersenyum dari pada biasanya. Padahal ia ataupun Jaka, tidak merasa telah mengumunkan apa-apa.
Yang tahu kalau mereka bersama hanya Paul sebagai asisten Jaka. Bahkan tuan dan nyonya Sanjaya belum mengetahuinya.
Contohnya, saat ia meminta file yang dititipkan Jaka di resepsionis, Mbak Icha sang resepsionis senior menjadi terlalu hormat padanya.
Sarah juga tidak ingin bertanya kepada mereka, karena ia takut malah memancing rasa penasaran orang lain.
"Pak Wira, ini berkas yang kemarin bapak minta untuk direvisi, sudah saya persiapkan. Tapi ada beberapa bagian yang harus kembali di cek", Sarah menyodorkan sebuah map biru kepada pengganti Pak Alfandi itu.
Pak Wira yang sedang menikmati kopinya langsung berdiri dan menerima berkas itu dengan salah tingkah. Sarah menjadi agak tidak enak karena mengagetkannya.
"Ah, ia... terima kasih... Saya akan cek lagi..", Pak Wira mengangguk.
Entahlah... anggap saja aku tidak menyadarinya...
※※※
Jaka duduk di samping Sarah. Andini baru saja menyuguhkan segelas kopi kepada Jaka. Andini kemudian ikut Duduk di seberang Sarah. Di sampingnya ada Bima yang sedang asik memainkan action figure yang baru diberikan oleh Jaka. Terlihat sekali kalau ayahnya Bima tidak ingin terlibat dengan pembicaraan malam itu.
"Jadi, apa Sarah sudah memberi tahu mengapa saya kemari?" tanya Jaka berusaha sopan.
__ADS_1
"Eeemmmm... rasanya belum. Apa ada pengumuman yang ingin kalian sampaikan?", tanya Andini menyelidik.
"Daripada pengumuman, Pak Jaka sedang menunggu jawabanku... Ia ingin Sarah pindah ke apartemen dekat miliknya...",
Bukan berita yang diinginkan Andini. Tapi berita itu juga sukses membuat orang itu tersenyum lebar.
"Laluu??", Andini penasaran.
"Saya yang akan mengurus semuanya, dan ia masih berfikir sangat lama...", Jaka menjelaskan.
Sarah Melirik ke arah kakak nya yang sekarang sedang memangku Bima. Ia ingin sekali mendapat pembelaan. Ia berharap kak Andini meminta Jaka agar mengurungkan niat itu.
"Itu ide bagus. Kalian jadi lebih dekat... Lagipula, sudah saatnya kamu mandiri kan, De...", Andini terlihat tersenyum "Aku yakin Jaka Sudah tau kalau kakak... hanya keluarga jauh. Memang wanita dewasa tidak baik jika harus tinggal dengan orang yang sudah berkeluarga... Kakak akan mendukung keputusan Jaka. Lagipula, kakak cukup yakin kalau ia sangat serius denganmu...", jelas Andini melirik cincin berlian yang melingkar di jari Sarah.
Sarah bangkit dan memeluk kakaknya. Andini bahkan tidak sempat berdiri.
Dalam hati Jaka merasa sangat senang karena banyak hal. Calon istrinya terhindar dari si hidung belang, mereka jadi lebih dekat dan ia berniat untuk segera menemui orang tua Sarah. Hal itu yang paling penting.
※※※
Jaka membantu Sarah mengeluarkan baju-bajunya dan meletakkannya ke atas ranjang.
"Hentikan itu...",
"Apa? Aku hanya membantumu",
Sarah meraih tangan Jaka yang mengangkat tumpukan baju-bajunya. Akibatnya baju-baju itu malah jatuh terhambur.
"Nah... itu kesalahanmu...", Sarah meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Tidak. Itu salahmu. Ini baru kesalahanku...", Jaka menarik pinggang Sarah kedalam pelukannya. Sebelum wanita itu protes, Jaka mendaratkan ciumannya.
"Eemmphh...", Sarah berusaha menolak. Tapi ia tau usaha itu sia-sia. Tenaga Jaka terlalu besar untuknya.
Sarah mengalungkan tangannya ke leher Jaka. Semua ini terlalu memabukkan. Ia hampir kehabisan nafas. Tanpa sengaja ia menggigit bibir bawah Jaka. Pria itu kaget dan memalingkan wajahnya.
"Awch...",
"Aaahh... maaf... maaf... aku gak sengaja...",
"Apa kau begitu menginginkan ku?", Jaka menggoda Sarah. Ia tidak peduli dengan bibirnya yang memerah.
Sarah merasa gerah.
"Itu karena bapak membuatku tidak bisa bernafas... Mana sini aku lihat... Bapak ini...",
Jaka suka melihat Sarah saat wanita itu sedang cemas.
__ADS_1
Sarah mengambil betadine spray di kotak P3K nya.
"Tahan sedikit... ini akan perih...", Sarah memperingatkan. Ia lalu menyemprotkan betadine itu. Benar saja, Jaka hanya bisa memejamkan matanya menahan perih.
"Uughhh...", Jaka berusaha protes.
"Apa begitu perih?",
Jaka mengangguk. Sarah lalu mengipas-ngipas bibir Jaka yang terluka dengan tangannya.
"Jangan manja... Hanya luka kecil...", Sarah mulai merasa bersalah.
"Ini terlalu perih...", Jaka mengambil selembar tisue dan mengelap bibirnya "Ini tidak berguna... ".
"Obatnya sedang bekerja... Ayolah... Mengapa di hapus...",
"Itu menyakitkan... apa tidak ada obat lain yang lebih baik?", Jaka terlihat masih kesakitan.
Sarah tau itu salahnya. Tapi ia kan sudah berusaha mengobatinya.
Sarah meraih wajah Jaka dan menolehkannya kehadapannya. Dengan sekali gerakan cepat, Sarah mencium bibir itu.
Jaka menyadari kesempatan yang diberikan Sarah, lalu menahan wanita itu saat akan menjauh.
"Lagi...", gumam Jaka lirih.
Sarah benar-benar malu. Wajahnya memerah. Ia kemudian mulai mencium bibir Jaka seperti yang pria itu minta.
Sarah merasa ada banyak gejolak di perutnya. Ia ingin berhenti tapi Jaka terlalu memabukkan.
"Tanteee Saraaah... tante...", suara melengking Bima sukses membuatnya sadar. Ia menarik diri. Begitu juga dengan Jaka.
Bima masuk ke kamar Sarah dan menghambur kepelukan wanita itu. Jaka merasa tersaingi.
"Tante Sarah mau pindah yaa... Sudah gak sayang Bima?",
Mereka ingin tertawa, tapi melihat wajah Bima yang memelas, niat itu di urungkan.
Aku lupa kalau aku juga harus pamit dengan anak ini...
Sarah tersenyum.
♡
♡
♡
__ADS_1
bersambung....