Lay With The Devil

Lay With The Devil
Malam yang Panjang


__ADS_3

Jaka membukakan pintu Apartemennya untuk Sarah. Penampilanya berantakan. Mereka membawa dua kotak pizza untuk makan malam.


"Aku minta maaf karena membuatmu berbohong tadi siang...",


"Sudahlah... Aku ingin mandi. Sebaiknya kau juga..."


Setelah meletakkan kotak pizza di depan TV, mereka masuk ke kamar masing-masing.


Sarah melepaskan gaunnya. Untungnya gaun mahal itu tidak sobek karena Sarah duduk sembarangan. Tapi kemudian matanya tertuju pada cermin yang merefleksikan dirinya. Ia melihat sebuah memar biru pada lengannya. Ia menyentuhnya, dan rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Sarah sendiri tidak ingat kapan ia mendapatkannya.


Sarah keluar kamar dengan baju kaos longgar dan leging cokelat sebatas lutut. Ia mencium aroma aftershape Jaka yang memabukkan. Pantas saja, orang itu sudah duduk di depan TV dan melahap pizza dengan santai.


"Makanlah selagi hangat...", jelas Jaka yang menyadari kehadiran Sarah di sampingnya.


"Terima kasih...", jawab Sarah singkat. Ia kemudian duduk di lantai tepat di depan meja TV. Sarah mengambil sepotong pizza.


"Duduklah di atas...",


"Ah, ia.. disini lebih nyaman... ", Sarah menolak beradu pandang dengan Jaka. Ia fokus pada acara TV didepannya.


Jujur, matanya tidak bisa fokus ke TV, ia melirik Jaka yang mengambil sepotong pizza lagi. Saat itulah ia melihat tangan Jaka yang terluka.


"Apa kita perlu memeriksanya?",


"Apa? ini?", Jaka menyodorkan tangannya "Tidak perlu. Besok juga sembuh...",


"Berani taruhan, malam ini Bapak akan demam tinggi...", Sarah menghabiskan pizza ditangannya dan bangkit untuk mengambil kotak P3K.


Sarah meraih tangan Jaka yang baru menyuapkan pizza kedalam mulutnya. Sarah menyekanya dengan tisu basah. Dengan hati-hati ia mengoleskan obat merah. Setelah selesai memasang perban, Sarah merapikan peralatannya.


"Makanlah dengan tangan kirimu, Pak... Biarkan tangan itu istirahat...",


"Terima kasih. Mungkin lebih romantis kalau kau yang menyuapiku makan, aku masih lapar...", jelas Jaka seenaknya.


Pipi Sarah memerah.

__ADS_1


"Aku akan ambilakan garpu dan pisau. Sebentar...",


Menyuapinya makan? Memangnya kita sedang bulan madu? Ya Tuhan... Orang ini selalu seenaknya...


Sarah kembali dengan sebuah piring lengkap dengan garpu dan pisaunya. Tanpa diminta, Sarah mengambil lagi sepotong pizza dan meletakkannya di atas piring. Sarah memotong pizza itu menjadi beberapa bagian kecil dan kemudian meletakkannya di depan Jaka.


"Silahkan makan...", Sarah tersenyum singkat. Ia kemudian mengambil lagi sepotong untuk dirinya.


"Terima kasih", Jaka menjawab.


Sebenarnya Jaka hanya terlihat santai. Mengingat malam ini adalah malam pertama mereka tidur di bawah satu atap yang sama, membuat Jaka sedikit penasaran. Ia ingin sekali tau lebih banyak tentang wanita ini. Karena seperti yang diketahuinya dari data yang dikumpulkan Paul, apa yang diperlihatkan Sarah selama ini hanya tipuan.


...


"Bolehkah aku bertanya?", tanya Jaka yang sukses membuat Sarah tersedak. Ia buru-buru membuka botol air mineral dan meneguknya perlahan.


"Kau baik-baik saja?", tanya Jaka yang sekarang sudah duduk di lantai beralaskan permadani dengan Sarah.


"Ya... Maaf... tentu saja bapak boleh bertanya...",


Sarah yang dari tadi lebih memilih menatap TV, kemudian meraih remote dan mematikannya.


"Dia kakakku..."


"Kau anak sulung Sarah... Jangan pikir aku sebodoh itu dong",


"Ya, lantas apa... apa aku tidak boleh menganggapnya kakak?",


"Lalu? Mengapa bertahan tinggal dengannya, padahal tau kalau suaminya yang mes*m itu selalu menggodamu?",


"Aku astrophobia ingat? Aku sudah pernah mencoba untuk tinggal sendiri... dan berakhir dengan tidak baik... Saat aku dibawa kerumah sakit karena serangan panik, dia perawat yang menjagaku. Saat itu aku baru saja mulai bekerja di sebuah perushaan sebelum AntiQ Jaya. Ia mengajakku tinggal di apartemennya, saat itu ia sudah menikah dan belum memiliki anak. Suaminya kerja di luar kota dan ia lebih sering sendirian. Baru setelah aku tinggal selama setahun di sana, Suaminya pindah tugas ke kota asalnya. Dan saat itu, ia memintaku agar mengakui diriku sebagai saudari nya. Kak andini memang punya saudari, tapi suaminya tidak pernah bertemu secara langsung. Suaminya mulai menggodaku setelah tiga tahun pernikahan mereka, dan kak Andini belum juga hamil. Aku ingin sekali pindah dari sana, tapi aku tidak ingin mati sendirian di sebuah kamar kos. Apalagi ada dua adik yang harus kunafkahi...",


Jaka akhirnya paham. Tapi ia masih punya banyak pertanyaan dinbenaknya.


"Bagaimana bisa, kau hadir di acara keluarga Sanjaya? Itu acara keluarga, dan hanya tamu dengan undangan yang bisa masuk...", Jaka memulai.

__ADS_1


"Entahlah... Aku menerima undangan. Dan berpikir akan sangat tidak sopan jika menolaknya... Pada awalnya kupikir karena aku bekerja di AntiQ Jaya jadinya aku selalu menerima undangan itu. Tapi nyatanya, tidak semua karyawan mendapatkannya... bahkan tidak ada yang lain selain aku. Entahlah. Sumpah, aku tidak berpikir yang aneh-aneh tentang itu...",


Jaka tidak terlalu puas dengan jawaban Sarah.


"Bagaimana awal mula kau menjadi korbannya Indra?",


Sarah menutup matanya.


"Kurasa hal itu hanya salah satu kesialanku saja... Aku baru beberapa bulan kerja di AntiQ Jaya dan bertemu Margo. Aku memergokinya masuk ke ruang Pak Alfandi dan mengutak-atik isinya. Baru aku tau kalau Margo itu salah satu IT di AntiQ Jaya... Beberapa minggu berselang ia datang dan mengancamku akan menyebarkan sebuah video yang... entahlah... orang pintar sepertinya bisa mealkukan hal begitu. Ia membuat sebuah video asusila dengan wajahku disana. Demi Tuhan aku tidak pernah melakukannya... Ia siap mengirimkannya kepada adik-adikku...",


Sarah meneguk air nya.


"Lapor kepada siapa saja dan video itu tersebar..",


"Ehm. Ya, kami sudah melihatnya",


Wajah Sarah memerah.


"Apa kau yakin itu bukan kau? Hal itu yang mengganjal dalam pikiranku. Terlihat sangat nyata buatku...",


Sarah menatap wajah Jaka dengan tidak percaya. Wajahnya sendiri memanas. Dengan jengkel Sarah berdiri dan meninggalkan Jaka yang menganggilnya. Sarah mengacuhkannya.


Luar biasa... Satu-satunya orang yang ia percaya sedang tidak memercayainya saat ini.


Sarah menyeka air matanya. Ia membuka pintu balkon kamarnya. Gelap. Hanya ada lampu jalan. Ia masuk kembali dan naik ke ranjangnya yang nyaman. Ia menutupkan selimut keseluruh tubuhnya.


Mengapa sakit sekali... Memangnya kenapa kalau orang tidak mempercayai cerita itu? Tidak masalah... kalau orang lain aku tidak peduli... tapi orang ini... Ia tidak mempercayaiku... Padahal... aku hanya berharap...





bersambung....

__ADS_1


__ADS_2