
✨Happy Reading ✨
Sarah menunduk dalam. Ia tidak ingin berpisah dengan suaminya secepat ini. Sudah lima menit berlalu sejak kereta api yang membawa Jaka, berangkat.
"Sayang, aku pergi dulu ya... Kalau Ayahmu sudah lebih baik, aku akan menjemputmu segera... Aku juga tidak ingin lama-lama berpisah denganmu..." jelas Jaka beberapa belas menit lalu.
Sarah hanya mengangguk dalam pelukan suaminya.
Ia memang tidak mengingat Jaka. Tapi sikapnya selama ini membuat Sarah merasa nyaman. Ia merasa tepat, berada di samping pria itu. Ia bahkan tidak memerlukan ingatannya kembali, untuk bisa bersama Jaka. Tapi, ada sedikit rasa penasaran yang muncul. Ia ingin tau bagaimana bisa ia bertemu Jaka sehingga menikahinya.
Sekarang jarak sudah benar-benar tercipta. Apa lagi yang ingin di sesalkan?
Axel, Sarah dan Betty kemudian kembali ke rumah Keluarga Clay. Perjalanan mereka jauh lebih sepi dari biasanya.
※※※
Keesokan Hari di Kediaman Jaka
Jaka mengamati file yang dikirimkan Reza padanya. Beberapa file lebih tepatnya. Ia dan Paul sudah duduk di tempat yang sama lebih dari dua jam.
Mereka memutuskan untuk memanggil Detektif Lee juga. Namun orang itu masih belum juga datang.
Video berdurasi pendek-pendek itu, memperlihatkan seorang pria berpostur timggi gempal, memapah Sarah keluar dari Penginapan Xaheed melalui pintu belakang. Setelah memberikan sebuah amplop pada si penjaga, mereka masuk kedalam mobil rentalan biasa.
"Brengsek penjaga itu!! Kita harus menemukannya. Dia pasti tau siapa yang membayarnya." Jaka terlihat geram.
"Lalu, bagaimana kita memastikannya? Bukankah kita tidak punya tersangka untuk di curigai?"
"Huh. Siapa bilang? Aku punya nama-nama. Pak Maulana, Ervan, Indra? Aku akan tanya mereka semua. Paling tidak kita punya beberapa minggu sampai Sarah kembali." jelas Jaka yang asal saja menyebutkan nama-nama itu.
Jaka memang sengaja menahan Sarah di rumahnya, saat Paul memberi info kalau ia menerima rekaman CCTV dari sebuah rumah di dekat lokasi penginapan. Reza mengirimkannya dan sudah berusaha agar videonya terlihat jelas. Namun sayangnya, orang yang membawa Sarah sangat pandai menyembunyikan diri. Ia mengenakan hoddie, topi dan masker. Apalagi ia sudah menyogok si penjaga.
Jaka melihat jam di tangannya.
"Sebaiknya kita lanjutkan di kantor saja. Ada hal yang harus ku urus. Oh iya, tolong kontak Nathan. Buatkan janji temu dengannya malam ini. Aku terlalu sibuk jika harus ngobrol dengannya dulu. Kau tau kan, ia suka mengulur waktu..." jelas Jaka sambil memasukkan ponselnya ke saku jas dan kemudian beranjak.
"Oke." jawab Paul singkat.
Nathan, orang yang kemarin senpat dimintainya tolong untuk mencari Sarah. Koneksinya lumayan banyak. Jadi tidak mungkin ia tidak mengetahui satu-dua hal yang akan ditanyakan Jaka nanti.
.
.
Mereka berdua sudah melaju menuju ke Emerald Auto.
__ADS_1
"Mampir beli burger dong. Gara-gara video itu aku jadi luopa sarapan." Jaka menjelaskan.
"Oke." jawab Paul singkat seperti biasanya.
Setelah mampir untuk membeli burger, mereka melanjutkan perjalanan yang tidak seberapa jauh itu.
※※※
Kediaman Orang Tua Sarah
Sarah sedang menyuapi ayahnya makan, pagi ini. Beberapa jam lagi terapis ayahnya dan dokter Bagas akan datang.
"Ayah... Sarah minta maaf karena membuat ayah menjadi begini..." jelas Sarah sambil kembali menyuapkan bubur kepada ayahnya.
Pak Arnold kemudian tersenyum dan menggeleng.
"Bu-kk-kan kkar-rena Sar-rah... Ayaah saj-ja yang ter-la-lu leemm-mah!" jelas ayahnya terbata-bata.
Sarah memeluk ayahnya.
"Lekas sembuh ya, Yah! Sarah mau mengajak ayah, ibu, Sandra dan Axel main ke rumah baru Sarah dan Pak Jaka... Sarah juga ingin mengajak kalian liburan..." jelas Sarah antusias.
Betty yang sejak tadi membantu Ibu Mutia di dapur, sekarang sudah kembali bergabung dengan Sarah di teras rumah.
Tiitt !!
Mereka bertiga memperhatikan pemilik mobil untuk turun.
Saat itulah, Sarah melihat temannya saat sekolah menengah atas - Radit Narendra - turun dari mobil dan langsung menghampiri Sarah.
Tanpa ba-bi-bu, pria itu langsung mencium Sarah tepat di bibir. Sarah kaget. Ia diam saja. Seperti sesuatu yang cepat, yang tidak ia sadari. Tapi setelah beberapa detik kemudian, ia langsung mendorong tubuh Radit menjauh.
Betty yang melihat kejadian itu hanya geleng-gelang kepala. Sedangkan Pak Arnold, ia berdehem keras sekali.
Saat mendengar suara Pak Arnold, Radit langsung mendekatinya dan menepuk bahu Pak Arnold pelan.
"Pagi, Pak... Lama tidak berjumpa..." sapa Radit seakan tidak terjadi apa-apa barusan.
"Hhhmm..." jawab Pak Arnold.
"Mbak Betty, tolong bawa Ayahku masuk ya... Saya nanti nyusul..." jelas Sarah.
"Baik Nyonya..." jawab Betty yang langsung mendorong kursi roda Pak Arnold masuk kedalam rumah.
"Nyonya?" tanya Radit bingung.
__ADS_1
"Hei brengsek, buat apa kau lakukan hal tadi itu?!" tanya Sarah geram karena orang dihadapannya ini menciumnya tanpa permisi.
"Aku merindukanmu, Sarah! Setelah Kau bekerja di kota, kau melupakanku begitu saja. Apa tidak memikirkan perasaanku?" tanya Radit mengiba.
Pertanyaan itu membuat Sarah bingung. Ia sama sekali tidak ingat tentang kejadian yang disebutkan Radit.
"Sorry, tapi aku enggak ingat apa yang terjadi dengan kita. Seingatku, kita ini berpacaran saat SMA dan aku sudah memutuskan mu saat upacara kelulusan kita..."
"Kau ngigau ya... Kau bilang akan terus bersamaku walau apapun yang terjadi, Saat kau kuliah semester lima, kita bahkan berjanji untuk menikah suatu saat nanti..." jelas Radit lagi.
Pipi Sarah memerah. Pria itu memang memiliki paras yang tidak jelek. Tapi kan, ia sudah menikah dengan Jaka?!
"Stop, Dit!! Kamu gak liat aku lagi hamil? Artinya, aku sudah menikah! Punya suami. Sebaiknya kau pergi saja, kalau cuma ingin bicara ngelantur..."
Radit lalu memperhatikkan tubuh Sarah dari atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas. Pakaian Sarah yang longgar membuat kehamilannya tertutupi dengan baik.
"Kau bercanda, ya?"
"Tidak. Pergilah. Aku masih banyak kerjaan." Sarah mengusir orang itu.
Sarah takut Betty akan melaporkannya pada Jaka, jika ia bersama dengan Radit terlalu lama.
"Ck! Kalau begitu aku akan datang lagi nanti. Masalahmu yang sudah menikah, aku tidak percaya. Kalau benar, suamimu pasti sudah muncul dan meninjuku di wajah... Mungkin, kau hanya hamil karena kecelakaan kecil, Iya kan Sayang? Kalau tidak, buat apa kau kembali ke sini..."
"Brengsek kau!! Pergilah!" usir Sarah lagi.
Tangannya ingin sekali menampar wajah belagu Radit. Tapi keinginan itu, ditahannya saja.
Radit lalu membuat gerakan mengecup di udara.
"Sarah, aku akan menerimamu walaupun kau memiliki anak dari pria lain. Aku terlalu mencintaimu. Sampai nanti, sayang..." akhir Radit sebelum masuk kembali kedalam mobilnya.
Sarah mendengus kesal. Ia lupa kalau Radit memang sangat brengsek. Bahkan saat mereka pacaran dulu. Satu alasan Sarah untuk memutuskan hubungan mereka. Radit terlalu menyombongkan kelebihan-kelebihannya...
Betty menepuk bahu Sarah pelan.
"Apa perlu saya laporkan orang itu pada Pak Jaka?" Betty menawarkan.
"Eh, kau mendengar semuanya ya? Tidak perlu lah mbak, aku akan mengurusnya sendiri. Orang itu, hanya omongannya yang besar. Dia bangga sekali karena wanita menggilainya saat SMA..."
"Termasuk anda?" tanya Betty sedikit terkekeh.
"Hah. Aku cukup di idolakan di sekolah. Dialah yang mengejar-ngejarku... Aku jadi merasa harus mengingat lagi semuanya... Potongan-potongan memori yang hilang ini, bisa membuat orang mempermainkanku..." gumam Sarah akhirnya.
Mereka berdua lalu masuk kedalam.
__ADS_1
🍦...bersambung...🍦
Jangan lupa dukungannya ya... Terima kasih!!