Lay With The Devil

Lay With The Devil
Belanja


__ADS_3

Jaka menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia bisa melihat kalau wanita itu sudah mulai mengantuk. Ia sangat tergoda untuk merasakan lagi kelembutan bibir Sarah.


Sudahlah Jaka! Mengapa tidak kau nyatakan saja perasaanmu?


Kalimat itu berputar-putar dikepalanya.


Hanya saja, ia belum yakin kalau Sarah lah wanita yang akan ada disisinya nanti. Bagaimana kalau ia mengulangi kesalahan yang lalu? Menikah dan kemudian bercerai?


Bagaimanapun, berpisah dengan wanita yang sudah dinikahi dan sudah hidup bersama itu menyakitkan...


hoooaaammmmhh...


Sarah menguap. Matanya mulai berair.


"Angin malam sukses membuatku ngantuk...", Sarah menjelaskan.


"I told you...",


Sarah terlelap.


※※※


Jaka meletakkan tubuh Sarah dengan sangat perlahan. Ia tidak ingin wanita itu bangun dan histeris. Mereka ada di apartemen Jaka. Selama lima belas menit Jaka berusah membangunkan Sarah. Tapi wanita itu terlalu lelah. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya Jaka memutuskan untuk membawa Sarah ke rumahnya. Ia juga mulai ngantuk.


※※※


Jaka meninggalkan Sarah di salah satu kamar yang masih kosong di apartemen nya. Ia menutup pintu kamar dengan sangat perlahan.


Jaka menuju kamarnya sendiri. Ia melepaskan seluruh pakaiannya dan mulai menyalakan shower. Sudah pukul setengah lima. Ia akan mandi.


Jaka mengenakan baju tidurnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Aah... ranjang ini memang yang terbaik...


Awalnya Jaka berencana untuk tidak tidur. Tapi setelah bertemu dengan ranjangnya sendiri. Ia terlelap begitu saja. Ia bahkan lupa kalau sudah janjian dengan Bapaknya jam tujuh nanti.


※※※


Sarah terbangun karena alarm ponselnya yang berdering tepat pukul setengah tujuh pagi.


hoooaaammmmmhh...


Sarah bangun dan merenggangkan sendi-sendinya.


Sebelum ia turun dari ranjang. Ia mengamati keadaan sekitar. Ia mengerutkan keningnya. Tentu saja ini bukan kamarnya.


Terakhir kali yang ia ingat ia duduk di dalam mobil Pak Jaka.


Aku ketiduran. Astagaaa...

__ADS_1


Sarah bergegas turun dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia kembali memakai baju tadi malam.


Aku tidak ingin drama waktu itu terulang...


Sarah bingung harus apa. Ia menuju pintu. Membukanya sedikit dan kemudian mengintip. Takutnya ada banyak orang di luar kamar.


Tidak ada orang. Bahkan tidak ada Pak Jaka.


Sarah keluar kamar menuju ke dapur. Ia mengingat-ingat dimana kamar Pak Jaka. Ia bahkan tidak tau dimana kamar laki-laki itu. Sarah membuka sebuah ruangan yang dekat dengan kamarnya. Ternyata hanya ruanga kosong. Sarah menutupnya kembali. Ia lalu membuka ruangan di samping dapur. Ya, benar saja... Ia menemukan kamar orang yang mengajaknya keluar semalam.


Jaka terlihat sangat lelap. Sarah ragu apakah harus membangunkannya atau tidak. Tapi mereka ada janji dengan Pak Ismail. Sarah tidak akan berani melanggarnya.


Eheem...


"Pak!... Pak, kita ada janji dengan Pak Ismail...", Sarah menggoyang kaki bos nya itu.


Jaka menggeliat.


"Ia. Aku bangun. Apa kau sudah siap?",


"Eeem.... Mau bagaimana ya... Saya cuma bisa mandi. Tidak ada baju ganti, bahkan tidak ada bedak untuk dipakai",


Jaka langsung duduk dan mengambil ponselnya.


📞Halo Paul, Apa kau sedang bersiap?


📞Tolong belikan baju wanita, ukuran S.


Kirimkan gambarnya nanti saya pilih


📞Oke. Ada lagi?


📞Em... Pakaian dalam wanita..


📞O..oke. Cukup?


📞Sepatu


"Berapa ukuran kakimu?", Jaka melihat Sarah yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Tiga puluh tujuh..."


📞Ukuran tiga puluh tujuh. Itu saja. Terima kasih... Hei, segera ya... Kami ingin bertemu Bapak...


※※※


Paul tiba setelah empat puluh menit. Ia membawa tiga kantong belanjaan.


Sarah yang menerimanya benar-benar berterima kasih.

__ADS_1


"Saya akan siap dalam sepuluh menit...", Sarah mengunci pintu kamarnya.


Jaka dan Paul sedang menikmati segelas kopi yang dibawakan oleh Paul. Esspreso seperti yang biasa Jaka minum. Jaka memutuskan untuk mengenakan jas dark grey dengan kemeja hitam. Ia tidak terlalu suka dengan dasi. Jaka menggunakannya jika ada sesuatu yang formal saja.


Sarah keluar dengan buru-buru.


"Maaf, lama...",


"Kau kelihatan.. ",


"Pucat?", Sarah menebak.


Jaka dan Paul mengangguk bersamaan.


"Sudah kuduga... Eem... Nanti di jalan ijinkan saya mampir di Indomei ya, Pak? Kalau bapak tidak keberatan...",


"Baiklah... Apa kau sudah menghubungi kakak mu? Ku yakin dia akan bingung saat tau kau tidak ada di kamarmu...",


"Sudah Pak, pagi tadi Saya mengirimkan pesan kalau saya pergi subuh sekali... Pesannya belum di balas sih...",


※※※


Sarah tidak punya waktu banyak untuk memilih apa yang ia perlukan. Ia hanya perlu lipstik, bedak dan parfum. Ia tidak ingin tercium seperti bau toko saat bertemu Pak Ismail nanti.


Sarah sudah siap membayar saat ia sadar kalau ia tidak membawa dompetnya.


"Seratus enam puluh delapan ribu, kak", kasir wanita itu menyodorkan belanjaan Sarah yang sudah di pack dalam kantong belanja dari kain.


Astaga!! Malu banget. Mana antrian panjang. Gimana dong...


"Tunai atau kartu, kak?", orang itu kembali bertanya. Senyum yang tadi masih terukir, sudah lenyap entah kemana.


Saat itulah Jaka muncul di sampingnya dan meletakkan tiga kotak susu cokelat di samping belanjaan Sarah. Ia lalu menyodorkan sebuah black card pada kasir.


"Buru-buru banget. Kan sudah ku bilang aku mau beli minum...", Jaka beralasan.


Petugas kasir itu bukannya menerima kartu yang diberikan Jaka, ia malah asik memandangi wajah Jaka yang tampan dan terlihat tegas.


"Eh, mbak!! buruan dong, saya mau ngantor nih!!", salah seorang di belakang Sarah menegur kasir itu.


Dengan sedikit salah tingkah si kasir menerima kartu Jaka dan kemudian mengembalikannya.


"Terima Kasih... Silahkan datang kembali...", ungkap orang itu yang sepertinya bersungguh-sungguh.


Sarah buru-buru keluar dari sana diikuti oleh Jaka.


Ya Tuhan... Orang ini selalu ada pas aku terpojok. Udah kayak guardian angel gak sih...


__ADS_1


__ADS_2