
πSelamat Membaca...π
"Siapa bu?" tanya Pak Ismail. Ia telah selesai makan.
"Pak Maulana dan Debby. Katanya, ingin membicarakan sesuatu..."
Mereka saling beradu pandang. Mereka tau betul maksud kedatangan dua orang itu...
"Ck! Pasti masalah perjodohan itu... Bapak lupa bicara dengan mereka. Biar bapak temui sekarang..." Pak Ismail sudah hendak berdiri saat Ibu Ningsih kemudian menahan tangan suaminya.
"Pak... tidak usah. Biar ibu saja. Bapak tunggu disini saja dengan Jaka dan Sarah..." Ibu Ningsih sudah menyelesaikan makannya.
Jaka dan sarah yang memperhatikan dari tadi, lalu menyegerakan makan mereka.
"Siapa Pak Maulana dan Debby? Apa aku mengenalnya?" Sarah penasaran.
"Ya... Gimana ya... Kau hanya tau. Tidak mengenal mereka. Lagipula tidak penting juga untuk mengenal mereka..."
Jaka sendiri masih marah dengan Debby karena kejadian yang lalu. Kalau tidak karena permintaannya, Ia tidak akan meninggalkan Sarah sendirian di rumah dan membuat istrinya hilang karena mencarinya.
Dasar! Masih berani muncul rupanya!? Memang tidak ada buktinya kalau Debby terlibat. Tapi aku yakin sekali ia ada hubungannya... batin Jaka.
β»β»β»
Ibu Ningsih terlihat sangat percaya diri saat menghadapi ayah dan anak itu. Benar dugaannya, mereka menanyakan perihal pertunangan Jaka dan Debby.
"Maaf Pak Maulana... Tapi anak saya sudah menikah..."
"Hah? Bagaimana bisa, tante?! Sarah kan hilang!? Ia menikah dengan siapa?" tanya Debby.
Tidak punya sopan santun... batin Ibu Ningsih.
"Mereka sudah menikah sebelum Sarah hilang, nak Debby..."
"Ta-tapi kan, Om Ismail sudah bilang akan menikahkan kami?!" Debby ngotot.
Saat itulah Pak Ismail dan Jaka muncul menyusul Ibu Ningsih.
Debby yang melihat kemunculan Jaka, langsung berlari ke arah Jaka dan memeluk laki-laki itu. Saat itulah ia melihat Sarah yang datang menyusul Jaka di belakangnya.
Seperti melihat hantu, Debby buru-buru menjauh dari Jaka.
"Ka-kamu?!"
Sarah bingung dengan semua yang terjadi. Suara wanita itu membuatnya tidak bisa menunggu saja di meja makan.
__ADS_1
"Eemm... Sepertinya ia mengenalku... Apa aku punya salah padanya, sehingga ia ketakutan begitu?" tanya Sarah yang sudah berada dalam rangkulan Jaka.
"Abaikan saja. Ia bukan siapa-siapa dalam hubungan kita." Jaka mengecup puncak kepala Sarah.
Pak Maulana yang ditinggalkan anaknya, lalu minta ijin untuk pergi.
Rupanya kedatangan mereka hanya keinginan Debby. Pak Maulana hanya bisa minta maaf pada Ibu Ningsih dan Pak Ismail sebelum ia pergi.
β»β»β»
Jaka dan Sarah sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Karena masalah kehamilannya, Sarah jadi sering buang air kecil belakangan ini.
"Saya mau mandi dulu.... Biasanya kalau mandi, saya agak lama..."
"Ia sayang. Silakan saja... aku juga masih mengurus sesuatu. Aku juga bisa pakai kamar mandi yang di luar. Take your time..."
"Terima kasih..." Sarah lalu masuk meninggalkan Jaka yang sedang mengganti bajunya.
"Oh ya, kalau nanti jangan mandi, jangan dikunci ya..."
Sarah yang sudah masuk, kembali keluar mendengar kata-kata Jaka.
"Maksudnya gimana ya?" Sarah bertanya lagi. Ia tidak yakin dengan pendengarannya.
Sarah kembali ke kamar mandi, kali ini tanpa mengunci pintunya. Iya tahu kata-kata Jaka ada benarnya. Walaupun Ia sedikit khawatir kalau laki-laki itu akan berbuat iseng padanya.
Jaka tidak ingin Sarah berpikir kalau dia akan mengambil keuntungan darinya. Maka dari itu, sekarang ia memilih untuk menghubungi Axel dan memberitahu kepada adik iparnya itu, kalau Sarah sudah ketemu.
tut... tut... tut...
π Hallo
π Hallo Xel, apa kabar?
π Gak ada yang baik disini.
π Maaf. Tapi aku ingin menyampaikan kabar baik. Sarah sudah pulang. Selamat dan sehat.
π What? Serius? Kapan?
Jaka menimbang-nimbang untuk menjawabnya. Kalau ia bilang baru saja, pasti akan ketahuan juga saat mereka bertemu nanti. Ia memutuskan untuk berkata jujur. Toh, ia sudah terlanjur menghubungi iparnya itu...
π Sekitar sebulan yang lalu...
π Gila kamu, Jak!! Kamu tau kondisi Ayah ku kan? Kenapa menunggu? Seharusnya kalian bilang dari awal. Kami khawatir!!
__ADS_1
π Denger dulu penjelasannya, Xel. Tapi sebelum itu, aku minta kamu mencernanya dengan baik.
π Apa sih? Jangan bikin takut lah.
π Sarah sempat di penjara kemarin. Maka dari itu kami tidak berani memberi tahu kalian. Aku takut ayah drop, mengingat kondisinya saat itu...
π Astaga... Lantas sekarang? Apa kakakku masih di dalam penjara?
π Untungnya tidak. Ia baru bebas beberapa hari lalu. Setelah sidangnya kami menangkan... Kalian tau kan, kalau menemukan Sarah, kasus pembunuhan itu akan muncul ke permukaan...
π Ya, kami paham...
π Jadi, Sarah sangat ingin bertemu kalian... Aku sudah mengatur perjalanan untuk lusa. Akhir pekan. Jadi aku bisa ikut menemani.
π Ayah dan ibu pasti senang mendengarnya...
π Xel, tapi ada satu hal lagi... Sarah amnesia.
Cukup lama Axel terdiam.
π Apa ia kecelakaan?
π Tidak. Kata dokter, ia syok hebat. Jadi kesadarannya seperti menutup diri. Ia menolak mengingat kejadian itu...
π Astaga... Aku akan bicarakan dengan Ibu. Terima kasih sudah menjaganya...
π Hei... Dia istriku. Sudah kewajibanku.
Jaka kaget saat mendapat sentuhan di tengkuknya.
"Eh! Sayang? Sudah lama?" tanya Jaka cukup kaget.
"Cukup lama untuk mendengar hal-hal penting..." Sarah duduk di samping Jaka "Ayah saya kenapa, Pak?" tanya Sarah menatap langsung lawan bicaranya.
Jaka tahu pertanyaan itu pasti akan keluar dari mulut istrinya. Jaka mengelus pelan perut Sarah yang mulai membuncit.
"Aku mau mandi dulu ya. Nanti aku ceritakan semuanya..."
Jaka meninggalkan Sarah yang tengah penasaran. Tapi wanita itu tidak menuntut. Ia tau, ia punya waktu semalaman untuk menunggu Jaka bercerita...
πΌ...bersambung...πΌ
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman...
Thank you π
__ADS_1