
Sarah kembali dengan mangkuk di tangannya.
"Pak... Pak...", Sarah menepuk kaki Jaka yang tengah meringkuk di atas sofanya.
Jaka kemudian terbangun dengan kaget. Ia langsung duduk. Menurut Sarah ekspresinya lumayan lucu.
"Sebaiknya anda makan dulu... agar perut anda lebih baik...",
"Wah... saya benar-benar merepotkan anda...",
"Anggap saja karena saya sudah banyak berbuat salah pada Bapak...",
"Kau bisa memanggilku Jaka saja. Kita bukan lagi rekan kerja...",
"Eemmm... tapi anda kan anak bos saya... ",
"Kalau itu tidak masuk hitungan. Panggil saja Jaka. Agar aku tidak merasa terlalu tua...",
"Oke... Saya usahakan...", jawab Sarah sembari meletakkan sebotol air mineral di samping mangkuk cap chai Jaka.
"Kau tidak makan?",
"Saya sudah makan, Pak... eemmm... Jak.... eh... gak bisa... Pak Jaka...",
"Hahaha... sudahlah... terserahmu saja. Kau aneh kalau sedang bingung", jelas Jaka sambil menyantap makanannya.
Pipi Sarah memerah mendengar ucapan itu. Ia kemudian bangkit dan kembali masuk ke dapur.
"Saya permisi sebentar...",
Sarah menyibukkan dirinya dengan mencuci beberapa piring kotor. Pikirannya tidak bisa fokus. Beberapa kali ia menjatuhkan sendok yang sedang ia bilas.
Fokus Sarah... jangan berfikir yang macam-macam. Jangan menyakiti diri sendiri...
Sarah mencoba mengatur logika nya.
°°°
Jaka sudah menyelesaikan makan nya. Sudah seperempat jam wanita itu tidak kembali dari dapur. Ia kemudian membawa mangkuk kosongnya dan pergi ke dapur.
"Hei, apa kau baik-baik saja?", kata-kata Jaka menarik kembali kesadaran Sarah.
Wanita itu lagi-lagi kaget dan langsung berbalik. Refleks.
Saat itulah ia baru sadar kalau Jaka berada tepat dibelakangnya. Mereka saling berhadapan.
Jaka meletakkan mangkuk kotor di belakang Sarah. Ia bisa mendengar suara nafas wanita itu dengan jarak sedekat ini.
Apakah ia gelisah? Nafasnya sangat berat dan dalam. Tubuhnya panas. Padahal diluar hujan.
Insting lelaki Jaka sepertinya tertarik dengan semua itu. Ia tau kalau ia kehilangan fokus ia akan sangat susah untuk menghentikan apapun yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
"Em... per..misi... saya mau le..wat...", Sarah mengucapkannya dengan susah payah.
Sarah bergeser ke kiri, tapi Jaka juga bergerak ke arah yang sama. Ia kemudian bergeser ke kanan. Lagi-lagi Jaka melakukan hal yang serupa.
"Maaf... sebaiknya saya diam", jelas Jaka sambil mengangkat kedua tanganya. Ia menghindar.
CETAAR!!!!
Suara petir yang sangat nyaring mengagetkan mereka. Sarah begitu kaget sampai ia tidak sadar kalau sudah berlindung di dada Jaka. Jaka sendiri mendekap wajah wanita itu. Terjadi begitu saja. Suara gemuruhnya masih terdengar hingga beberapa saat.
Sarah ingin menjauh, tapi rasa takut lebih menguasainya.
Jaka yang sudah lebih tenang kemudian menutup tirai di belakang Sarah.
"Sebaiknya kita menjauhi jendela. Petirnya lumayan menyeramkan...", jelas Jaka.
Sarah menjauh dari Jaka sambil terus menutupi wajahnya. Ia tidak berani masuk ke kamarnya karena balkon kamarnya sangat besar. Kacanya selalu bergetar jika terdengar suara yang terlampau keras.
Ia kemudian meringkuk di belakang sofa.
"Kau baik-baik saja?",
Sarah menggeleng. Ia tidak suka suara yang begitu mengagetkan. Jantungnya selalu berdebar. Sarah kembali menekan bantal yang ia ambil ke dadanya. Rasanya sakit.
Jaka mendekati wanita itu.
Memang hujan badai seperti ini sudah lama tidak terjadi. Mungkin wanita ini hanya kaget.
"Kau baik-baik saja nona?",
Sarah menggeleng.
"Aku pernah phobia terhadap suara yang terlalu nyaring... Aku tidak tau kalau masih memilikinya... Sedikit sakit....", jelas Sarah. Ia menekan dadanya.
Jaka tau kalau phobia seperti itu akan kembali jika pemicunya datang secara berlebihan.
Ia kemudian meninggalkan Sarah yang masih menutup telinganya.
Lagi-lagi suara petir bergemuruh. Tidak senyaring yang tadi. Jaka bergegas.
Jaka masuk ke kamar Sarah. Ia menarik bed cover tebal dan beberapa bantal milik Sarah.
Jaka kembali dan langsung meletakkan bantal itu di samping Sarah. Memang tempat mereka sekarang merupakan posisi yang paling jauh dari tembok luar. Tujuannya agar suara dari luar tidak terlalu terdengar.
"Sebaiknya kau Rileks, agar nyerinya hilang... tenanglah. Saya akan ada disini...",
Sarah menurut. Ia memeluk bantal dan Jaka menyelimuti punggungnya.
CETAAAR!!
Kali ini suaranya lebih nyaring lagi. Tapi Jaka sudah terbiasa. Namun hal lain terjadi pada Sarah. Wanita itu terlalu kaget sampai-sampai ia melepaskan bantalnya dan memeluk Jaka.
__ADS_1
"Sorry sorry sorry... ", ulang Sarah meminta maaf. Tapi ia tidak berani menjauh.
"Sudahlah. Saya tidak masalah. Yang penting kamu tenang...", jelas Jaka lagi.
Jaka agak bangga dengan dirinya sendiri. Ia bahkan tidak berfikiran macam-macam dengan wanita didepannya.
Sarah mundur. Ia kemudian meraih tangan kanan Jaka. Sarah meletakkan tangan itu ke dadanya.
Jaka kaget dengan hal itu. Tapi saat itu juga ia merasakan detak jantung Sarah yang terlalu bergejolak.
Bukankah itu agak berbahaya??
Jaka berfikir sejenak, ada ide gila yang terlintas. Ia sendiri tidak tau akan berguna atau tidak.
Jaka menurunkan tangannya ke pinggul Sarah. Sarah yang kaget kemudian mengangkat wajahnya dari dada Jaka. Saat itulah Jaka mendaratkan ciumannya ke bibir Sarah.
Sarah kaget. Tapi ia terlalu menginginkan pria itu. Bahkan semenjak pertama kali ia melihatnya di acara keluarga Sanjaya. Tapi ia tidak ingin hubungan yang seperti ini. Semuanya hanya akan menjadi masalah.
Sarah menarik tubuhnya mundur. Ia harus menjadi pihak yang lebih sadar.
Tapi Jaka menolak penolakan itu. Jaka maju lagi untuk menyelesaikan urusannya.
Posisi Sarah terpojok. Ada sofa dibelakangnya. Ia tidak bisa apa-apa kecuali menyerah.
Jaka kemudian mundur. Apakah ia puas? Tentu saja tidak. Ia gila kalau menghentikannya sekarang. Tapi wanita ini tidak sedang baik-baik saja. Tidak akan adil baginya.
"Bagaimana rasanya disini?", tanya Jaka yang kembali menyentuh dada Sarah.
Sarah bingung. Ia kemudian meletakkan tangannya menggantikan tangan Jaka. Sakit dan nyeri di dadanya hilang.
Hujan semakin deras. Tapi sepertinya petir itu sendiri sudah tidak terdengar.
Sarah tidak tau apakah ia harus marah, ataukah ia harus berterima kasih. Ia kemudian bangkit dan meninggalkan Jaka. Sarah masuk ke kamarnya. Wajahnya panas.
Jaka hanya mengamati kepergian wanita itu dari tempatnya duduk. Ia mengacak-acak sendiri rambutnya dan tersenyum.
Aku bisa mendapatkan wanita bagaikan model sekalipun. Tapi wanita ini... terlalu manis untuk diabaikan...
Jaka bangkit dan membawa bantal Sarah ke atas sofa. Begitu pula bed covernya.
Sebaiknya masalah ku dan masalahnya lekas selesai.
Hubungan seperti ini sangat mengganggu...
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1