Lay With The Devil

Lay With The Devil
Kebenaran


__ADS_3

Sudah seminggu semenjak kejadian yang memalukan bagi Jaka itu. Dan sudah selama itu juga, Jaka tidak bisa mendekati istrinya, bahkan hanya untuk sekedar merasakan keindahan bibir Sarah yang selalu menggoda Iman nya itu.


Siang ini Jaka sedang merenung di kantornya. Ia bahkan tidak menghiraukan ajakan Paul untuk makan siang di luar.


"Bos?! Bos Jaka!!" Paul melambai-lambaikan tangannya di udara.


Jaka masih fokus dengan ponselnya yang berisi pesan dari sang istri. Intinya, Sarah meminta kepastian sebelum kesabarannya habis. Ia ingin Jaka memastikan, apakah Ia sudah tidur dengan mantan istrinya itu atau tidak. Jaka sendiri tidak berani memastikan kepada Sarah, apa yang akan dilakukan wanita itu, jika ia terbukti tidur dengan mantan istrinya atau bagaimana pula jika ia tidak pernah menyentuh wanita itu lagi.


Jaka takut jawaban Sarah merupakan kan surat kematian baginya.


Paul yang geram dengan bosnya yang sudah melamun sejak tadi pagi, langsung mendekati meja Jaka dan menggebrak meja itu sedemikian rupa.


Brraakk!!


"Shiit!!" Umpat Jaka saat mendengar suara itu.


Paul sendiri dengan sekuat tenaga berusaha menahan tawa.


"Brengsek lo!! Dasar asisten kampret!"


Paul yang mendengar cacian itu hanya bisa tertawa puas.


"Makanya, kalau orang bicara itu tuh ditanggepin. Ini, udah diam-diam aja kaya orang kesambet. Masalah kalian masih belum selesai juga?" tanya Paul yang sudah menarik kursi di depan bosnya dan mendudukkan dirinya di sana.


Paul lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai memesan makan siang untuk ia dan bosnya.


"Menurutmu? Bukankah aku menyuruhmu untuk menemukan Angel dan membawanya ke hadapan Bapak? Apa sudah kamu lakukan?" tanya Jaka yang kemudian melemparkan sebuah gumpalan kertas ke arah asistennya itu.


"Belum sih." jawab Paul yang berhasil menangkap gumpalan kertas itu.


"Nah, itu kamu tahu! Kunci dari semua ini kan, ada di situ. Sudah seminggu dan kita belum menemui bapak!" ungkap Jaka tidak mau kalah.


"Bos tau, kan... Kalau Angel itu ternyata di-backup sama Aldo. Sekarang orang itu sudah bebas, karena bukti-bukti yang mengarah kepadanya juga tidak terlalu berat. Aldo itu licin banget. Bahkan kakaknya saja memerlukan waktu yang cukup lama untuk menemukan dia."


"Cih! Licin. Kamu fikir dia belut?"


"Iya kali..." gumam Paul pelan.


"Bagaimana dengan Reza? Apa kamu sudah minta tolong dengannya?"


"Sayangnya kita sudah tidak bisa minta tolong dengannya lagi. Dia sudah di dalam zona merah dan ia tidak bisa menerima komunikasi dari luar."

__ADS_1


"Luar biasa." Jaka menimbang-nimbang.


Tok tok tok


Sebuah suara ketukan pintu mengagetkan mereka berdua. Setelahnya, seorang wanita masuk membawa dua buah bungkusan di tangan.


"Hai, apa aku mengganggu?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Esmeralda.


Paul yang menyadari kedatangan wanita pujaan hatinya itu, langsung menyambutnya dengan sebuah ciuman di bibir. Satu hal yang membuat Jaka semakin jengkel dengan asistennya.


Ia lalu mengambil bungkusan itu dan meletakkannya di atas meja kerja Jaka.


"Apa kau membawakan kami makan siang?" tanya Paul bingung.


Esme lalu menggeleng dan duduk disamping Paul tanpa dipersilahkan.


"Aku bertemu dengan Abang delivery-nya tadi di depan. Dia menanyakan ruangan Pak Jaka, jadi sekalian saja aku yang membawanya ke sini." jelasnya lagi.


"Terima kasih, ya..." jelas Jaka sambil membuka bungkusan itu.


Paul yang melihat bosnya seperti itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.


Jaka yang merasa dirinya menjadi bahan pembicaraan, hanya bisa menatap tajam kearah asistennya yang kampret itu.


"Hei, Sudahlah. Sebaiknya kalian makan siang dengan benar. Setelah itu aku ingin membicarakan sesuatu tentang seseorang." jelas Esmeralda yang sedang membuka bungkusan untuk kekasihnya.


Kata-katanya membuat kedua orang itu benar-benar penasaran. Tapi sesuai dengan keinginannya, mereka berdua mulai menikmati makan siang itu.


.


.


.


Esmeralda membuka tasnya dan memberikan sebuah amplop coklat berukuran seperti buku tulis kepada Jaka dan Paul. Jaka yang menerima pemberian itu langsung membuka ikatannya nya, ia penasaran sekali dengan isinya.


"Sial..." Umpat Jaka lirih.


Sebuah gambar pengeroyokan seorang laki-laki yang bisa di pastikan adalah Indra Sanjaya. Pelakunya adalah sekelompok orang yang tidak terlihat jelas.


"Apa kau tau keadaan terkahirnya, sayang?" tanya Paul yang masih serius melihat foto-foto itu.

__ADS_1


"Kata sumber ku, setelah kejadian itu korban masih ada di rumah sakit kecil di New York. Tapi kesokan harinya, jejaknya sudah hilang. Bahkan tidak ada seorangpun yang berani memberitahu apa terjadi dengan Pak Indra. Sorry, Jak!"


"Apa ini?" tanya Jaka saat menemukan sebuah flash disk di dasar amplop.


"Oh itu, itu adalah file aslinya berupa video. Aku pikir mungkin kamu ingin mendengarkan sendiri, apa yang mereka bahasa saat itu." Esmeralda menambahkan.


Tanpa berpikir panjang, Jaka menghampiri laptopnya dan mulai mencari tahu sendiri, apa yang ada di dalam flash disk itu.


"Aku tahu suara ini! Brengsek!!"


Dengan mata tertutup, Jaka memahami dan mendengarkan betul-betul percakapan di dalam rekaman itu.


"Ya, aku juga tau suara itu." Paul menambahkan.


"Besok atur pertemuan dengannya. Jangan sampai rencana ini gagal. Ternyata semuanya hanya pion. Ck! Dasar gak guna!!" umpat Jaka geram.


※※※


»Kediaman Jaka & Sarah«


Tok tok tok


Cklek!


Dengan terburu-buru Betty membukakan pintu. Dihadapannya ada seorang laki-laki dan dua orang bodyguard-nya.


"Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Betty sopan.


"Saya ingin bertemu Nyonya Sarah." jelasnya singkat.


"Baiklah, tunggu sebentar. Akan saya panggilkan..." Betty neninggalkan orang itu.


Orang-orang Bodoh. Ha... ha... ha...


🎭Bersambung🎭


Mohon dukungannya ya!!


Biar karya ini bisa End dengan seru.


Terima kasih semuanya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2