
πHappy Readingπ
Dokter Bagas dan fisioterapis Pak Arnold baru saja pulang.
Sarah senang melihat kondisi ayahnya yang sudah mengalami banyak kemajuan. Ayahnya itu orang yang sangat aktif. Duduk terdiam di atas kursi roda, pasti sangat menyiksanya.
Sarah sedang duduk santai menemani ayahnya saat ponselnya bergetar.
ddrrrttt... ddrrrttt...
π Hallo... Bagaimana kabar kalian?
π Kami baik-baik saja... Apa anda sudah makan?
Tanya Sarah yang bingung harus ngomong apa.
π Sudah. Tadi makan sama Paul di luar.
π Tuh kan... Seharusnya saya yang masak untuk anda...
π Ku anggap kali ini pengecualian. Aku juga sedang mengerjakan sesuatu. Jadi tidak selalu berada di rumah...
π Eemm... Apa Kalila sudah memulai pekerjaannya dirumah?
π Belum sih. Memangnya ada apa?
π Aku tidak ingin kalian sering bertemu. Itu saja. Apalagi saat aku tidak ada...
π Apa kau cemburu?
π Ah, sudahah. Tidak usah di bahas. Aku harus mengantar Ayah ke kamarnya dulu. Terima kasih sudah menghubungi...
Sarah buru-buru mematikan teleponnya. Ia takut, semakin lama bicara dengan Jaka di telepon, semakin terlihat kalau ia sedang kangen pada pria itu.
Setelah mengantar ayahnya kembali ke kamar, Ia juga kemudian turun untuk masuk ke kamarnya sendiri.
Disana sudah ada Betty yang sedang merapihkan baju mereka.
tok tok tok
Axel muncul dengan baju santainya.
"Baru nongol. Dari mana aja?" tanya Sarah yang tidak melihat Axel sejak makan malam tadi.
"Ketemu Cindy, kak. Kasian, sejak ayah sakit, aku tidak pernah mengajaknya makan di luar atau sekedar bertemu... Sudah kayak LDR padahal masih tinggal satu kota..."
__ADS_1
"Dasar bocah... Kalau gitu, kenapa gak di bawa kerumah saja? Kan bisa sekalian kenalan dengan kakak?" tanya Sarah bingung.
"Eeh... bukankah kakak bilang jangan berfikir kesana dulu? Eh, maaf... aku lupa kakak tidak mengingatnya..."
Sarah tersenyum.
"Saat itu dan sekarang berbeda, kan? Kalau hubungan kalian baik, kenapa tidak? Kakak lihat kau juga sudah cukup mapan..." jelas Sarah lagi.
Axel maju untuk memeluk kakaknya. Selama ini ia telah kehilangan sosok kakak yang selalu menjadi tempat curhatnya jika ia sedang bingung. Sekarang, sosok itu hadir lagi. Bahkan juah lebih dewasa.
Sarah menepuk-nepuk punggung Axel. Ia lalu teringat sesuatu.
"Xel, kau ingat Radit kan?" tanya Sarah setelah pelukan mereka terlepas.
"Iya ingat lah kak. Dia atasan Axel di kantor. Kenapa? Kakak kangen?"
"Hush!! Kakak heran aja, kok bisa ya, tadi pagi tau-tau dia muncul. Dia nagih kakak untuk menikah dengannya. Dasar gila!" timpal Sarah yang kembali emosi saat mengingat kejadian tadi pagi.
"Oh, jadi dia datang ke sini? Pantas saja tingkah lakunya mencurigakan banget..."
"Maksudnya mencurigakan?"
"Iya, tadi pagi waktu aku lagi teleponan sama Cindy dan menceritakan tentang kakak, dia sempat lewat dua atau tiga kali gitu. Nggak lama setelah itu, Dia pamit untuk keluar sebentar. Katanya ada urusan..."
"Emangnya dia ke rumah ngapain?"
"Dia turun dari mobil langsung mencium Nyonya Sarah tepat di bibir dan lalu bicara tentang janji untuk menikah suatu saat nanti..." jawab Betty dengan nada datar.
"Mbak Betty!! Enggak usah segamblang itu juga sih, ngejelasinnya..." tegur Sarah.
Betty lalu membungkam mulutnya sendiri.
"Benar begitu kak?" tanya Axel memastikan.
Sarah hanya mengangguk.
"Menurutmu, Kakak pernah berjanji begitu nggak ya? Kok rasanya agak aneh..."
"Sudahlah... Enggak usah dipikirkan. Dia itu cuman cari perhatian aja. Setelah Kakak pergi, dia udah berkali-kali ganti pacar. Katanya sih, Ia dijodohkan dengan wanita yang lebih tua oleh ayahnya. Tapi dia nggak mau. Maka dari itu, dia gonta-ganti pacar... Dari pengakuannya sih, supaya wanita yang dijodohkan dengannya itu jadi ilfil. Tapi kayaknya wanita itu enggak terpengaruh... Kalau dia datang menemui Kakak lagi, bilang sama aku, Biar aku yang ngusir... Sudah jelas ada maunya saja..."
"Ya ampun... kok kisahnya ngeri banget sih... Terus dia mau apa sama kakak? Memangnya kalau dia sama kakak, perjodohan dia batal gitu aja? Gak nyambung kan..."
Kakak itu true love nya kali... batin Axel.
"Gak usah di ladenin ya kak. Mbak Betty, besok-besok kalau dia datang lagi, tonjok aja mbak. Jangan kasih ketemu sama kakak..." Axel memberi tahu.
__ADS_1
"Ck! Kamu ini, seenaknya saja menyuruh orang begitu. Kalau di polisikan, baru tahu!" Sarah mengingatkan.
Obrolan itu berakhir tepat saat Sarah sudah mulai mengantuk.
"Apa anda ingin hal lain, nyonya?" tanya Betty yang melihat Sarah bangkit lagi dari tempat tidurnya.
"Hanya ingin minum..."
"Tunggu saja, biar saya yang ambil." Betty beregas keluar untuk mengambil sebotol air mineral di dapur.
β»β»β»
Lokasi Jaka
Jaka, Paul dan Detektif Lee sudah berada lagi di Penginapan Xaheed. Mereka datang dengan sedikit penyamaran.
"Kami ingin bertemu dengan penjaga pintu belakang... Tinggi besar dengan kepala botak. Emm... Brian, eeh Roki, bukan... Codet..." gumam Detektif Lee yang asal menyebutkan nama.
"Maksud bapak-bapak ini, Roy? Yang botak disini cuma Roy..." jelas seorang porter dengan senyum mengembang.
"Mungkin. Dimana dia sekarang?" tanya Jaka to the point.
"Sayang sekali, ia sudah tidak berkerja disini berbulan-bulan lalu..."
"Tepatnya?" Paul tidak puas dengan jawaban orang itu.
"Saya kurang ingat. Pokoknya saat ada ramai-ramai kasus pembunuhan itu loh... Padahal orang yang dikira mati itu masih hidup." anak itu terkekeh.
"Hah? Bagaimana bisa? Saya baca di koran, korbannya meninggal kok?!" protes Detektif Lee yang sangat yakin kalau korban telah meninggal. Ia melirik Jaka dan Paul sekilas.
Karena sudah di pastikan meninggal, mereka tidak menyelidiki asal-usul pria itu lebih lanjut.
Jaka lalu memberi kode agar Paul dan Detektif Lee membawa porter itu kedalam mobil untuk di tanyai lebih dalam.
"Eh! Saya mau dibawa kemana?" protes pria itu pada Paul dan Detektif Lee yang mengangkatnya begitu mudah.
"Diam. Atau saya antar ke kantor polisi karena menutupi kebenaran..." jelas Detektif Lee sambil memamerkan lencananya.
Anak ingusan itu kecut mendengar ancaman yang ditujukan padanya. Kini ia menyesal sudah terlalu banyak bicara.
π°Bersambungπ°
Jangan lupa kasih dukungan kalian ya...
Terima kasih...
__ADS_1