Lay With The Devil

Lay With The Devil
Saudara Ayah


__ADS_3

Jaka terbangun. Ia melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul dua lewat sepuluh. Ia penasaran dengan Sarah. Jaka keluar kamarnya sekalian ingin minum kedapur.


Nafasnya tercekat saat ia tidak menemukan sarah disana. Ia memanggil-manggil wanita itu.


"Aku disini...", Sarah menyahut dari arah dapur.


Jaka menyusulnya. Ternyata Sarah sedang memakan Es Krim yang ia beli entah kapan. Jantungnya harus olah raga semalam ini. Dasar.


"Mengapa tidak tidur?",


"Entahlah, dua kecoa itu terus berputar-putar di otakku. Aku jadi tidak bisa tidur. Aku membayangkan mereka keluar dari kamar dan mulai terbang ke arahku. Ugh! memikirkannya saja membuatku merinding...", Sarah memegang tengkuknya.


Jaka merasa bersalah juga. Mengapa ia membiarkan Sarah tidur diluar sendirian.


"Mengapa sepertinya kau memiliki banyak sekali phobia?", tanya Jaka yang kemudian meneguk air mineral yang baru ia buka.


"Kalau bisa aku tidak ingin memiliki phobia. Asal bapak tau, punya phobia itu melelahkan... Lagipula juga, kecoa bukan salah satu phobia ku. Aku hanya pernah trauma. Kalau ia berada jauuuuuh denganku, atau aku melihatnya di TV dan sebagainya, aku tidak masalah...",


Jaka membuang botol kosong kedalam tempat sampah.

__ADS_1


"Kau, tidurlah di kamarku. Aku akan tidur di sofa. Besok kita akan bertemu dengan keluargamu kan... Aku tidak ingin kau terlihat mengerikan dengan kantung mata seperti panda", Jaka meninggalkan Sarah yang masih asik menyuap es krim nya.


"Terima Kasih", Sarah manjawab singkat.


Pikiran sarah melompat jauh saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Amerika.


Saat itu Neneknya sedang sakit. Kakek membawanya dari Jerman ke Amerika untuk berobat. Hampir dua tahun lamanya mereka tinggal disana. Di apartemen yang mereka beli. Kakek memang lumayan berada. Ia memiliki perusahaan yang bergerak di bidang industri di Jerman. Tapi semenjak nenek sakit, Kakek melimpahkan perusahaannya itu kepada ketiga anaknya. Paman Bruno Clay, Ayahnya Sarah - Arnold Clay - dan Paman Roger Clay. Kakek memberikan masing-masing tiga puluh persen saham kepada ketiga anaknya. Tapi Ayah Sarah memutuskan untuk menjualnya kepada Paman Bruno karena ia ingin mengunjungi kampung halaman ibunya Ny. Ayuningtias. Indonesia.


Paman Bruno dan Paman Roger menjalankan perusahaan dengan sangat baik. Namun kemudian Kakek meminta Paman Roger yang masih singel untuk menyusul mereka ke Amerika. Rupanya kakek agak kesulitan untuk mengurus Nenek sendirian. Paman Roger menuruti permintaan ayahnya.


Setahun di Amerika, Paman Roger menemukan belahan jiwanya. Mereka melaksanakan pernikahan saat nenek dalam kondisi sehat. Tapi setelah dua bulan, Nenek meninggal karena komplikasi. Kakek cukup terpukul karena mengira istrinya akan pulih. Ia kemudian kembali ke Jerman membawa serta Abu Istrinya yang telah di kremasi.


Sedangkan Paman Roger bertahan di sana dengan Istrinya. Ia menjual Saham perusahaannya kepada Paman Bruno. Ia kemudian membuka Restoran bersama istrinya. Kabarnya, sekarang ia memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya Karrie delapan tahun di bawah Sarah.


Seharusnya Sarah tidak perlu kerja keras seperti ini. Tapi lima tahun lalu, perusahaan tambang miliknya yang ia mulai setelah menikahi Ibunya, harus mengalami bangkrut karena ditipu oleh rekan kerja nya. Orang itu


membawa kabur uang perusahaan dan menggadaikan hampir semua alat berat yang dimiliki ayah Sarah.


Sejak saat itulah Sarah bekerja keras. Ia berjanji untuk membantu perusahaan ayahnya agar hidup lagi. Kedua adiknya masih duduk di bangku kuliah. Sarah melarang mereka untuk bekerja. Axel dan Sandra. Sarah begitu menyayangi mereka. Sarah tidak ingin mereka mendapatkan pendidikan yang jauh di bawahnya. Ia ingin adik-adiknya lebih sukses darinya. Ia ingin pada saatnya nanti, orang tua mereka hanya harus menikmati hari tua tanpa perlu memikirkan uang. Anak-anak mereka yang menjamin semuanya.

__ADS_1


Sarah kembali ke diri nya saat ini. Bekerja dengan jabatan yang lumayan baik. Tapi harus tersandung masalah yang tidak mengenakkan.


Kalau saja ia menolak Rini, saat perempuan itu minta tolong agar Sarah mengantarkan berkas ke departemen keuangan... Ia tidak harus melihat Margo yang berada tidak pada tempatnya.


Menyesal memang selalu datang di akhir.


"Sarah, ini sudah jam tiga. Kapan kamu tidur?",


Suara Jaka mengagetkannya. Ia membuang cup es krim yang telah kosong.


"Oke...", Sarah menurut.


Sarah masuk ke kamar Jaka. Dengan agak ragu ia berbaring di ranjang yang tadinya milik Jaka.


Hal pertama yang ia cium adalah wangi aftershape milik Jaka. Laki-laki itu baru bercukur semalam.


Ssthhhh!!! Stop Sarah!! Berhenti memikirkan orang itu. Kamu bisa gila!!


Akal sehatnya mengingatkan.

__ADS_1


Ia harus tidur. Besok ia akan menemui Paman Roger.



__ADS_2