
Pak Ismail dan istrinya sedang bersama dengan seseorang yang mereka undang.
Tepat setelah Jaka dan Sarah pulang, Pak Ismail menghubungi pengacaranya. Sekarang mereka bertiga sedang berada di ruang kerja Pak Ismail.
"Apa bapak masih menyimpan foto keluarga mereka?",
"Ada disalah satu file saya. Mengapa tiba-tiba menanyakannya?", tanya Pak Sultan sambil kemudian menyalakan notebook yang selalu Ia bawa.
"Ada apa pak? Memangnya kalian ini membicarakan apa sih... ", Bu Ningsih berada disana tapi tidak tau apa-apa "Ibu keluar dulu ya Pak. Mau ke dapur liat Mimin masak apa... Sekalian mau buat air...".
"Oh, iya bu. Ini masalah kerjaan juga. Pak Sultan minum kopi atau teh?", Pak Ismail bertanya pada tamunya.
"Teh saja, Pak. Terima kasih...", tamu mereka menjawab.
Ibu Ningsih beranjak. Ia keluar dari ruangan itu.
"Jadi bagaimana Pak?", Pak Sultan bertanya kepada Pak Ibrahim.
"Ah, tidak Pak... Beberapa hari lalu saya bertemu seseorang dan terlihat sangat familiar dengan penampilan blasterannya itu. Jadi saya mengingat-ingat lagi siapa saja rekan bisnis saya atau teman-teman saya yang merupakan kan orang luar...", Pak Ismail berusaha untuk menjelaskan seperlunya karena ia sendiri belum yakin dengan apa yang ia pikirkan.
Tidak sampai lima menit kemudian, Pak Sultan sudah memperlihatkan sebuah slide foto keluarga sepasang suami istri dan tiga anaknya. Dua perempuan dan seorang laki-laki.
Pak Ismail kemudian memakai kacamata bacanya. Ia mengamati foto itu baik-baik. Tanpa ia sadari, tinjunya mengepal. Ia mulai memikirkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi.
Aku yakin sekali, Ia datang diantara keluargaku untuk merebut surat-surat itu...
Pasti orang itu yang menyuruhnya... Dasar licik!!
※※※
Sarah tersedak. Dengan buru-buru ia meneguk air minum yang ada di sampingnya.
"Kenapa sih Dek? Pelan-pelan aja makannya. Keripik nya pedes banget loh...", Kak Andini memperingatkan.
Mereka berdua sedang ngemil basreng (bakso goreng) sambil menonton sinetron yang sedang diputar di layar televisi.
"Ini sih bukan pedes lagi Kak, udah kayak racun!! Suka banget sih beli yang begini...", sahut Sarah setelah menghabiskan air minumnya.
"Iya, kayak racun... tapi nagih kan...", Kak Andini menimpali.
__ADS_1
"Itu kan gara-gara banyak banget micinnya..",
"Halah... sudahlah dek, sekali-kali makan micin boleh kan...", kedua wanita itu tertawa sampai terbatuk-batuk.
Tidak lama kemudian terdengar suara Bima yang memanggil-manggil ibunya. Anak itu kemudian menyusul mereka yang sedang asyik nonton televisi dan kemudian duduk di pangkuan Kak Andini.
"Oh iya kak, nanti malam Sarah mau keluar... Diajak makan malam sama teman, kakak dan Bima mau ikut?",
Bima yang biasanya cepat tanggap saat mendengar ajakan dari Sarah, kali ini hanya diam saja sambil lihat ke arah televisi yang sedang menayangkan iklan. Tampaknya ia belum benar-benar bangun.
"Sama Jaka yang ngantar kamu tadi pagi? Ngapain Kakak sama Bima ikut? Kan kalian mau makan malam... yang ada juga, Kakak cuma jadi obat nyamuk...", Kak Andini menolak mentah-mentah.
"Ih apaan sih Kakak! Kita berdua itu cuma teman... Apalagi, dia anak Bos Sarah...",
"Kan... banyak tuh, di film-film atau di novel-novel kalau karyawan biasa itu bisa pacaran sama bosnya...", Kak Andini tidak mau kalah.
"Halow Kak... Itu semua cuman cerita karangan. Pada kenyataannya enggak segampang itu. Pastilah, mereka mencari pasangan yang status sosialnya itu nggak jauh-jauh dari mereka... kenyataannya gitu sih...",
"Ah! Enggak juga sih dek... Namanya jodoh, kan bukan manusia yang ngatur... Bisa aja Pangeran berjodoh dengan tukang sayur. Mana ada yang tahu...", Kak Andini mengumpamakan.
"Jadi kakak bener-bener nggak mau ikut nih, nanti malam? Ditraktir makan loh...",
Mungkin sudah saatnya anak ini punya kehidupan sendiri. Paling tidak aku bisa menjaganya sampai ia memiliki sandaran baru dalam hidupnya.
※※※
Sarah mengintip dari kamarnya. Ia melihat kakaknya sedang ngobrol dengan Pak Jaka. Orang itu baru tiba lima menit yang lalu dan ia sudah bisa akrab dengan Kak Andini.
Sarah hanya tinggal pakai lipstik sedikit dan ia siap. Ia mengenakan dress yang di belikan Pak Jaka saat mereka di Amerika. Dress itu tidak sempat dipakainya.
Dengan tas kecil untuk ponsel dan dompetnya, Sarah siap. Ia menarik nafas panjang dan tersenyum dengan dirinya sendiri di depan cermin.
Semoga tidak terjadi hal buruk!!
Sarah keluar dan menyapa Pak Jaka dan kakaknya.
"Maaf lama...",
Kedua orang itu menoleh. Dan mereka terlihat agak kaget dengan penampilan Sarah. Sarah malah merasa ada yang aneh dengannya.
__ADS_1
"Eh... kenapa... terlalu berlebihan ya?", padahal Sarah hanya mengganti lipstik peach nya dengan yang agak merah.
"Enggak kok... Keliatan lebih dewasa aja kamu dek... Sudah mau pergi kan? Jangan telat ya... Semoga malam kalian menyenangkan...", Kak Andini menyemangati.
"Saya permisi dulu. Saya akan antar Sarah pulang tepat waktu...",
"Gak pulang juga gak masalah sih... heheheh.. semalam juga keluar kan...", Kak Andini menggoda.
"Ih, Kakak.... kok..",
"Ah. udah deh. Jam berapa ini... byeee", Kak Andini mengarahkan kedua orang itu ke pintu keluar. Sekilas ia mengedipkan mata pada kedua orang itu.
※※※
Jaka fokus dengan mobil yang dikendarainya. Mobil yang sama dengan yang mereka gunakan saat pergi ke pantai semalam.
"Aku minta maaf atas kelakuan Kak Andini... Tidak biasanya dia begitu...",
"Apa biasanya dia jutek dengan laki-laki yang mengajakmu kencan?",
"Ha? Apa? Tidak!! Aku tidak pernah kencan dengan siapapun!!", Sarah berusaha mengklarifikasi.
"Itu satu berita yang mengejutkan... Jadi, aku kencan pertama mu?",
"Eehem... sudah lah pak. Jangan dibahas terus. Aku malu. Aku kan datang ke kota ini untuk berkarir. Bukan untuk mencari jodoh...",
"Loh.. kita kan tidak bicara tentang jodoh... Hahahaha...", Jaka sangat suka menggoda Sarah. Dan Sarah selalu salah tingkah. Ia cukup sadar kalau saat ini wajah Sarah memerah karena malu.
"Maaf ya... Aku hanya bercanda...", Jaka meraih tangan kanan Sarah dan mengecupnya sekilas.
Aku yakin dan harus malam ini. Mungkin kesempatan tidak akan datang dua kali...
♡
♡
♡
__ADS_1
bersambung....