Lay With The Devil

Lay With The Devil
Abang dan Kakak Ipar


__ADS_3

Sarah turun dari mobil yang membawanya ke sebuah rumah sederhana. Sekilas ia melihat seorang wanita sedang menjemur pakaian di samping rumah.


Lokasi rumah itu agak jauh dari tetangga lainnya. Di belakangnya ada bukit yang sepertinya digunakan sebagai lahan bercocok tanam.



"Turunlah. Aku akan memperkenalkan.. eem.. lagi, dengan kakak iparmu. Bersikaplah yang baik."


Rumah berwarna ungu itu benar-benar terasa asing.


Apa benar aku tinggal disini? Kok aku sama sekali tidak ingat ya...


"Sinta! Kemari sebentar..." Orang itu memanggil istrinya.


Seorang wanita yang seumuran dengan Sarah muncul dari pintu dapur. Wanita itu hanya menggunakan daster dan rambutnya ia gulung sembarangan.


"Iya, bang?" wanita itu terlihat bingung mau ngapain. Ia lalu menarik Sarah, mengajaknya duduk di ruang tamu.


Laki-laki tadi meninggalkan mereka berdua dan masuk ke kamarnya.


"Kamu benar-benar hilang ingatan? Enggak ingat sama sekali?"


Wanita itu terlihat agak takut. Tapi seperti apa yang diberitahukan suaminya melalui telpon tadi, ia harus bersikap sebagai kakak ipar Sarah.


Sarah mengangguk.


"Memangnya namaku siapa Kak?"


"Namamu Sarah... Sarah Andira. Sebelumnya kamu tinggal dengan sepupumu di kota. Tapi kata Abangmu, kamu menghubunginya kemarin lusa agar menjemputmu pulang. Kamu bilang ada yang berusaha menjahati mu di sana... dan kakak yakin kamu pasti tidak mengingat nya..."


Tidak sia-sia ia ikut eskul akting saat SMA dulu. Hanya tinggal menyamakan cerita dengan suaminya.


"Begitu ya? Aku sama sekali tidak mengingat apa-apa... Bagaimana dengan orang tua kami?" Sarah masih diliputi rasa penasaran.


"Mereka sudah lama meninggal... kau tinggal disini sebelum akhirnya pindah ke kota untuk bekerja... Ngomong-ngomong namaku Sinta. Kamu ingat nama abangmu kan?" Wanita itu semakin lihai berbohong.


Sarah menggeleng yakin. Dari tadi mereka tidak saling bicara, apalagi berkenalan.


"Itu bang Aris. Kalian saudara beda ibu. Jadi jangan tanya kenapa tidak ada kemiripan di antara kalian."


Sarah mengangguk-angguk. Ia menerima semua informasi itu. Memangnya mau bagaimana lagi?


Sinta kemudian mengantar Sarah ke dalam kamar yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Kamar itu terdiri dari sebuah tempat tidur berukuran kecil, sebuah nakas dan sebuah lemari baju berukuran sedang.


__ADS_1


"Baru jam sembilan, sebaiknya kamu istirahat dulu. Perjalananmu jauh sekali... Nanti sore, kita ke pasar kaget. Kita cari pakaian untukmu..." Sinta meninggalkan Sarah sendirian.


Sarah sendirian, ia menutup pintu dan menguncinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur...


Seperti kata kakak iparnya, ia perlu istirahat. Baru saja ia berbaring, rasa kantuk sudah menguasainya. Sarah terlelap.


โ€ปโ€ปโ€ป


Jaka tidak pergi ke kantor pagi ini. Ia lelah semalaman mencari istrinya.


Setelah pulang dari penginapan Xaheed, mereka langsung kerumah Debby. Jaka mengancam akan membunuh Debby jika benar-benar ada hubungannya dengan hilangnya Sarah. Bahkan Jaka mengatakannya di hadapan Pak Maulana.


"Pulanglah. Atau kami akan memanggil polisi!" kata Pak Maulana saat itu.


Paul mengajaknya pulang. Mereka tidak bisa melibatkan polisi untuk saat ini. Sarah bisa terseret kasus yang lebih berat.


dddrrrttt.... dddrrttt...


Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Paul.


๐Ÿ“ž Bagaimana?


๐Ÿ“ž Reza sedang bertugas. Tapi ia akan berusaha pulang besok.


๐Ÿ“ž Apa ada hal lain yang bisa kita lakukan lagi? Bagaimana dengan CCTV penginapan itu? Apa mereka masih tidak mau memberikan akses?


๐Ÿ“ž Mungkin nanti siang. Pagi ini aku masih sangat lelah.


Panggilan di akhiri.


Jaka mengantuk. Tapi otaknya tidak ingin tidur. Ia membayangkan bagaimana keadaan istrinya saat ini. Ia berharap istrinya baik-baik saja.


Jaka memutuskan untuk menghubungi ibunya dan memberi tahu kabar ini. Walaupun ia yang akan dimarahi karena ketololan nya menerima ajakan Debby. Ia tau ibunya.


โ€ปโ€ปโ€ป


ยปยป 3 bulan kemudian ยซยซ


Sarah sudah bekerja di salah satu toko kelontong di dekat rumah abang baru nya.


Sarah yang tidak punya identitas apa-apa, tidak bisa memilih pekerjaan yang lebih baik.


Ia juga merasa harus bekerja karena ia tidak enak dengan abang dan iparnya.


"Ingat ya, pulang kerja jangan keluyuran. Tau kan, di kampung ini lumayan rawan kalau malam..." bang Aris mengingatkan. Lebih tepatnya, ia tidak ingin Sarah keluyuran dan bersosialisasi dengan orang lain.


Pada dasarnya, mereka tau kalau Sarah bukan orang bodoh. Ia hanya hilang ingatan.

__ADS_1


"Iya bang. Sarah juga gak tau mau kemana." Sarah menghabiskan teh hangat nya. Ia lalu beranjak dari meja makan.


Sarah sempat berfikir, apa pekerjaan abangnya. Karena ia tidak pernah melihat abangnya pergi kerja.


"Kak, Sarah pergi dulu..." Sarah pamit kepada Sinta.


โ€ปโ€ปโ€ป


Jaka dan Paul masih menunggu kabar terbaru dari Reza. Reza berjanji kalau software buatannya bisa mendeteksi wajah hingga tujuh puluh persen.


Software itu sudah ia kerjakan selama setahun belakangan ini, hanya saja belum pernah digunakan bahkan oleh instansi tempat ia bekerja.


Jaka meneguk kopinya. Tiga bulan ini pikirannya tidak bisa fokus pada pekerjaan. Ibunya sendiri sudah mengerahkan orang-orang dan kenalan suaminya untuk ikut mencari Sarah.


Pak Ismail? Ia akhirnya tau kalau anaknya sudah menikah dengan Sarah. Awalnya ia murka. Tapi saat mengetahui Sarah hilang, ia jadi iba dengan anaknya sendiri.


โ˜Ž Chloe, ke ruangan saya sebentar.


โ˜Ž Baik Pak.


Ya, setelah kejadian itu Debby tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di Emerald Auto. Chloe langsung di tarik kembali.


"Bapak memanggil saya..."


"Apa jadwal saya hari ini dan besok?"


"Hari ini jam sebelas ada meeting dengan durektur PT. Abdi Karya dan PT. Maximus. Lokasinya di Restoran Casablanka."


"Besok?"


"Besok Pak Tobias dan Pak Ervan ingin bertemu. Katanya masalah penting."


"Kalau begitu hubungi Pak Tobias dan Pak Ervan untuk datang sore ini saja. Saya ada urusan di luar besok."


"Tapi Pak, kalau mereka menolak bagaimana?"


"Kalau tidak bisa hari ini, berarti lusa. Katakan saja begitu pada mereka. Itu saja."


"Baik Pak." Chloe undur diri. Wanita itu keluar dan langsung mengelurkan ponselnya.


Jaka lalu menghubungi Paul. Asistennya itu sedang di luar kantor mengurus sesuatu.


๐Ÿ“ž Jika besok alat Reza tidak bisa menemukan Sarah, aku akan lapor polisi.


๐Ÿ“ž Baiklah. Tapi kau tau konsekuensinya kan?


๐Ÿ“ž Sarah di tangkap? Aku tidak peduli. Yang kuperlukan sekarang adalah mengetahui kalau ia baik-baik saja. Masih bernafas dan tidak kurang satu apapun.

__ADS_1


Seharusnya aku lapor sejak awal. Bodohnya aku, percaya kalau bisa menemukannya sendiri...


__ADS_2