Lay With The Devil

Lay With The Devil
Ultrasonografi (USG)


__ADS_3

⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠


📣Warning!! 21+


Mengandung sedikit konten dewasa. Kebijakan pembaca di harapkan. Yang belum cukup umur harap skip sebagian dari episode ini.


————————————🌈———————————


🌛Happy Reading!🌜


Jaka dan Sarah sudah sampai di rumah sakit tempat doker Fandy bekerja. Tapi bukan dokter Fandy yang akan meriksanya kali ini, karena ia hanya dokter umum. Mereka akan bertemu dengan dokter Billa. Dokter kandungan terbaik yang dipilihkan oleh nyonya Ningsih.


Walaupun mereka sudah berangkat sangat pagi, namun tetap sampai agak terlambat karena mereka mampir untuk sarapan dulu tadi.


"Nomor dua puluh tujuh... Masih lama banget ya? Sekarang aja baru nomor sembilan..." gumam Sarah sambil memandangi kertas antrian itu.


Ia berharap angkanya berubah. Paling tidak menjadi sembilan belas... Namun hal itu hanya khayalannya saja. Mana mungkin angka yang tercetak disana tiba-tiba berubah...


Dengan gusar diutak-atiknya ponsel miliknya sendiri. Jaka sendiri tengah menelpon seseorang di ujung ruangan. Ia tidak ingin suaranya mengganggu orang lain katanya.


.


.


.


.


Jaka mendengus kesal.


📞 Jangan dulu!! Aku tau kalau ia terlibat. Lalu setelah kemarin ia melihat Sarah, aku yakin ia akan menemui rekannya. Ia terlalu naif untuk melakukan semuanya sendirian. Aku hanya ingin tau siapa dalangnya. Laporkan saja semuanya padaku.


Jaka memutuskan hubungan.


Di ujung line, Reza kembali memperhatikkan gerak-gerik targetnya melalui layar monitor. Orang itu masuk kesebuah hotel berbintang dengan seorang laki-laki.


Lagi-lagi... Dua kali dalam sehari. Aku heran bagaimana bisa ia hidup begitu... Batin Reza kecut.


Uang memang mengendalikan segalanya, ya!


※※※


Di Hotel Grand Bell


Debby menuruti permintaan tuan Aldo. Dengan perlahan, ia melepas bajunya sendiri. Alunan musik yang di putar membuatnya terus melenggak-lenggokkan tubuhnya yang sudah hampir polos.


Jika bukan karena mu, aku tidak perlu melakukan ini! Tuan Aldo akan membantuku menyelesaikan masalah kita. Hahahaha...


Lawan mainnya seperti sudah tidak sanggup menahan gairah. Dengan kasar ia menarik Debby untuk lebih mendekati dirinya. Kini Debby sudah duduk di atas tubuhnya. Dengan kasar tuan Aldo menjamah tubuh polos Debby.


"Argh... Dasar pelac*r cilik... Beraninya kau mempermainkanku..." geram tuan Aldo saat Debby menggerakkan tubuhnya perlahan.


Bibirnya mulai memainkan kedua bukit kebar dihadapannya bergantian.


"Aaawwwcch... A-aku? Mana berani aku melakukannya... Mengapa kau tidak menikmati-nya saja, tuan?"

__ADS_1


Pertanyaan menggoda Debby itu dibungkam tuan Aldo dengan bibirnya. Tangannya yang dipenuhi berbagai gambar tatto, sibuk meremas dan mengelus tubuh lawan mainnya kali ini.


"K-kau berjanji akan meng-habisinya untukku kan? Aaawwhh..." tanya Debby disela kesibukan mereka.


"Apapun yang kau ingikan... Puaskan aku sayang!!"


Dengan sekali gerakan saja, pria itu sudah mengangkat tubuh langsing Debby dan menjatuhkannya di atas tempat tidur hotel. Berbanding tebalik dengan tubuhnya yang tinggi besar, tubuh Debby tidak ada apa-apanya.


Dengan senang hati Debby melakukan apa yang diminta lawan mainnya.


Semuanya memang butuh pengorbanan, kan?


※※※


Rumah Sakit Mutiara Kasih


Ruang Tunggu dr. Nabilla, SpOG


Sarah hampir saja tertidur saat suara panggilan nomor antrian kemudian membuatnya terjaga. Jaka sudah kembali dari tempatnya menelpon dengan membawa beberapa jenis minuman kotak.


Jaka yang melihat rasa kantuk di mata istrinya lalu duduk di samping Sarah.


"Pakailah bahuku sebagai bantal... Nomor antriannya masih jauh..." jelas Jaka menepuk-nepuk bahunya sendiri.


Sarah ingin menolak karena tidak enak jika dilihat orang lain. Tapi rasa kantuknya sudah sampai dipuncaknya. Sekali tutup mata saja ia yakin ia akan terlelap. Dengan canggung, ia menyandarkan kepalanya di bahu kiri suaminya. Jaka mengambil alih kertas antrian yang hampir terjatuh dari tangan Sarah.


Apa kau lelah karena semalam sayang... gumam Jaka dalam hati. Ia kembali tersenyum mengingat apa yang mereka lewati tadi malam.


※※※


Jaka mengelus-elus pipi Sarah agar istrinya itu bangun.


"Sayang, bangun yuk. Sebentar lagi giliran kita..." Jaka berbisik.


"Nak... ayo bangun." Pak Ismail ikut membangunkan menantunya itu.


"Jaka! memangnya tidur Sarah tidak nyenyak ya?" nyonya Ningsih menuduh Jaka.


Suara ibu mertuanya itu sukses membuat Sarah bangun. Walau perlu waktu beberapa saat sampai semua kesadarannya terkumpul.


"Eh, Ibu... Bapak... Aduh... Maaf Sarah tidak tau kalian sudah datang..." Sarah berusaha menahan malu.


"Pak Jaka... saya mau ke toilet dulu..."


"Ayo sama aku."


"Bapak disini saja sama Ibu dan Bapak..."


"Ck! Yang hamil itu kamu. Kamu yang harus dijaga... Ngapain saya jagain bapak dan ibu, coba?" jelas Jaka yang sudah berjalan mendahului istrinya. Ia lalu kembali untuk merangkul bahu Sarah.


※※※


Dokter Billa tersenyum saat mengetahui kalau pasiennya adalah anak menantu dari nyonya Ningsih. Merek memang tidak seumuran, tapi Nyonya Ningsih dan dokter Billa adalah teman sosialita. Maksudnya, mereke bertemu dan berteman dalam acara-acara amal yang di adakan ornag-orang kaya. Suami dokter Billa adalah pengusaha sukses berusia lima puluh dua tahun. Tujuh tahun lebih tua darinya.


"Wah... wah... Tidak menyangka akan bertemu dengan Jaka dan istrinya disini..." jelas doker Billa menjabat tangan mereka bergantian.

__ADS_1


"Ia, dok. Ini pemeriksaan perdana Sarah. Jadi saya merekomendasikan dokter Billa. Tenang saya, kalau kenal sama dokternya..." jelas Nyonya Ningsih lagi.


Pemeriksaan pun dimulai. Sarah diminta berbaring di atas tempat tidur. Dokter Billa lalu meminta ijin untuk menaikkan sedikit baju atasannya.


Asisten dari dokter Billa mulai mengoleskan gel ke atas perut Sarah.


Dingin... batin Sarah.


Dokter Billa mulai meletakkan alat transduser - merupakan komponen pada alat USG yang berbentuk gagang pipih yang mudah digenggam oleh tangan. Ujungnya berbentuk hampir setengah lingkaran, yang ditempelkan di dinding bagian perut atas atau bawah - dan mulai menggerakkannya.


Senyuman tersungging di wajahnya yang tirus.


"Saya senang sekali memberi tahu hal ini. Selamat ya Jaka dan Sarah. Kalian akan memiliki anak kembar..." jelas dokter itu sambil terus memperhatikan layar monitor.


"Be-benarkah, dok?" tanya Jaka menjadi agak gugup.


"Benar. Lihat ini... ini jantung mereka..." dokter Billa menunjuk ke arah monitor.


Karena USG yang digunakan sudah empat dimensi, mereka bisa dengan mudah mengerti penjelasan-penjelasan dokter Billa.


"Di usia kandungan yang sudah tujuh belas minggu, seharusnya perutmu sudah terlihat lebih besar. Apalagi ada dua janin di dalam sana. Sebaiknya kau perbaiki pola makan mu dan perbanyak makanan bergizi ya... Saya akan meresepkan vitamin yang bagus dan susu kehamilan yang cocok..." jelas dokter Billa. Ia mengakhiri kegiatannya.


Setelah mencuci tangan, ia mulai menuliskan resep.


Jaka menangkap raut wajah Sarah yang terlihat khawatir. Ia berusaha menenangkannya dengan belaian lembut di kepala Sarah.


"Baik-baik saja sayang?"


"Ah, iya... Masalah kram itu..." gumam Sarah pelan.


Tapi dokter Billa mendengarnya.


"Kau mengalami kram? Itu hal biasa... Mungkin kau terlalu berlebihan saat meregangkan otot-ototmu. Boleh melakukannya sesekali, tetapi tidak boleh terlalu kuat. Biasanya akan memicu kram kaki..." jelas dokter Billa mengerti kehawatiran pasiennya.


"Terima kasih, dok... Oya, apa sering mengantuk saat kehamilan itu biasa?" tanya Sarah lagi.


Ia merasa mudah mengantuk walaupun sudah tidur cukup.


"Hal biasa... Kau lebih cepat lelah karena membawa dua janin sekaligus. Biasanya juga, menjadi lebih cepat lapar..."


Sarah lega karena semuanya normal.


Mereka lalu berterima kasih pada dokter Billa karena sudah menjelaskan semua hal tentang kehamilan ini.


"Ibu tidak sabar menimang cucu dari kalian, nak..." nyonya Ningsih memeluk Sarah.


Mereka harus berpisah. Jaka dan Sarah akan ke swalayan dulu untuk mengisi keperluan dapur. Nyonya Ningsih dan suaminya memutuskan untuk lansung pulang saja.


"I Love you sayang..." bisik Jaka saat kedua orang tuanya itu sudah menjauh. Ia lalu merangkul istrinya agar segera masuk ke mobil.


Sarah dan kembar adalah segalanya saat ini. Papah berjanji akan menjaga kalian dengan sebaik-baiknya...


🌸bersambung🌸


Jangan lupa tinggalin Like, Vote, Koment, Rate & klik ❤.

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti!!


Terima Kasih 😘


__ADS_2