
Lagi-lagi mata Sarah tertuju pada meja kosong di sebelah Pak Samsul. Padahal setelah kejadian itu, Ia sudah berusaha keras untuk bicara pada Pak Usman. Ia ingin agar orang itu tidak bicara kemana-mana. Tapi Pak Usman selalu menghindar dan tidak memberikannya kesempatan sama sekali.
Sarah bahkan sudah sangat nekat untuk megirimkan nomor ponsel pribadinya pada orang itu.
"Kepalang basah... Aku tidak bisa mundur ditengah jalan... Karirku bisa hancur...", Sarah bergumam pada diri sendiri.
Ia kemudian dikagetkan dengan sentuhan lembut di tengkuknya. Pak Alfandi menghampirinya.
"Saya ingin data ini di revisi, Besok sore akan ada meeting dewan direksi. Kerjaanmu akan di handle dulu oleh mbak Jennie...", jelas Pak Alfandi. Orang yang dimaksud tersenyum simpul.
Sarah tau, meng-handle pekerjaan itu hanya formalitas saja. Nyatanya, yang diserahi tanggung jawab pasti akan mengerjakan seadanya. Itupun kadang Sarah harus double cek agar pekerjaannya gak berantakan.
Setelah Pak Alfandi pergi, Nyata sekali Paul melihat kalau Sarah melambai ke arahnya.
Padahal kemarin sudah kujelaskan kalau Pak Usman sedang keluar negeri. Gadis ini ngotot sekali. Apa Pak Usman itu, tipe dia banget ya... Paul tersenyum pada sosok itu.
Sarah sudah menduduki kursi kosong milik Pak Usman.
"Pak... Apa anda sibuk?",
"Yeah, lumayan... Saya tidak menyangka data ini begitu membingungkan...", padahal Paul tidak sedang mengerjakan apa-apa.
"Kapan Pak Usman akan kembali?", tanya Sarah tanpa memperdulikan jawaban Paul.
"Saya hanya teman kerjanya mbak... Bukan saudaranya. Jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu...",
__ADS_1
"Tapi waktu kemarin ditanya oleh Pak Alfandi, Sepertinya kalian masih ada hubungan keluarga...",
"Bisa dibilang begitu, tapi kami tidak tinggal satu rumah. Permisi ya Mbak Saya masih banyak kerjaan...", Paul kembali memfokuskan dirinya ke layar komputer yang ada di hadapannya.
Sarah masih duduk di sana. Ia menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan.
°°°
Jaka melihat kembali foto-foto yang telah dikumpulkan oleh Reza. Ia benar-benar ahli dalam bidangnya. Baru semalam Jaka menugaskan Reza untuk mencari tahu tentang Sarah dan apa hubungannya dengan perusahaan, pagi ini Reza sudah menghubunginya dan menyuguhi nya dengan temuan-temuan yang mengejutkan.
"Ini saat gadis mu itu tertangkap kamera CCTV di pernikahan Melisa... ini dia saat peresmian Emerald Auto... ini saat gala Premiere film Broken yang disutradarai oleh suami Kirana dan yang paling mengejutkan ku adalah dia juga ada pada saat ulang tahun Pak Ismail beberapa bulan lalu...", Reza menjelaskan dengan bingung.
"Kalau kamu bingung aku juga bingung... padahal ulang tahun itu hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan orang-orang tertentu dari perusahaan Bapak", jawab Jaka.
"Kalaupun benar dia simpanannya Alfandi, Mengapa aku tidak bisa menemukan kebersamaan mereka disetiap rekaman ini?", tanya Reza.
"Well, aku hanya bertugas mencari buktinya tapi kamu yang jadi detektif nya. Aku akan kirimkan filenya ke e-mailmu", jelas Reza tanpa diminta.
Jaka hanya mengangguk, masih banyak yang harus ia uraikan.
Sesaat sebelum Reza menutup gambar-gambar itu, Jaka melihat sebuah frame yang memperlihatkan kalau Citra sedang tersenyum pada Sarah dan itu seperti titik cerah dalam kegelapan yang sejauh ini dinantikan Jaka.
"Tunggu Za, coba perbesar gambar yang itu", pinta Jaka sambil menunjuk sebuah frame.
Yap!! Betul sekali, matanya tidak bisa dibohongi. Walau terpaut jarak yang agak jauh, tetapi sangat terlihat kalau mereka berdua saling tersenyum. Ia kemudian meminta Reza untuk mencetak gambar itu.
__ADS_1
Sepertinya malam ini aku akan mengunjungi Citra di rumah barunya...
Citra menikah dua tahun yang lalu. Ia dan suaminya yang seorang pengusaha, tinggal di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Tapi beberapa bulan yang lalu mereka pindah ke sebuah rumah pertanian di pinggir kota. Jaka sendiri agak terkejut dengan lokasi yang dipilih Citra, tapi ia sendiri tidak pernah mempertanyakannya.
Jaka kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Citra.
📞Hai Sist, apa kamu di rumah??
°°°
Sarah bingung, kalau memang Pak Usman mendengar pembicaraan nya dengan Pak Alfandi, seharusnya orang itu sudah melaporkan dirinya dan sudah pasti ia akan dipecat saat itu juga.
Tapi melihat dirinya masih berada di perusahaan ini, Sarah berasumsi kalau pak Usman tidak membuka mulutnya. Belum.
"Kalau ia mau licik, pasti ia akan langsung memeras ku. Secara, aku kan sudah memberikan dan nomor pribadiku? Walaupun ia tidak punya bukti apa-apa dan tergolong karyawan baru, tapi ia mengenal pemilik perusahaan ini... Ya Tuhan... apa karir ku memang harus berhenti sampai disini??", Sarah bergumam sendiri sambil memainkan ponsel di tangannya.
Sebentar lagi jam empat sore, semua pekerjaannya sudah selesai. Ia sudah memilah pekerjaan yang bisa dilakukannya besok.
Revisi data yang diminta Pak Alfandi juga sudah ia tuntaskan.
Sarah hanya berharap besok Pak Usman datang dan mau bicara dengannya.
♡
♡
__ADS_1
♡
bersambung....