
⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠
📣Warning!! 21+
Mengandung konten dewasa. Kebijakan pembaca di harapkan. Yang belum cukup umur harap skip episode ini.
————————————🌈———————————
💘Always Happy Reading💘
Jaka meninggalkan Sarah yang sudah pasti menunggu jawabannya.
Sarah lalu kembali ke kamar dan menyalakan TV. Ia mencari salah satu acara TV yang bisa ia tonton. Namun, tidak ada satu siaranpun yang menarik perhatiannya. Ia biarkan saja pencariannya terhenti di acara modeling di negeri Paman Sam sana. American Next Top Models.
Sarah memejamkan matanya. Tanpa sadar, ia terlelap. Itu karena ia sendiri sudah sangat lelah.
Jaka yang baru selesai berpakaian, menyadari kalau istrinya telah terlelap. Ia lalu menaikkan selimut sampai batas pinggang Sarah. Ia sendiri lalu berbaring di samping Sarah.
Kasian banget istriku... Pasti lelah sekali setelah kesana-kesini seharian... batin Jaka.
Jaka lalu maju dan mengecup kening Sarah. Dielusnya perut Sarah yang membuncit.
"Anak pintar. Besok kita ketemu dokter. Kita lihat keadaanmu..." Jaka berbisik.
Sarah sedikit menggeliat. Dengan pelan, di puk-puknya kepala Sarah.
Astaga... Betapa aku merindukanmu sayang... Tidak masalah jika kau tidak mengingat cinta kita. Asalkan kau tidak membenciku, itu sudah cukup... Jangan menghilang lagi ya... Jaka masih memandangi wajah Sarah yang sedang tidur.
Akhirnya ia sendiri tertidur. Para model di acara itu masih saja melenggak-lenggok tanpa ada yang menonton.
.
.
.
Sarah terbangun karena kakinya tiba-tiba kram. Sakitnya sangat luar biasa. Ia yang awalnya hanya merintih kesakitan, sekarangan sudah mulai menangis.
Jaka yang tadinya lelap, akhirnya bangun karena Sarah menarik bajunya.
"Sayang?! Kamu kenapa?!" Jaka terlihat panik. Siapa yang tidak panik melihat kondisi istri yang tiba-tiba merintih menahan sakit dengan tubuh yang tidak bisa bergerak.
"Kram... Kakiku kram... Aduuh!! Aaw..."
__ADS_1
Jaka tidak tau apa-apa. Ia tidak mengerti ada hal-hal seperti ini. Ia lalu mengikuti instingnya untuk memijat kaki Sarah.
Setelah lima menit menahan sakit, Sarah terlihat lega. Tapi keringat sudah terlanjur membasahi bajunya.
"Apa masih sakit?" Jaka memastikan.
Sarah menggeleng sambil menghapus sisa-sisa air matanya. Ia menyentuh kakinya sendiri.
"Tadi itu sakit banget..." jelasnya.
Jaka yang merasa kasihan kepada Sarah, secara refleks memeluk wanita itu. Ditepuknya punggung Sarah pelan.
"Besok kita tanyakan ke dokter ya... Apa kamu ingin sesuatu saat ini?" tanya Jaka menawarkan.
Sarah menggeleng. Ia hapus lagi setitik air mata yang barusan muncul.
Jaka yang melihat kesedihan di wajah Sarah. secara naluriah ingin sekali menghilangkan kesedihan itu.
"Hei... Besok lusa kita pulang ke rumah orang tuamu... Bagaimana?" Jaka mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin istrinya itu mengingat-ingat rasa sakit yang ia alami tadi.
Seakan tidak percaya, Sarah meraih tangan Jaka dan menggenggam nya erat.
"Benarkah?! Oh astaga!! Saya sudah menunggu-nunggu saat itu tiba..."
"Aku senang kalau kau senang. Kita akan menginap tiga atau empat hari. Okey?"
Hal itu membuat Jaka terpancing. Dengan lembut di ciumnya bibir istrinya. Sarah hanya bisa mematung tanpa memberi respon atau menolak. Seperti ciuman pertamanya yang baru saja ia rasakan. Matanya terpejam meresapi setiap gerakan yang dilakukan Jaka. Entah sejak kapan, tangannya melingkar di bahu sang suami.
"Sarah, Aku merindukanmu..." bisik Jaka di samping telinga Sarah.
Bisikan itu saja mampu membuat bulu kuduknya meremang. Tangan Jaka mulai bergerak mengikuti nalurinya sebagai laki-laki. Ia mulai mengelus dan meremas tubuh istrinya.
"Eempph... Saya... Tapi-" kata-katanya lalu di potong oleh ciuman Jaka. Pria itu sudah melepaskan baju tidurnya. Belaian tangan Sarah di dadanya terasa semakin menggoda.
Dengan sekali gerakan cepat, Jaka berhasil membuat tubuh istrinya polos. Sarah yang merasa agak malu, menyusup ke balik selimut yang sudah acak-acakan karena perbuatan mereka sejak tadi.
"Kenapa?" tanya Jaka saat Sarah menutup tubuhnya.
"Sa-saya malu... Saya gendut dan... Tidak seksi." jelas Sarah membuang pandangan.
"Kau sangat cantik sayang... Wanita paling canik di dunia. Di hidupku..." Jaka mengikuti istrinya ke dalam selimut. Bibirnya mencari. Ia lalu menemukan dua bukit kembar yang sudah memuncak sejak tadi. Dengan lembut ia merasakannya satu persatu. Sarah hanya bisa mendesis dan mengerang menerima perlakuan suaminya itu.
Apakah ia selalu seperti ini padaku? batin Sarah. Wajahnya memerah.
__ADS_1
Jaka lalu mencium perut Sarah yang terlihat membulat. Ia tidak ingin menyakitinya. Tapi ia sudah terlanjur memulainya. Tidak mungkin menghentikannya sekarang.
Melihat keraguan di mata Jaka, Sarah berinisiatif untuk memimpinnya. Sarah tau suaminya takut menyakitinya. Sarah memulainya. Berpegangan pada tangan Jaka yang kekar, wanita itu berusaha memberikan kepuasan kepada suminya. Tapi Jaka belum selesai. Tidak adil jika hanya ia yang merasakan kenikmatan. Dengan penuh rasa sayang, ia memberikan apa yang Sarah inginkan. Sampai akhirnya mereka kembali mencapai puncak bersama-sama.
※※※
Alarm di ponsel Jaka berbunyi. Jam menunjukkan pukul enam tepat. Ia bangun dan tidak menemukan Sarah di sampingnya. Samar-samar ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi.
Otak isengnya muncul. Ia yang masih polos tanpa busana, ikut masuk kedalam kamar mandi. Seperti yang ia minta, Sarah tidak boleh mengunci pintu kamar mandi. Kemudian, dengan mudahnya ia masuk.
"Kya!! Pak Jaka!! Ada apa?" tanya Sarah kaget saat Jaka memeluknya dari belakang.
"Tidak. Aku hanya ingin mandi..." jelas Jaka. Tapi tangannya masih saja mengelus-elus tubuh istrinya yang tidak bisa menghindar kemana-mana.
"Sudah dong... Nanti ketemu dokternya kesiangan..." Sarah menjelaskan.
Jaka lalu mengalah dan memilih untuk menyikat giginya terlebih dulu.
Sarah langsung menyelesaikan mandinya, sebelum mendapat gangguan lain.
.
.
.
Sarah sudah berpakaian, begitu juga dengan Jaka yang hari ini lagi-lagi tidak pergi ke kantor.
"Apa tidak masalah kalau anda sering bolos ngantor?" tanya Sarah agak khawatir.
"Tidak masalah. Paul, bisa mengurusnya. Lagipula aku harus membawamu ke dokter. Memastikan kalian baik-baik saja sebelum kita pergi ke rumah orang tuamu... Perjalanannya cukup jauh dan melelahkan..."
Sarah tersenyum mendengar penjelasan Jaka. Pria itu benar.
"Baikalah... Anda bos nya."Sarah tersenyum.
Jaka lalu mendaratkan ciuman ke kening istrinya.
"Terima kasih sudah mengijinkanku untuk menyentuhmu... Aku tau kau belum mengingat hubungan kita... Tapi kau tetap memberikannya..."
"Saya mempercayai anda. Sepertinya hal itu cukup untuk saat ini..."
Semoga aku bisa mengingat semuanya. Aku ingin mengingat betapa besar cinta mu itu padaku. Aku ingin mengingat bagaimana aku mencintaimu... Aku ingin mengingat kehidupan yang kupilih bersamamu...
__ADS_1
🌈...bersambung...🌈
😊 Doakan terus supaya Sarah pulih ingatannya ya... Kasian kalau cuma Jaka yang punya rasa cinta.