
Jaka belum terlihat keluar dari kamarnya. Sarah memutuskan untuk memakan makan malamnya lebih dulu. Ia sangat lapar.
"Pak Jaka, aku makan deluan ya...", Sarah bicara dengan dirinya sendiri.
Tidak lama berselang, Jaka keluar kamar dengan pakaian lengkap. Ia memakai coat hitam dan jeans.
"Bapak akan ke suatu tempat?",
"Iya... James dan Kim memaksaku untuk ikut dengan mereka. Katanya ada sesuatu yang menarik yang ingin mereka perlihatkan. Entahlah... aku lelah menolak. Bahkan mereka sudah menunggi di bawah...",
"Oke... apa kau akan pulang? Atau menginap? Sorry, hanya ingin tau saja...",
"Tentu saja pulang. Aku punya rumah. Buat apa menginap di hotel...",
"Oh", Sarah mulai merasa kenyang.
"Apa kau ingin aku menyuruh mereka pulang?", Jaka menyelidik. Ia memperhatikan wanita itu dengan gaun tidur nya yang imut.
Sarah merasa kelabakan. Tentu saja ia tidak ingin Jaka pergi. Tapi ia juga tidak ingin terlihat seperti mengatur-atur orang itu. Pada kenyataannya, mereka tidak punya hubungan apa-apa.
"Ti-tidak... Jangan biarkan mereka menunggu. Selesai makan, saya juga akan pergi tidur...",
pengakuan macam apa itu?
"Oya, aku bawa kunci juga. Jadi, jangan buka pintu untuk orang lain yang tidak kau kenal", Jaka mengingatkan.
"Oke...",
Seperti induk domba yang meninggalkan anaknya di rumah
Sarah tersenyum simpul. Kadang ia merasa lucu.
※※※
Sarah menghabiskan burgernya. Ia lalu membawa kentang gorengnya ke depan TV. Saat tengah menonton film, tiba-tiba ia teringat dengan peristiwa kejar-kejaran beberapa hari silam.
Apa Pak Jaka tidak penasran ya siapa yang mengejar kami?
Sarah telah menghabiskan kentang gorengnya. Ia fokus dengan film yang ia tonton.
※※※
Kim mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Salju telah turun. Ia dan kedua temannya sedang dalam perjalanan ke suatu tempat.
Jaka tidak bisa menolak. Selain sebagai temannya, mereka juga rekan bisnis Emerald Auto.
"Kemana kalian membawaku?",
__ADS_1
"That's a secret... Masa kau tidak tau... Hahahhaha...", jawab Jemes dengan wajah blasteran Amerika Jepang nya.
Sebenarnya Jaka bisa menebak kemana mereka pergi. Hanya saja ia tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan.
"Kudengar kau sudah bertunangan ya...", tanya Kim serius.
"Pasti kau dengar dari Angel... Hanya membuatnya berhenti mendekatiku. Dia itu asistenku. Kalian tau kan, aku sangat profesional kalau bekerja",
"Ya ya ya... Kau tau, kalau daftar panjang wanita yang pernah kencan denganmu di New York tau kau disini, aku yakin mereka akan berkunjung ke rumahmu...",
Jaka kemudian merasa kalau ada salah satu dari mereka yang tau kalau Jaka ada di sini. Salah satu yang mungkin mengejar Jaka dan Sarah sesaat setelah keluar dari restoran tempo hari.
※※※
Sarah mulai mengantuk. Ia tau, ia tidak perlu menunggu Jaka hingga ia pulang. Apalagi ia takut kalau Jaka pulang dalam keadaan mabuk.
※※※
Jaka menyesal mau ikut dengan teman-temannya. Mereka bahkan tidak mengijinkannya untuk minum. Mereka membuat Jaka menjadi supir.
"Kalian brengsek",
"Hahahaha... entahlah... kami yakin sekali kalau kau akan segera menikah. Dengan begitu kami tidak akan bisa bersenang-senang lagi denganmu...", jelas James.
"Terserah apa kata kalian. Besok malam aku kembali ke Indonesia. Mungkin kalian mau main-main ke negaraku",
"Tenang saja. Kami akan datang ke pernikahanmu", jawab Kim enteng.
Jaka geleng-geleng kepala.
※※※
Sarah terbangun. Jam masih menunjukkan pukul 05.47 dan matanya sudah sangat segar.
Ia melihat pintu kamar Jaka terbuka. Sarah juga melihat TV menyala. Sarah penasaran dan mengintip ke kamar Jaka.
Ups... siapa mereka?
Sarah melihat dua orang asing yang tidak ia kenal. Ia lalu menuju ke TV yang sedang menyala. Benar saja, Jaka tertidur di depan TV. Sarah mematikan TV itu dan kemudian menuju ke dapur. Ia berencana untuk membuat sarapan seadanya untuk tamu-tamu bos nya.
Sarah membuka lemari es. Lumayan lama ia memandangi isinya.
"Buat apa...", Sarah bicara sendiri.
"Ehm, roti lapis saja. Mereka tidak akan pilih-pilih makanan...", Jaka menjawab.
"Astaga!! Bapak... Huh... Mengagetkan... Eh, Bapak tidak mabuk?",
Jaka menggeleng "Apa kau khawatir?",
__ADS_1
"Tentu saja. Aish! Bapak ini!",
"Pfftt... kau lucu sekali. Sudahlah... saya mau mandi...", jelas Jaka meninggalkan Sarah yang mulai menyiapkan sarapan.
※※※
Mereka masih memiliki sebungkus roti gandum. Sarah kemudian mengeluarkan selada, keju dan daging ham domba yang mereka beli dua hari lalu.
Sarah memanggang roti nya sebentar di atas teflon dengan sedikit margarin. Ia lalu menyusun roti, keju, selada dan telur ke atas piring. Ia menaburkan sedikit garam dan lada. Sarah sendiri tidak terlalu suka saos tomat maupun saos sambal.
Jaka sendiri sudah terlihat sangat segar. Jam masih menunjukkan pukul tujuh lewat lima.
Jaka kedapur diikuti oleh kedua temannya yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek.
"Hai... akhirnya kita bertemu. Kau pasti Sarah kan, tunangan Jaka...", James menyodorkan tangannya.
Sarah mengerutkan dahi melihat Jaka yang cuek saja.
"Saya...", Sarah bingung.
"Tenanglah, mereka tau kau hanya asistenku. Jangan hiraukan mereka...", Jaka menjelaskan.
"Ya... maafkan dia. Namaku Kim...", pria itu mengulurkan tangannya.
"Sarah...", wanita itu menyambut tangan Kim.
"Ehm! Sebaiknya kalian sarapan. Dan kalau sudah, pulanglah. Kami harus bersiap untuk pulang",
"Aaaaaa... kau mengusir kami ya... ingin berduaan saja dengan nona ini...", James menggoda.
"Uhuk! Uhuk! Ehm... sorry", Sarah tersedak. Teman-teman Jaka betul-betul menggoda mereka.
"Shut up... kalian berisik sekali...", Jaka kesal.
"Hahahaha... kalian lucu tau. Malu-malu kucing... Yakin, gak ada hubungan apa-apa di antara kalian?", Kim menyelidik.
"Diam lah. Kau bisa membuatnya tersedak lagi...", Jaka mengingatkan.
Sarah sudah selesai dengan makannya. Ia lalu meminta diri untuk kembali ke kamarnya.
Dasar laki-laki... kalau berteman pasti sukanya saling goda...
Sarah mengunci pintu kamarnya. Sekilas ia masih bisa mendengar suara tawa mereka. Sarah memutuskan untuk menyusun kembali isi kopernya. Benar, malam ini mereka akan kembali ke Indonesia.
♡
♡
♡
__ADS_1
bersambung....