Lay With The Devil

Lay With The Devil
Resepsi Yang Tertunda


__ADS_3

🌺Selamat Membaca🌺


Sarah terkejut dengan kadatangan suaminya yang mendadak.


Bukannya ia akan pulang besok pagi? batin Sarah.


Walaupun begitu, Sarah merasa sangat senang. Ia yang tadinya sudah sangat mengantuk, tiba-tiba menjadi segar.


Jaka yang baru tiba, langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak ingin dekat-dekat istrinya yang tengah hamil dalam keadaan kotor.


.


.


.


Sepuluh menit berlalu, Jaka sudah bersama istrinya di atas pembaringan mereka.


"Tadi telfon katanya sudah mau tidur. Kok tiba-tiba sampai sini, sih? Bohong banget..." protes Sarah.


"Tadi memang sudah mau tidur. Tapi langsung berubah fikiran. Karena belum terlalu malam dan masih ada penerbangan terakhir... Memangnya kamu tidak senang aku pulang?" Jaka menyelidik.


Bukannya menjawab, Sarah malah memeluk tubuh suaminya itu.


"Saya kangen, kok..." jawab Sarah lirih. Padahal tadi pagi masih bertemu.


Jaka lalu menceritakan keinginannya untuk melaksanakan resepsi pernikahan mereka yang sempat tertunda. Awalnya Sarah menolak, karena ia merasa perutnya sudah semakin membesar. Ia takut orang berpikiran yang bukan-bukan jika melihat pengantin perempuannya dalam kondisi seperti itu. Tapi akhirnya Jaka berhasil meyakinkan kan Sarah, kalau orang-orang akan paham mereka sudah menikah sebelumnya.


Mereka lalu memutuskan untuk melaksanakan resepsi pernikahan itu lima hari dari sekarang. Mereka merasa dengan waktu yang singkat itu, mereka bisa menyelesaikan persiapannya dengan baik.


Mereka berdua kemudian pergi tidur. Sarah yakin suaminya itu sudah sangat lelah dengan pekerjaan dan perjalanan untuk pulang kemari. Sesekali Sarah memijat lembut kening suaminya. Jaka yang mendapatkan perlakuan seperti itu, hanya bisa tersenyum di dalam tidurnya.


🎐🎐🎐


Hari yang ditunggu pun tiba. Pesta pernikahan Jaka dan Sarah diadakan di kediaman keluarga Sanjaya. Sarah tidak bisa protes karena semua persiapan itu dilakukan oleh Nyonya Ningsih dan kakak-kakak perempuan Jaka, yang khusus berkumpul untuk pernikahan adik bungsunya itu.


Sarah sempat bingung saat bertemu dengan ketiga kakak perempuan Jaka dan keluarga mereka. Jaka sendiri hanya bisa minta maaf, karena ia lupa memberi tahu istrinya tentang saudari-saudarinya itu. Ia benar-benar lupa kalau Sarah masih amnesia


Orang tua Sarah dan kedua adiknya juga sudah datang dua hari sebelum hari-H. Mereka disambut baik oleh keluarga Sanjaya. Bahkan Pak Ismail yang saat itu melihat kondisi Pak Arnold, sempat menitikkan air mata. Tapi, walaupun masih duduk di atas kursi roda, Pak Arnold sudah bisa berkomunikasi dengan baik.


Saat ini, Ibu Mutia, Ibu Ningsih dan ketiga putri keluarga Sanjaya sedang bersama Sarah. Mereka sedang menunggu perias wajah Sarah selesai melakukan tugasnya. Berkali-kali mereka mengabadikan momen itu dengan kamera handphone masing-masing. Sedangkan Sandra, Axel dan Cindy -kekasih Axel - sedang berada di taman belakang yang sudah disulap menjadi tempat acara resepsi pernikahan Jaka dan Sarah. mereka membantu beberapa pelayan menjadikan dekorasi cantik itu semakin sempurna.




"Ini sih sudah luar biasa cantik! Sudah kayak di negeri dongeng... iya nggak, yang?" tanya Cindy yang saat ini sedang merangkul lengan Sandra, adik dari kekasihnya itu.


"Kamu itu nanya siapa? Aku apa Sandra?" Axel bingung.


"Ya kamulah... yang pacar aku kan, kamu..."


"Ia... Tapi kan, yang kamu rangkul itu Sandra. Kesannya kamu lagi ngobrol sama dia..." Alex tidak mau kalah.

__ADS_1


"Ish... Ish... Kalian berdua Ini kenapa sih, kalau ada Sandra aja, debat! Coba deh, kalau nggak ada Sandra, rayuan mautnya keluar!" jelas Sandra sambil menatap abangnya jengkel.


Yang ditatap hanya nyengir kuda.


Tidak lama berselang, beberapa anak kecil berarian di depan mereka, yang paling kecil dan cantik itu anaknya Citra. Dua lainnya yang agak lebih besar, anaknnya Kirana. Laki-laki dan perempun terpaut satu tahun. Sedangkan anak laki-laki Melisa lebih pendiam. Ia sedang asik mencomot kue-kue yang dihidangkan disana.


.


.


.


Saat ini, Jaka dan Paul masih berada di kamar Jaka.


"Apa keamanannya sudah di perketat?" tanya Jaka yang dari tadi memandang jauh keluar jendela.


"Tenanglah. Semua sudah di atur. Kalaupun ada pengacau, mereka tidak akan bisa menembus pintu depan. Kau fikirkan saja acara nanti..." jelas Paul yang kemudian mengantongi kembali ponselnya.


"Dimana Esme? Kau tidak menjemputnya?;


"Tidak, ia akan datang sendiri langsung dari Filipina. Sudah seminggu ia di sana."


"Ooh..." gumam Jaka pelan "Bagaimana dengan Debby, apa orang mu menemukan sesuatu? Reza?" tanya Jaka yang masih memusingkan masalah-masalah itu.


"Kita sudah tau lokasi Debby. Tapi ia tidak sendirian. Kurasa ia berurusan dengan orang yang salah..." jelas Paul lagi.


Saat itulah ponsel Paul bergetar.


📩Hai, beb... Aku sudah di dalam. Apa kau akan menemuiku?


📨 Ok, sebentar lagi kami akan turun. Acaranya juga akan di mulai.


📩 Thanks, beb...


Paul lalu mengenakan jas yang sejak tadi ia letakkan begitu saja di sandaran kursi. Sekali lagi ia melihat penampilan bos sekaligus temannya itu.


Oke. Sudah pas pada posisi. Batin Paul sambil mengancingkan jasnya sendiri.


.


.


.


Jaka sudah duduk di atas pelaminan, di sampingnya masih ada Paul, kedua orang tua dan kedua mertuanya. Tidak lama kemudian, Sarah datang bersama dengan Sandra yang mengatur gaun Sarah agar tidak tersangkut atau terinjak.


Cantiknya bidadariku... batin Jaka.


.


.


.

__ADS_1


Jaka mulai melihat tamu yang berdatangan. Padahal acara baru saja dimulai, tapi rekan bisnis dan kerabat jauh mereka sudah banyak yang berkumpul.


Jaka sendiri selalu menggenggam tangan Sarah yang duduk di sebelahnya. Istrinya itu terlihat tegang.


"Sayang... Apa ada yang sakit?" tanya Jaka yang menjadi khawatir.


Sarah hanya menggeleng pelan.


"Tidak. Saya hanya gugup... Undangannya banyak sekali..." gumam Sarah.


"Tenanglah... Mereka semua mengenalku... Bahkan sebagian telah mengenalmu." Jaka menjelaskan.


Sarah mulai tersenyum. Ia tau kalau ia tidak boleh mengecewakan keluarga suaminya. Mereka sudah melakukan ini semua untuknya.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul enam petang. Menandakan kalau acara resepsi itu telah berakhir.


Jaka dan Sarah sudah berada lagi dalam kamar ganti untuk mengganti pakaian resepsi tadi siang, dengan pakaian yang lebih santai. Setelah ini, akan diadakan makan malam bersama keluarga dan teman dekat.


Jaka yang sejak tadi telah menahan keinginannya untuk memeluk dan mencium istrinya, tidak bisa lagi membendung keinginan itu. Setelah kamar ditutup, ia langsung memeluk Sarah dan mencium istrinya itu penuh kerindun. Ia bahkan tidak peduli dengan keberadaan Paul dan Esme yang turut mengantar mereka ke sana.


"Astaga... Betapa aku merindukanmu..." ujar Jaka sebelum ia mel#mat bibir istrinya.


Sarah hanya bisa menerima perlakuan Jaka tanpa bisa menolaknya. Tapi ia kemudian mendorong dada Jaka pelan. Agar pria itu menjauh.


"Saya juga merindukan Anda... Tapi di sini aja Paul dan kekasihnya... Anda membuat saya malu..." bisik Sarah pelan.


Jaka memeluk Sarah.


"Mereka paham. Tenanglah..." jelas Jaka yang kemudian melirik Paul dan Esme yang sudah melakukan aksi serupa. Sarah hanya tersenyum dan kembali kedalam pelukan suaminya.


※※※


Di Tempat Lain


Pria dengan ukiran tato yang menghiasi lengannya itu, masih menatap layar monitor dari ruangannya. Kediaman keluarga Sanjaya sudah mulai ditinggalkan para tamu dan menyisakan keluarga saja.


Dengan seringai jahatnya ia bicara pada anak buahnya.


"Setelah acara itu, buatlah sedikit keributan. Berikan jeda sebentar sebelum kalian melaksanakan aksi utama." jelasnya terperinci.


"Baik, bos!" orang itu pergi.


"Hahaha... Lihatlah, Apa yang kulakukan demi pelac#r kecilku! Setelah ini aku akan mendapatkan pialaku. Kau, pelac#r kecil yang sanggup menghidupkan gair#h bercintaku. Akhirnya..."


💥Bersambung...💥


Terima kasih masih mau hadir disini. Jangan lupa kasih like, Rate bintang lima, fav, koment dan Vote yang paling penting! Tunjukkan dukungan kalian, agar karya ini tetap eksis.

__ADS_1


Sekali lagi Terima Kasih semuaaaaaa 😘😘😘


__ADS_2