Lay With The Devil

Lay With The Devil
Menginap


__ADS_3

Sarah mengucek-ngucek matanya. Takutnya ia salah dengan pengelihatannya sendiri.


"Pak...Pak Jaka?? Ini beneran Pak Jaka anaknya Bos AntiQ Jaya???", Sarah gugup.


"Kamu kenal saya? Apa saya cukup terkenal di kantor?", tanya Jaka lagi. Ia merasa lucu melihat ekspresi wanita ini.


"Saya mengenal Bapak bukan dari gosip kantor... Bapak yang selalu dibicarakan Pak Ismail saat ada perjamuan... Ternyata bapak jauh lebih keren dari bayangan saya...", Sarah menjelaskan kegirangannya dengan blak-blakan.


"Saya keren? Kamu terlalu berlebihan. Saya hanya anak orang kaya... Kebetulan",


Di dalam otaknya, Jaka berpikir tentang perjamuan yang dikatakan Sarah. Berarti benar, wanita itu selalu ada dalam acara keluarga mereka.


"Enggak... Bapak beneran keren... Minta tanda tangan boleh?", Sarah memelas. Tampaknya ia sudah lupa dengan bergalon-galon air mata yang ia tumpahkan tadi.


Jaka menggeleng heran.


Buat apa minta tanda tangan segala? Aku bukan artis. Tapi tanda tanganku bernilai tinggi. Apa ia merencanakan sesuatu?


"Tidak. Bahaya jika disalah gunakan!", Jaka memasang sabuk pengamannya "Pasang sabuk pengamanmu. Saya antar pulang. Ini sudah sangat larut...",


Sarah melihat jam di tangannya. Pukul sepuluh malam. Ia sendiri kaget karna sudah semalam ini.


Sarah kemudian menggeleng. Ia kemudian membuka pintu mobil yang sudah mau jalan itu. Gerimis masuk.


"Kalau bapak mau mengantar saya pulang, sebaiknya saya turun disini saja... Saya tidak ingin pulang dan menemui bajing*n itu lagi...", Sarah masih kesal. Kepalanya panas.


"Okey... Kamu utang penjelasan pada saya... Tapi, saya tidak mungkin menurunkanmu disini, apalagi membawamu pulang. Apa ada keluarga lain yang mau dijenguk?", Jaka masih berusaha menawarkan bantuan. Ia tidak bisa meninggalkan seorang wanita ditengah jahatnya malam sendirian.

__ADS_1


Lagi-lagi Sarah menggeleng. Keluarganya semua ada di pulau lain. Ia datang kemari mencari pengalaman hidup.


"Saya akan cari penginapan saja di sekitar sini Pak... terima kasih atas niat baik Bapak...", Jelas Sarah yang kemudian menutup kembali pintu mobil Jaka dan berlalu.


Wanita ini aneh... Keluyuran pakai piyama dan berani tidur sembarangan... Aku sangat ingin memanfaatkan situasi... Tapi ia terlanjur mengenaliku... pikiran Jaka bermain.


Dengan jalan mobil nya yang super pelan, ia mengikuti langkah kaki Sarah.


Lokasi di sekitar apartemennya adalah deretan perumahan, beberapa toko dan swalayan. Setaunya, tidak ada penginapan di sini.


Mobil Jaka kemudian berhenti.


Kalau kubiarkan, paling-paling ia akan digoda oleh preman sekitar sini, siapa? Meri? Oh, bukan... itu banci ganjen yang selalu melirik Paul... Tapi kalau ku tolong dia mencari tempat tinggal malam ini, mungkin aku bisa mencari tau tentang masalah di kantor. Tentang dirinya dengan Alfandi yang menurut Paul adalah settingan. Dan tentang blackmail yang diterima nya. Mungkin itu semua ada hubungannya...


Jaka akhirnya turun dari mobil dan menarik tangan Sarah yang benar-benar jalan tanpa tujuan.


"Hei, bapak jangan tarik-tarik loh... Tangan saya gak ada asuransinya...",


"Masuklah. Aku akan membawamu pulang",


Kata-kata itu terdengar keramat. Sarah duduk mematung di samping Jaka. Ia memeluk backpack mininya.


"Oke... Baiklah... asal aman... ", gumam Sarah pelan.


Jaka hanya mengerutkan keningnya.


Kenapa sih...

__ADS_1


°°°


Tidak sampai lima menit mereka sampai. Sarah yang baru saja menikmati duduk di dalam mobil mewah, sudah harus turun dan merasakan dadanya kembali berdegup tak beraturan.


Ia mengikuti langkah Jaka yang sudah menekan tombol lift. Ia tinggal di lantai tiga.


Apartemen yang ditinggalinya adalah milik Kirana. Kakaknya yang nomor dua. Meskipun milik kakaknya, Jaka sudah membeli apartemen nomor enam yang berada di lantai tiga. Masing-masing lantai terdiri dari dua apartemen yang lumayan luas, karena letaknya yang strategis, kesepuluh pintunya sudah terisi semua.


Jaka menempelkan kartu berwarna hitam ke arah sistem pengamanan pintu. Saat itu juga terdengar bunyi 'klik' dan pintu terbuka. Jaka mempersilahkan Sarah masuk. Ia kemudian menempelkan kartu tadi ke sebuah alat yang tertempel di samping telepon. Seketika itu juga, seluruh lampu di ruangan itu menyala.


"Selamat datang di rumahku. Jangan anggap rumah sendiri. Jangan sentuh apa-apa", Jaka mengingatkan.


Bukannya apa, Ia tidak suka barang-barangnya berpindah tempat.


Sarah tidak mengeluh atau protes. Sudah boleh tinggal malam ini saja, ia bersyukur. Besok ia harus kerja. Apalagi perintah Mr. Black untuk memisakan dirinya dari Pak Alfandi harus difikirkan dulu caranya. Kepalanya mendadak pusing. Menyesal ia memikirkannya.


"Pak.. Apa tidak ada orang lain disini?",


"Ini bukan penginapan. Jadi tidak ada. Besok kau harus pikirkan akan tinggal dimana... Saya tidak berencana menampungmu lebih lama", Jaka berusaha bicara sedingin mungkin. Ia tidak ingin wanita itu merasa terlalu nyaman dengannya.


Sarah hanya mengangguk mendengar kata-kata Jaka. Ini sudah lebih dari cukup. Besok Ia akan lihat, apakah bisa menemukan tempat tinggal untuk dirinya sendiri dan sementara menjauh dari iparnya yang ******** itu...




__ADS_1


bersambung....


__ADS_2