Lay With The Devil

Lay With The Devil
Sidang Keputusan


__ADS_3

Dua minggu berlalu, selama itu pula berkas yang diperlukan pengacara Lee untuk maju ke pengadilan sudah lengkap. Mereka sangat yakin jika persidangan ini akan berjalan dengan lancar dan berakhir dengan kebebasan Sarah.


Memang tidak ada CCTV yang langsung melihat, kejadian apa yang terjadi dalam kamar itu. Tapi mereka akhirnya mendapatkan CCTV lorong dan beberapa tempat lain berkat bantuan Reza. Walau rekaman-rekaman itu hanya pendukung, tapi pengacara Lee dan detektif Junot percaya kalau Sarah tidak melakukan pembunuhan itu.


Selama dua minggu pula, Jaka bolak-balik ke penjara hanya untuk menemani istrinya. Untungnya pihak penjara tidak membatasi jam kunjungan Jaka, karena pada saat ini Sarah tengah hamil muda dan memerlukan dukungan suaminya.


"Kau harus bertahan sebentar lagi ya, Sayang... Setelah kamu bebas dari sini, kita akan mendatangi orang tuamu."


Sarah hanya mengangguk mendengar kata-kata Jaka. Walau dalam hatinya ia ingin sekali bertemu mereka saat ini juga.


"Apa kau tidak kerja? Apa pekerjaanmu?" tanya Sarah mengalihkan pembicaraan.


Jaka lupa kalau Sarah tidak mengingatnya.


"Eemmm... Aku memiliki usaha sendiri. Jadi ada pegawaiku yang bekerja... Tidak usah difikirkan..." jelasnya.


Sarah tersenyum mendengarnya. Ia sempat berfikir kalau suaminya ini pengangguran yang hanya memiliki harta warisan orang tua.


"Kenapa?" tanya Sarah pada Jaka.


"Kenapa apanya?"


"Kau pucat sekali. Kau sudah makan?" tanya Sarah menyelidik.


"Eemmm... mungkin kau tidak percaya, tapi kadang-kadang aku masih suka ngidam..."


Sarah terlihat berusaha menahan tawa.


"Apa kau menginginkan sesuatu saat ini? Tapi... Saya tidak janji bisa memenuhinya..."


"Benarkah? Aku ingin sekali mendengarkan anak kita... Aku ingin menciumnya..."


"Eh?" Sarah jadi salah tingkah. Tapi ia sudah terlanjur menawarkan.


"Kalau tidak bisa ya tidak masalah... Hanya keinginan konyol..."


Tapi kemudian Sarah berdiri dan mendekati Jaka.


"Silahkan. Dia kan anakmu juga..." jelas Sarah dengan suara pelan.


Akhirnya... Batin Jaka.


Ia maju dan kemudian menunduk. Di dekatkannya telinga kanannya. Ia tersenyum. Setelah itu Jaka mencium perut Sarah yang mulai membesar.

__ADS_1


"Jadi anak baik ya. Jangan membuat mami kesusahan..."


Sarah yang mendengar kata-kata Jaka hanya bisa terkekeh pelan.


"Mami hmmm?"


"Lalu? Bunda? Mamah? Ibu? Atau emak?" tanya Jaka yang masih menempel pada perut Sarah.


"Belum saya pikirkan..." jelas Sarah lagi.


Setelah Jaka bangkit, Sarah kemudian kembali duduk.


"Eeemmm... boleh saya meminta sesuatu?" tanya Sarah pada Jaka yang dari tadi hanya memandanginya.


"Tentu saja. Katakan apa yang kau inginkan."


"Tolong ceritakan semuanya... Awal kita bertemu, sampai saat aku hilang..." jelas Sarah agak ragu.


Jaka terseyum mendengar permitaan itu


Akhirnya ia menanyakannya.


"Okey... Awalnya..."


※※※


"Sarah terlihat lebih berisi dari sebelumnya, saat pertama kali aku melihatnya..." jelas Rangga yang sudah ikut hadir di persidangan itu bersama dengan Pak Candra dan Anna.


"Hmmmm... Usia kandungannya semakin bertambah. Kau tau itu. Apaalagi jika orang-orang sudah mengetahuinyaa. Biasanya kehamilan semakin terlihat..." jalas Anna yang pernah mengurus kakaknya saat hamil.


Sidang itu berjalan dengan cepat.


Pengacara Lee memang hebat. Tidak salah jika orang-orang menyebutnya salah satu pengacara terbaik se-Asia. Semua tuduhan jaksa penuntut bisa ia patahkan. Argumennya ia landasi dengan bukti yang kuat, bukan hanya omongan saja. Semua tamu yang hadir pasti berfikir begitu.


Akhrinya, saat hakim mengetokkan palu dan menyatakan Sarah bebas, Wanita itu langsung menangis haru. Ia sangat lega akhirnya semuanya selesai.


※※※


Jaka memeluk Sarah lumayan lama.


"Ma-maaf... masih bayak orang disini, Pak... Apa tidak malu?" jelas Sarah saat melihat teman-teman dan mantan bos nya datang menghampiri.


Jaka melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Tapi aku terlalu bahagia..." jelas Jaka lagi.


Mereka lalu menemui teman-teman Sarah. Jaka mendampingi istrinya itu kemanapun wanita itu bergerak. Sarah maklum dengan sikapnya. Malah hal itu membuatnya terharu.


※※※


Paul melajukan mobil bosnya untuk mengantar mereka pulang.


Sepasang suami istri itu akhirnya menuju apartemen yang selama ini ia tinggalkan.


Sebenarnya rumah baru mereka sudah selesai di renovasi oleh Kalila. Tapi Jaka masih ingin mengajak istrinya kembali ke apartemen, hanya untuk melihat-lihat keadaan disana. Jaka berfikir, mungkin Sarah akan mengingat sesuatu.


"Eemmm... Maafkan saya Pak Jaka... tapi saya tidak mengingat tempat ini..." jelas Sarah saat Jaka membawa mereka ke kamar.


"Tidak masalah. Kalau begitu, kita langsung saja pergi ke rumah baru kita... Aku sendiri kaget saat Kalila bilang sudah menyelesaikannya seminggu yang lalu..."


"Kalila? Apa saya mengenalnya?" tanya Sarah penasaran.


Dari percakapan mereka, yang ditanyakan Sarah malah nama perempuan itu. Bukan tentang rumah baru nya.


"Eh, dia temanku. Tapi kalian sudah pernah bertemu..." Jaka melihat perubahan raut wajah Sarah. Ia menebak kalau wanita ini tidak suka dengan Kalila. Tapi bukannya ia tidak ingat?


"Kenapa sayang? Apa kau cemburu? Kau mengingat sesuatu?" tanya Jaka menyelidik. Saat ini, ingatan apapun setelah mereka menikah, sangat penting untuk dibahas.


Sarah mengangguk.


"Tidak tau kenapa, tapi saya merasa tidak menyukainya. Begitu saja... Apakah normal?"


"Ha... ha... ha... Aku tidak tau apa yang kalian bicarakan saat itu, tapi Kalila sudah pergi saat aku kembali... Aku menebak, kau pasti mengancamnya..." jelas Jaka mengingat kejadia tempo lalu.


Sarah terlihat menunduk.


"Maafkan saya..."


Jaka kemudian maju dan memeluk istrinya.


"Tidak perlu minta maaf untuk apapun. Kau istriku. Aku akan selalu ada untukmu..."


Aku tidak ingin kehilanganmu lagi...


Batin Jaka.


♡bersambung...♡

__ADS_1


Episode berikutnya, ada Jaka dan Sarah yang tiba di rumah baru mereka. Dan Sarah yang lagi-lagi merasa cemburu atas kedatangan Kalila.


Tunggu kelanjutanya ya!! Terima Kasih 😆


__ADS_2