
Sarah terbangun karena alarm hp nya sendiri berbunyi dengan nyaringnya. Ia kemudian keluar untuk membangunkan Jaka.
Tapi, tampaknya pria itu sudah tidak ada disana. Bed covernya sudah terlipat rapi. Bantalnya sudah tersusun. Baju Sarah yang dipinjamnya pun sudah terlipat di atas bed cover tadi. Ada selembar kartu nama terletak di dekatnya.
"Hmmm... aku punya nomor ponselnya... tapi tampaknya ia punya yang lain...",
Sarah mengangkat lipatan-lipatan itu kembali ke kamarnya. Alih-alih meletakkan baju over size itu ke loundry, Sarah memilih untuk menggantungnya pada hanger dan meletakkannya di pintu lemari.
"Orang itu membuatku gila... Ya Tuhan... apa jadinya kalau ia tidak datang. Mungkin aku sudah mulai panik dan meringkuk di kasur seperti batu...", Sarah tersenyum.
Biasanya kakak yang menenangkannya.
°°°
Paul mengamati Jaka yang terlihat agak berbeda.
"Anda baik-baik saja?",
"Selain ban mobil kempes ditengah hujan dan subuh tadi mobil derek baru datang, ya aku baik-baik saja...",
"Baiklah... sore ini kita berangkat. Data-data yang diberikan Herman juga sudah ku pelajari. Orang bernama Margo juga sudah terlacak. Datanya sudah ku kirim juga ke ponsel anda... mungkin anda akan sedikit terkejut...",
"Baiklah... aku akan mengeceknya. Aku perlu berendam. Nanti siang aku akan menghubungimu lagi. Jangan lupa bawa baju dingin, Amerika sedang bersalju...", Jaka menepuk bahu asistennya.
Paul pergi.
Jaka sangat lelah, tapi ia tidak mengantuk. Berendam di air hangat adalah hal yang ia perlukan...
°°°
Jaka mengeringkan tubuhnya. Belum lagi berpakaian, ia meraih ponsel miliknya.
Jaka kemudian mengecek email yang tadi dikirimkan Paul.
Ia tidak mengira akan menemukan nama ini di ujung pencariannya. Tapi yang membuat ia kaget adalah, siapa Margo yang di sebut-sebut Sarah sebagai orang yang berinteraksi dengannya atau sebagai tangan kanan pemerasnya, Mr. Black. Orang itu ternyata masih termasuk karyawan yang bahkan masih bekerja di AntiQ Jaya.
"Luar biasa. Bisa-bisanya ia merekrut orang seperti ini... Aku yakin tujuan utamanya bukan uang. Aku benar-benar tidak percaya kalau kata-kata Bapak benar terjadi. Aku bahkan tidak tau, apa aku harus memberi tahu Bapak...", Jaka menimbang-nimbang.
Ia meletakkan kembali ponselnya.
__ADS_1
°°°
Sudah berkali-kali Sarah mengetik dan kemudian menghapusnya lagi. Ia ingin menanyakan kabar tamunya semalam. Tapi ia terlalu malu, mengingat kejadian yang terjadi setelahnya.
Sarah meletakkan ponselnya begitu saja saat ia kemudian mendengar sura bell berbunyi.
Kakak sudah sampai... kok cepat ya... apa jangan-jangan... Pak Jaka ya... Waduh...
Sarah menerka-nerka. Setengah ragu, buru-buru Sarah membuka pintu.
"Iya iya...",
"Hai cantik...",
"Kamu!", Sarah kaget. Ia tidak menyangka tamunya adalah Margo.
Tanpa di persilahkan masuk ia melewati Sarah yang terpaku di depan pintu.
"Masuklah...", ajak Margo.
Sarah tidak beranjak.
"Ada tawaran terakhir dari Mr. Black. Katanya, kalau mau semuanya berakhir, kamu harus menemuinya di tempat yang ia tentukan...",
"Apa saya harus percaya kalau ini semua ada akhirnya??",
"Hei nona, jangan terlalu skeptis... optimis dong... Mr. Black akan mengembalikan rekening anda. Setelah itu terserah anda mau membuat rekening baru atau apapun itu...
Masalah orang tua anda di kampung, tenang saja... Mr. Black tidak melakukan hal ini untuk menjadi orang yang terlampau jahat... Ia sendiri masih punya orang tua...", jelas Margo. Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Sarah sangat berharap ia bisa mempercayai omongan orang itu.
"Aku hanya perlu tanda tanganmu di situ...", Jelas Margo.
Sarah kemudian mengeluarkan isi amplop itu.
Keningnya berkerut.
"Visa? Ini fake? Memangnya di mana bos mu tinggal? Aku fikir ia sedang bersembunyi di salah satu hotel di kota ini sambil sesekali berpindah tempat...", Sarah berusaha terdengar menantang.
__ADS_1
"No, lady... dia stay di Amerika... Sudahlah, tanda tangan saja, nanti akan ku kabarkan kapan kau berangkat...",
Sarah ingin orang itu segera pergi. Ia menandatanganinya. Ia sangat yakin kalau pihak bandara seharusnya notice kalau Visa itu fake.
"Pergilah. Apa lagi yang kamu inginkan... Aku sudah sangat lelah...",
"Entahlah... bagaimana malammu dengan nya? Apa ada hal menarik?",
Wajah Sarah memerah. Ia tau betul apa yang dibicarakan Margo.
"Tidak ada apa-apa... Aku tau betul kalian menyadapku entah dimana... seharusnya kalian tau kalau semalam tidak terjadi apa-apa... Sudahlah... Aku muak menjadi boneka kalian. Semua yang kalian katakan sudah ku kerjakan. Aku tidak akan berani mengingkarinya karena kalian mengancam orang tuaku. Aku tidak pernah melapor apa-apa jika tidak kalian suruh...",
"Ya... kami tau. Kamu juga sangat hebat sampai bisa membuat orang itu berhenti datang ke kantor. Apa kau menjanjikan sesuatu setelah semua ini berakhir?",
"Tuan Margo... sudahlah. Aku lelah. Aku juga tidak punya apa-apa untuk di janjikan...",
Sarah menyodorkan amplop cokelat tadi kepada Margo yang masih duduk santai di sofa putih milik kakaknya.
"Sebaiknya anda pergi. Kakakku bisa datang kapan saja...",
"Okey... Sebaiknya kau sendiri bersiap-siap. Packing seperlunya. Mr. Black bukan orang yang suka mengulur waktu. Bisa saja ia menyuruhmu pergi malam ini juga...",
"Ck, Kalian... ", Sarah geram. Ia belum mengurus apa-apa dan sudah harus pergi ke negara yang berada dibelahan bumi lain.
"Memangnya ada apa sampai ia mau membuang uang hanya untuk membawaku ketempatnya?",
"Entahlah... ingat nona, aku dibayar olehnya... bukan oleh mu", jelas Margo yang kemudian bangkit meninggalkan Sarah yang duduk di seberangnya.
Sarah buru-buru mengunci pintu sesaat setelah orang itu keluar.
Otaknya berputar. Ia ingin sekali menghindari undangan itu. Tapi ia juga ingin bertemu dengan orang yang sudah memerasnya selama berbulan-bulan. Ia ingin hidupnya kembali normal...
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1