Lay With The Devil

Lay With The Devil
Di Pecat


__ADS_3

Sarah membuka tirai kamarnya. Hari senin. Hari dimana semua kesibukan di mulai. Sarah mengecek ponselnya. Ada sebuah pesan masuk. Ia menebak, pasti Jaka yang mengirim pesan itu.


📩I love you...


Bersiaplah, setengah jam lagi aku menjemputmu


Pesan itu dikirim sekitar sepuluh menit lalu.


Sarah masuk ke kamar mandinya. Ia tidak khawatir Jaka datang karena pria itu punya kunci apartemennya.


Sarah memilih baju kerja yang akan ia kenakan pagi ini. Sepuluh menit ia habiskan untuk menatap isi lemarinya.


Akhirnya ia memilih OOTD yang simpel dengan blezer kotak-kotak dan celana cokelat.



Benar saja, saat Sarah keluar kamar, Jaka sudah menunggu di sofa sambil melipat kakinya.


"Good morning, Sayang...", Jaka menarik Sarah yang sudah ada didekatnya, kedalam pelukannya.


"Hai... Apa--", Sarah tidak sempat bicara, Jaka sudah menciumnya terlebih dahulu.


Jaka lalu melepaskan ciuman itu. Ia merapihkan rambut Sarah. Sarah hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan manis seperti itu.


"Ayolah... Aku ada meeting dengan Pak Wira jam delapan ini...", bukannya berdiri, Jaka malah menahan tubuh Sarah agar tidak beranjak.


"Aku aka mengantarmu sampai ke ruang kerjamu kalau kau takut dimarahi...",


"Kau terlalu berlebihan... Kau bahkan tidak perlu turun dari mobil dan biarkan aku masuk sendiri", Sarah menjauh dari Jaka.


Ia tidak ingin terlambat ke kantor, apalagi tidak biasanya ada meeting sepagi ini.


※※※

__ADS_1


Sarah tidak bisa berkata apa-apa dia merasa malu dan juga bingung. Ia masih tidak menyangka kalau hari ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki di kantor AntiQ Jaya.


Beberapa pasang mata memperhatikan Sarah yang sedang menyusun barang-barang pribadinya ke dalam sebuah kotak.


Sarah bahkan tidak punya teman untuk bertanya apa yang terjadi dengannya. Ya, semenjak ia pindah ke divisi ini, ia belum memiliki teman yang terbilang dekat. Apalagi sepertinya nya para wanita di divisi ini merasa insecure dengan kehadiran Sarah.


"Dari jamannya Pak Alfandi sudah cari masalah... Akhirnya kena pecat juga kan...", seorang karyawan perempuan berbicara agak pelan dengan teman di sebelahnya. Lawan bicaranya hanya mengangguk-angguk. Sarah sedang tidak ingin berdebat dengan orang-orang itu. Ia mengabaikannya.


Pak Wira sendiri tidak mengerti mengapa karyawan nya itu harus dipecat. Dia hanya menjalankan perintah yang diberikan kepadanya. Perintah itu datang langsung dari direktur perusahaan AntiQ Jaya. Ia bahkan tidak berani bertanya, Mengapa harus sampai dipecat? Padahal kinerja Sarah cukup baik.


Sarah berfikir kalau semua ini adalah rencana Jaka. Ia merasa marah, tapi ia yakin Jaka punya rencana yang lebih baik. Ia hanya berharap Jaka tidak menyuruhnya untuk berdiam diri di rumah dan mengandalkan dirinya untuk membiayai hidup Sarah.


※※※


Sarah mendengar suara pintu ditutup dengan cepat. Tidak lama berselang, Jaka sudah berada di belakangnya dengan dada yang naik turun berusaha mencari nafas. Sarah yang bingung lalu mengajaknya untuk duduk dan memberikan segelas air putih pada Jaka.


"Kenapa sih? Datang ke sininya lari? kok sampai kehabisan nafas gitu...", tanya Sarah yang benar-benar tidak tahu masalahnya.


"Tadi aku ke kantormu karena ingin mengajakmu makan siang. Tapi mereka bilang kamu dipecat... Kenapa tadi pagi tidak langsung menghubungiku?",


Bukankah Pak Ismail mengenalnya? Apa gara-gara masalahnya dengan Pak Indra? Beribu pertanyaan langsung muncul seketika itu juga.


Jaka lalu menarik Sarah ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku... seharusnya aku mengurus masalah ini lebih cepat. Apa kau mempercayaiku?",


Sarah hanya bisa mengangguk pasrah. Kepalanya mulai berdenyut. Ia menjauh dari pelukan Jaka dan mencari sesuatu di dalam kotak obat.


Sarah meminum obat sakit kepala yang ia temukan disana.


"Apa Semua ini karena aku aku bermasalah dengan Pak Indra?", tanya Sarah yang masih tidak percaya kalau semua ini tidak termasuk dalam rencana Jaka untuk membuatnya bekerja di Emerald Auto.


"Aku yakin seribu persen bukan itu alasannya. Tapi kau tenang saja, Aku akan selalu ada ada bersamamu... Kau tahu kan, kalau kau tidak perlu bekerja jika menjadi kekasihku?",

__ADS_1


Sarah mendekati Jaka dan memeluk laki-laki itu. Dibenamkan wajahnya ke dada bidang Jaka. Ia merasa aman di sana.


"Aku tahu... tapi aku punya orangtua dan adik yang perlu ku biayai... Dan itu bukan tanggung jawabmu. Kau paham kan maksudku?",


Jaka kagum dengan kemauan Sarah. Jika wanita lain yang ada di dalam posisinya, pasti akan menerima tawaran Jaka dengan senang hati, tanpa beban apapun. Mereka hanya harus meminta uang padanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.


"Berarti kau akan bekerja di Emerald auto mulai besok...", Jaka melihat kesempatan itu untuk membuat kekasihnya menjadi lebih dekat dengannya.


Tapi Sarah menggeleng dengan mantap. Iya tahu, walaupun mereka belum mengumumkan kalau mereka berdua berpacaran, orang-orang di Emerald Auto pasti sebagian sudah mengetahui hubungan mereka. Dan jika Sarah tiba-tiba bekerja disana, pandangan orang-orang terhadap Jaka akan berubah. Semakin jauh, mereka akan merasa kalau Jaka pilih kasih dan sebagainya.


"Dan mengangkat ku menjadi sekretaris mu? Tidak sayang... Orang-orang akan langsung berpikir buruk tentangmu...",


"Tapi aku tidak peduli dengan pandangan orang-orang. Aku hanya peduli padamu. Oke?", ia masih memaksa.


Sarah tau Jaka keras kepala. Tapi ia tetap tidak akan memilih untuk bekerja di Emerald Auto. Ia akan berfikir lagi nanti. Saat sakit kepalanya sudah benar-benar hilang.


※※※


Pak Maulana meneguk wine yang dituangkan putrinya. Debby selalu saja bersikap baik pada ayahnya jika sedang menginginkan sesuatu.


"Wanita itu sudah dipecat. Dan mereka bisa pastikan kalau wanita itu juga tidak akan bisa bekerja di Emerald auto...",


"Benarkah itu Ayah? Kalau begitu, Bagaimana kalau Ayah membuatku bekerja di Emerald Auto? Supaya aku bisa lebih dekat dengan duda itu...",


"Itu pemikiran yang cerdas... Kalau begitu, besok ayah akan bicara dengan Pak Ismail...",


Debby memeluk ayahnya. Dengan menikahi Jaka, artinya hidup kaya selama-lamanya. Cuma itu yang ia perlukan. Ia bahkan tidak perlu meneruskan bisnis Ayahnya dan bekerja mati-matian. Duduk diam di rumah dan uang akan selalu ada saat ia perlukan.


♡


♡


♡

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2