Lay With The Devil

Lay With The Devil
Di Kamar Saja


__ADS_3

🐨Happy Reading🐨


Sarah terbangun karena alarm ponselnya berbunyi. Dengan cepat ia mematikannya. Ia tidak ingin suaminya ikut terbangun, karena ia yakin Jaka baru datang lewat tengah malam tadi.


Ia lalu berusaha bangkit tanpa membangunkan Jaka. Dibenarkannya selimut yang menutupi sebagian tubuh Jaka. Ia lalu beranjak ke kamar mandi unduk membersihkan diri.


Saat keluar dari kamar mandi, betapa kagetnya ia, saat melihat suaminya sudah duduk mematung di tempatnya tadi.


"Selamat pagi, Pa-Sayang..."


"Selamat pagi... kenapa kau meninggalkanku? Argh... kepalaku sakit sekali!" jelas Jaka sambil memegangi kepalanya sendiri.


Sarah buru-buru mendekati Jaka dan mengecek keadaanya.


Ia menempelkan punggung tangannya di kening Jaka. Suhunya normal. Jaka lalu menangkap tangan istrinya itu. Ia tersenyum dan bangkit dari tempat tidur. Ia langsung masuk kedalam kamar mandi.


Sarah tidak mengerti. Ia mengacuhkan kejadian itu dan lalu mencari bajunya di dalam lemari. Saat ia menutup pintu lemari, Jaka sudah berdiri disana. Hal itu sukses membuat Sarah terkejut.


"Sa-sayang! Astaga... Anda membuatku kaget!" Sarah memegangi dadanya yang berdegub kencang.


"He..he..he.. Maaf sayang, Aku sudah mengejutkanmu... Mau kemana sepagi ini?" tanya Jaka bingung.


Sarah melirik ke arah jam didindingnya. Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang.


"Menyiapkan sarapan..." Sarah menelan salivanya. Suaminya berada terlalu dekat dengannya saat ini. Ia jadi kesulitan bernafas dengan normal.


"Apa kau tidak merindukanku?" Jaka menggoda istrinya. Ia tau kalau istrinya itu masih suka malu jika mendengar godaan-godaan yang ia lancarkan.


"I-iya rindu, lah! Seminggu lebih anda meninggalkan saya... Di telfon kadang di angkat, kadang enggak..." jelas Sarah yang malah melipat kedua tangannya di depan dada. Ia merajuk ala-ala.


Jaka yang merasa gemas dengan tingkah laku Sarah, langsung mengangkat tubuh Sarah dan membawanya kembali ke atas tempat tidur.


"GYAAA!! Sa-sayang! Apa yang anda lakukan?!" pekik Sarah protes.


Tanpa memberikan jawaban, Jaka memeluk Sarah.


"Temani aku sebentar lagi... aku masih merindukanmu..." gumam Jaka dengan mata terpejam.


"Hhhmmmm... baiklah... sebentar saja ya..." jelas Sarah yang juga menikmati kedekatan mereka saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Tok tok tok


Ketukan di pintu kamarnya membuat Sarah terjaga. Ia melihat jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan lewat.


Astaga!! Aku ketiduran lagi!! batin Sarah.


Ia lalu turun untuk membukakan pintu.


Cklek


Betty sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa senampan penuh sarapan.


"Boleh saya letakkan di dalam, nyonya?" Betty meminta persetujuan Sarah.


Sarah lalu menyingkir dan membiarkan Betty meletakkannya di dalam. Sarah tidak yakin ia bisa mengangkat nampan itu sendirian. Isinya sangat banyak.


"Mbak, tolong carikan obat sakit kepala ya."


"Nyonya sakit? Tapi nyonya tidak boleh minum sembarang obat..."


"Bukan saya mbak. Tapi Pak Jaka. Tadi pagi ia mengeluh sakit kepala... Tolong ya, mbak..."


"Heeeii... sayang, bangun yuk. Sarapan dulu..." jelas Sarah sambil menggoyang lengan suaminya.


Saat itulah ia melihat beberapa luka goresan di tinju suaminya. Sarah berfikir keras, apa yang terjadi dengan suminya selama ia tidak ada di sana.


Jaka yang mulai sadar, langsung menarik tangannya yang sejak tadi ada di pangkuan istrinya, menyembunyikannya.


"Bangun yuk, sarapan dulu." jelas Sarah melirik nampan berisi makanan yang di letakkan Betty di atas meja di depan TV. Ia tidak ingin bertanya tentang hal itu dulu.


Jaka bangkit dan beralih ke sofa. Ia lalu menarik Sarah agar duduk di sampingnya.


Mereka mulai sarapan sambil menikmati berita yang disajikan di TV Nasional. Masih cukup pagi untuk menemukan berita-barita ter-update hari ini.


※※※


Setelah makan siang, Axel kembali ke kantornya. Sedangkan Sandra, ia baru akan pulang jam tiga sore nanti. Jadilah tinggal Sarah, Jaka dan kedua orang tua Sarah di ruang TV itu.


Hari ini tidak ada jadwal terapi. Dokter Bagas juga baru akan datang nanti malam.


"Sayang, Ibu dan Ayah lanjut istirahat di kamar ya. Nak Jaka kalau masih sakit kepala, jangan dibiarin. Mendingan ke dokter..." jelas Ibu mertua Jaka itu.

__ADS_1


Jaka hanya mengagguk saja. Ibu Mutia lalu mendorong kursi roda milik Pak Arnold. Kini, tinggallah sepasang suami istri itu disana.


Sarah yang sangat serius menonton, membuat Jaka ingin sekali menggodanya. Tapi ia takut ada yang melihat dan ikut panik. Ia mengurugkan niat usilnya.


"Hooaaamm~~" Sarah menguap "Sayang, saya masuk kamar aja ya? Ngantuk banget. Sayang masih mau nonton?"


"Ish, ikut masuk lah." jelas Jaka tanpa menoleh. Serius sekali.


"Loh, kan lagi nonton... Nonton aja dulu..." tawar istrinya.


"Sayangku... Dikamar kan ada TV, aku bisa nonton disana... Okey???" tanya Jaka sambil mencubit pelan pipi Sarah.


"Oh, iya ya... Lupa..."


Mereka lalu meninggalkan ruangan itu dan masuk lagi ke kamar. Rintik hujan siang ini, membuat hawa dingin di kamar Sarah semakin menusuk-nusuk.


※※※


Selama kehamilan Sarah yang semakin membesar ini, ia lebih mudah lelah dan mengantuk. Ia tidak yakin apakah hal itu normal atau tidak.


"Sayang... Besok jadwal periksa kandungan... Apa kami periksa di rumah sakit daerah sini saja?" tanya Sarah yang sudah kehilangan rasa kantuknya.


Jaka yang mendengarkan kata-kata Sarah, kemudian mematikan TV dan beranjak menyusul istrinya di atas tempat tidur.


Tanpa permisi, ia menyusup kedalam pelukan istrinya.


"Eehhmmmm... mana anak-anak papah... Sini peluk... " gumam Jaka saat memeluk perut istrinya yang semakin membesar.


Sarah tersenyum saja melihat kelakuan suaminya itu. Menurutnya hal itu lucu.


"Kalian periksa di sini saja, ya..."


"Apa aku belum boleh ikut pulang?" tanya Sarah yang berharap sudah bisa kembali ke rumahnya sendiri.


Tinggal bersama kedua orang tuanya memang menyenangkan. Tapi ia merindukan berdua saja dengan suaminya. Jika dengan suaminya, ada yang memanjakannya saat malam tiba. Ada yang mengantarnya tidur. Memang kalau bisa, ia ingin berkumpul dengan mereka semua. Tapi kan, tidak mungkin.


"Tentu kau ikut pulang sayang... Aku merindukanmu setiap malam... Tidur sendirian itu tidak enak..." jelas Jaka yang sudah menaikkan baju tidur Sarah hingga perut besar istrinya itu terlihat. Ia mengelus dan menciumnya berkali-kali. Sentuhan hangat suaminya, membuat Sarah merasa nyaman...


🐠bersambung🐠


Love buat kalian yang masih setia disini... Tanpa kalian, apalah arti karya tak berpengunjung ini...


Jangan lupa bagi like, koment, vote, rate & fav nya yaa... Terima kasih!!

__ADS_1


Nb: Koment supaya saya bisa mampir balik ke karya kalian 😘. Vote, saya pasti vote balik 🙏


__ADS_2