
Sarah melihat beberapa pasangan yang berselisih jalan dengannya. Tidak banyak memang. Apalagi dalam cuaca seperti ini. Mungkin mereka lebih memilih untuk menghabiskan hari mereka di dalam rumah yang hangat...
Ngomong-ngomong soal hangat, Sarah kembali teringat pada Pak Jaka yang menjaganya saat hujan badai. Apalagi saat ia mencium bibir Sarah. Katanya untuk mengalihkan perhatiannya... Tidak, Pak Jaka sudah mengalihkan dunia nya.
Sarah kembali tersenyum. Ia tidak tau kalau kasmaran akan terasa menggelitik seperti ini. Tapi tunggu, kasmaran? Oh, ya? Lebih tepatnya cinta yang mengambang. Walaupun tidak ada kabar tentang kedekatan Pak Jaka dengan wanita lain setelah mantan istrinya, tapi posisi mereka bagaikan langit dan bumi. Apalagi saat ini ia terjebak dalan masalahnya dengan pemeras yang jauh-jauh menyeretnya ke negeri Paman Sam yang tengah bersalju.
Sarah menendang salju bertumpuk di depannya.
"Mungkin pulang ke rumah orang tua memang solusi terbaik. Aku harap orang ini benar-benar melepaskanku kali ini. Aku capek...", Sarah duduk di salah satu bangku taman yang tertutup salju.
Baru saja ia ingin mengambil foto selfie dirinya, sebuah tangan menarik ponselnya.
"Eh! Heii!!", Sarah kaget. Ia lebih kaget lagi saat orang yang dilihatnya ternyata Margo.
Sial!! Ia ketahuan.
Margo menyimpan ponsel Sarah di kantongnya.
"Lihat siapa yang keluar dari tempatnya... bukannya permintaanku cukup jelas ya...", Margo mengingatkan. Margo lalu mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi seseorang. Sementara tangannya yang lain masih memegang erat pergelangan tangan Sarah.
📞Halo, Saya menemukannya sendirian di taman seberang hotel. Bagaimana?
📞Bawa dia kemari
📞Oke... Baik... Oke
Margo tersenyum sinis. Ia mengantongi kembali ponselnya.
Saat itulah Sarah menepis tangan Margo sekuat tenaga dan berlari menjauh. Setelah beberapa meter ia menoleh dan Margo masih mengejarnya. Padahal ia sadar kalau ia tidak tau jalan ini. Ia ingin berbalik tapi tidak mungkin. Salju yang di injaknya semakin tebal. Saat itulah akhirnya Margo menerjangnya dari belakang. Sarah tersungkur di atas salju dan Margo masih menindih kakinya.
Sarah tau sedikit lagi ia akan menangis. Saat ini ia benar-banar menyesal sudah meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
"Pergi!! Lepaskan! Aku janji akan kembali ke kamarku...", Sarah memohon.
"Berhenti melawan dan kau akan baik-baik saja!", Margo merasa menang.
Sarah diam. Margo manariknya agar berdiri.
"Kau membuat kita semakin jauh dari jalan keluar. Dasar pel*cur brengsek!!", Margo memaki.
Sarah ingin sekali menampar wajah itu.
Sarah sadar kalau kali ini ia berusaha kabur, ia tidak akan berhasil karena ia sudah sangat lelah. Salju membuat langkahnya berat...
Di Kamar Hotel Sarah
Jaka masih sibuk menghubungi beberapa rekannya. Ia juga menghubungi seorang polisi lokal kenalannya, berharap mereka bisa membantu menemukan Sarah.
"Dasar pembuat masalah... Apa aku harus keluar sana dan mencari mu?", Jaka mengomel di kamar Sarah yang kosong.
Ia meraih jas nya dan beranjak.
"Semoga saja ia tau jalan pulang", Jaka meninggalkan kamar itu.
Di Taman
Sarah sudah sangat lelah. Langkahnya berat dan ia kedinginan.
"Kalau aku mati karena hipotermia, kau orang pertama yang ku hantui sampai mati... kemudian bos mu itu", jelas Sarah. Ia tidak tau lagi mau bicara apa.
"Sesuka hatimu. Aku akan mengantarmu ke tempat Mr. Black, setelahnya aku pergi. Urusanku denganmu selesai",
"What?! Apa maksudmu?! Kau harus membawaku pulang kembali ke Indonesia!! Itu perjanjiannya!!",
__ADS_1
"Perjanjian itu sebelum si Jaka itu datang dan merusak rencana kami! Kalau sekarang, Kau hanya akan dijadikan uang oleh Mr. Black. Kalau kau beruntung, kau hanya akan bekerja di klub malam miliknya... tapi kurasa, ia lebih memilih untuk menjualmu ke Rusia, mungkin ke Emirat Arab...", jelas Margo.
Sarah yang mendengar itu panik. Apa sebenarnya yang dilakukan Jaka sehingga ia harus tersiksa seperti ini.
Lagi-lagi Sarah berusaha menarik tangannya, tapi percuma. Genggaman Margo terlalu erat.
Setelah terus berjalan, mereka akhirnya keluar dan Margo langsung mendorong Sarah masuk kedalam sebuah taksi. Ia memberikan selembar kartu nama pada supir itu. Taksi itu pergi.
Sarah mengurut-urut lengannya yang sakit. Bahkan sedikit biru di pergelangannya.
°°°
Jaka menerima kabar dari seseorang bahwa wanita yang ia cari masuk ke dalam sebuah taksi bersama seorang pria. Dari yang terlihat wanita itu dipaksa oleh si laki-laki. Dan dari gambaran yang diberikan orang itu, si laki-laki sudah pasti adalah Margo.
Jaka tidak bisa memikirkan orang lain selain saudaranya yang bisa memerintahkan hal itu. Tetapi ia harus meyakinkan dirinya terlebih dahulu.
Blitz Night Club (Milik Indra)
Sarah dikurung di sebuah kamar yang tidak terlalu besar. Samar-samar ia bisa mendengar suara musik Electro dari luar. Ia yakin kalau tempat ini adalah klub malam yang dikatakan Margo.
Saat ini ia benar-benar merasa jengkel terhadap Margo. Orang itu langsung pergi setelah seorang pria memberinya nya selembar cek.
Sarah bahkan tidak ingin menyetuh makan makan malam yang di sajikan padanya oleh seorang waitreess dengan pakaian yang sangat mini. Ia terlalu kesal.
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1