Lay With The Devil

Lay With The Devil
CCTV


__ADS_3

Jaka menunjukkan kamar yang akan ditempati Sarah. Wanita itu masih dengan kaku mengikuti langkah Jaka kemanapun orang itu pergi.


"Apartemen ini tidak begitu luas. Hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, dapur dan balkon yang mengarah ke timur".


Jaka sudah berada di dapur dan menuangkan secangkir moccachino kemudian memberikannya kepada Sarah.


"Bagus", jawab Sarah singkat. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Ia hanya ingin menumpang tidur malam ini.


"Saya menjelaskan hanya untuk berjaga-jaga, mungkin kau ingin membeli salah satu apartemen di gedung ini. Tempat ini milik kakak saya", bodohnya aku... Menjelaskan seperti ini memangnya untuk apa? Mengajaknya tinggal serumah?? Jaka galau.


Sarah yang dari tadi kaku, kemudian menarik tangan Jaka.


"Apa benar ada yang dijual? Berapa cicilannya??", tanya wanita itu begitu antusias.


Jaka agak kaget. Karena ia hanya bercanda saat menawarkannya tadi.


Wanita ini serius...


"Nanti akan saya tanyakan lagi. Saya tidak tau karna, yang ini saya beli cash...", Jaka melihat perubahan ekspresi wajah wanita itu.


"Oh"


"Oya, ini kunci rumah saya. Saya rasa anda cukup mengerti pengoperasiannya...",


"Ini... apa maksudnya? Anda mau kemana??", tanya Sarah bingung sambil menerima kartu ajaib itu.


"Hei nona, anda pikir saya akan tidur disini juga? Bukannya agak bahaya ya?",


Sarah dengan susah payah menelan ludah.


"Sudahlah... Saya akan mengunjungi Pak Ibrahim. Sekalian menemui Kirana, mungkin ada apartemennya yang kosong...", jelas Jaka.


Ia kemudian menghabiskan moccachino miliknya dan berjalan meninggalkan Sarah yang masih bingung.


"..."


"Kunci pintunya saat Saya pergi", tambah Jaka. Ia pun keluar diikuti langkah kaki Sarah.


Sarah mengunci pintu. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia alami.

__ADS_1


Oke pertama-tama aku harus memastikan kalau pintu utama terkunci, Sarah memastikan nya. Ia kemudian kembali kedapur dan menghabiskan moccachino yang dituangkan Jaka.


Sarah kemudian mencuci dua gelas yang tadi mereka gunakan. Ia baru akan kembali ke kamar yang disediakan Jaka, saat itulah seseorang menekan bel.


Hmmm... mungkin ada yang tertinggal... Sarah menduga. Setengah berlari ia mendatangi pintu. Layar kecil di samping pintu memperlihatkan seseorang yang sangat ia kenal.


Setelah pintu terbuka, mereka berdua sama-sama kaget.


"Anda? Dimana Pak Jaka?", tanya Paul sambil membawa sebuah amplop cokelat ditangannya.


"Eemmm... dia baru saja pergi... Pak Samsul mengenal Pak Jaka?",


"Sebelumnya saya bekerja dengan Pak Jaka. Saya hanya ingin mengantarkan berkas yang ia minta... sebaiknya saya hubungi beliau saja... Permisi...", jelas Paul sambil pamit dari Sarah.


Sarah tidak ingin juga berlama-lama berada diluar. Tidak enak jika lebih banyak orang yang melihatnya dirumah laki-laki yang bukan siapa-siapanya.


°°°


Jaka memijat kepalanya. Ia masih belum memutuskan akan bermalam dimana. Dirumah orang tuanya atau di hotel.


Ia mengamati layar tabletnya yang menampilkan CCTV apartemennya. Ia tidak mungkin membiarkan wanita itu bebas dirumahnya. Tapi ia masih menjaga batas wajar. Ia tidak berencana mengintip CCTV di kamar tidurnya.


"Sial... Aku lupa janjiku dengan nya...", Jaka langsung meraih ponselnya dan menghubungi Paul yang sudah berjalan ke arah lift.


📞Aku ada di dekat halte bus. Antarkan saja kemari..


📞What??


📞Ya... nanti aku ceritakan


Jaka meletakkan ponselnya dan kembali fokus pada tabletnya.


Uhuuk!!


Jaka tersedak. Ia melihat Sarah menatap CCTV yang ada di dapur. Jantungnya hampir copot. Rupanya wanita itu menyadari kalau ada CCTV di rumah yang ia tumpangi.


Wanita itu mengacuhkannya. Ia kemudian Membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral dingin yang masih di segel.


Tak lama berselang, ia melihat wanita itu menerima telepon dari seseorang. Setelah selesai bicara, Sarah terlihat memijat-mijat keningnya. Ia kemudian melemparkan botol air mineral yang hampir kosong ke lantai. Sepertinya ia sangat marah.

__ADS_1


Jaka lumayan khawatir kalau wanita itu menghancurkan rumahnya. Ia kemudian menghubungi nomor rumahnya sendiri.


📞Ha..halo?


📞Apa kau baik-baik saja?


📞Siapa ini?


📞Jaka


📞Kau mengamatiku?


📞Kau orang asing. Apa saya tidak boleh mengawasi rumah saya sendiri?


📞Oh... Sebaiknya kau pulang saja kemari. Aku harus pergi. Please...


Suara Sarah jelas terdengar tidak terlalu senang.


Jaka menutup telepon dan kemudian seseorang mengetuk kaca mobilnya.


Orang itu Paul. Setelah kuncinya terbuka, Paul langsung masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi.


"Astaga... Luar biasa sekali progress nya, Pak... Dia bahkan menginap di rumah anda...",


"Entahlah, aku menemukannya tertidur di bawah pohon. Gila, kan... Sepertinya ia kabur dari rumah. Dia bilang ada orang brengsek dirumahnya...",


"Dia cerita banyak...", jelas Paul yang kemudian menyerahkan berkas yang diminta Jaka kemarin malam.


"Jejaknya cukup random. Tapi kami menemukan money trail acak. Kadang berasal dari rekening di Jakarta, kadang dari Balikpapan, kadang dari Malaysia dan yang terakhir dari China. Tapi ada beberapa kemungkinan yang membuat kami yakin kalau Sarah ini korban blackmail... ini...", jelas Paul sambil menunjukkan catatan rekening Sarah.


Saldo yang tadinya berisi dua puluh juta sekian, tiba-tiba menjadi nol rupiah hanya dalam semalam. Tapi kemudian saldonya kembali normal setelah dua hari.


"Apa kita harus mengintrogasinya secara langsung? Orangnya ada di rumah anda kan?"




__ADS_1


bersambung....


__ADS_2