
Paul menghentikan mobil tepat di depan pagar rumah Pak Ismail sesuai permintaan Jaka.
"Kau ke kantor saja, Aku dan Sarah bisa di antar oleh supir bapak, atau naik taksi online", Jaka menjelaskan.
"Baiklah. Saya deluan, Pak... Nona Sarah...", Paul pamit.
Sarah mengikuti langkah Jaka untuk masuk ke rumah Pak Ismail. Ini kesekian kalinya ia berada di rumah itu.
"Terasa familiar?", tanya Jaka memastikan.
"Yes. Begitu juga bau cinnamon roll ini... familiar sekali... padahal aku tidak pernah memakannya...",
"Wah... kau harus mencobanya kalau begitu. Mereka sedang sarapan. Aku tau karena bau ini, tandanya kue itu baru saja masak...",
"Bapak selalu makan kue itu saat sarapan?",
"Selama dua puluh dua tahun aku tinggal dengan orang tuaku, ketika ibu membuatnya aku jadi orang pertama yang memakannya...",
"So sweet",
Jaka tidak ingin berkomentar lagi. Mereka bahkan sudah naik ke lantai dua. Tuan dan Nyonya Sanjaya memang sangat suka sarapan di balkon kamar mereka yang memiliki pemandangan paling indah di antara balkon kamar lainnya. Dengan meja dan kursi yang terbuat dari kayu jati, membuat suasananya juga sangat natural. Terdapat lima buah kursi di sana. Dua di antaranya digunakan oleh pasangan itu...
※※※
"Jadi, maksudmu Indra membawa gadis ini sampai ke New York dan berusaha menjualnya?",
Jaka mengangguk.
Saat mendengar penjelasan dari mulut Pak Ismail, Sarah merasa kejadian itu benar-benar buruk. Tapi, mungkin bila Pak Jaka tidak menolongnya, hal itu memang akan menjadi sesuatu yang buruk.
"Sesuai dengan penjelasan Paul, bang Indra juga yang secara rutin menarik dana dari perusahaan. Jaka juga tidak tau, kinerjanya sangat bagus atau memang Pak Alfandy yang kurang peka...",
"Dan... Sarah ini karyawati di kantor bapak?", tanya Ibu Ningsih melihat Sarah yang bardiri di samping Jaka. Perbedaan tinggi mereka membuat Ibu Ningsih berfikir kalau Sarah seperti anak sekolah.
"Saya sudah selesai kuliah lima tahun lalu... ", jawab Sarah tersenyum.
Tampaknya tidak satupun dari mereka berdua yang notice kalau Sarah selalu ada di acara-acara keluarga mereka.
__ADS_1
"Apa kalian berdua sudah kenal sejak lama?",
Jaka tidak tahu bapaknya akan menanyakan pertanyaan yang sangat jauh dari permasalahan mereka. Untungnya ia sudah mempersiapkan jawaban, saat bapak atau ibunya menanyakan hal itu.
"Jaka kenal Sarah saat masuk ke perusahaan Bapak dan karena itu rasanya kami berdua sekarang berteman...",
Sontak saja Sarah menoleh kearah orang itu, ia tersenyum tipis.
Ooh... ternyata kami berteman...
Ayolah Sarah! Memangnya apalagi yang kau harapkan?
"Sarah apa kau baik-baik saja? Bagaimana kalau kalian sarapan dulu sebelum kembali ke kantor?", Ibu Ningsih menawarkan pada anak dan tamunya.
Jaka dan Sarah mengangguk bersamaan. Jaka lalu menarikkan sebuah kursi disamping Ibu Ningsih untuk Sarah.
Mereka lalu mulai sarapan bersama.
Aku ingin sekali menyatakan perasaanku di depan ibu dan bapak, tapi aku takut kalau reaksi mereka tidak sesuai dengan harapanku...
"Wow... Cinnamon cake ini enak banget, Bu...", Sarah memuji masakan istri dari bos nya.
"Benarkah... Terima kasih, Bu...",
Mungkin tidak ada yang sadar, tapi Jaka benar-benar salah tingkah. Sedangkan Pak Ismail hanya bisa tersenyum sambil menyuap potong kuenya.
"Ha..ha..ha.. mungkin suatu saat nanti kau harus membuatkannya untuk Jaka setiap hari...", Pak Ismail tersenyum kepada tamunya.
Giliran Sarah yang tersipu malu. Ia dan Jaka tahu betul kemana pembicaraan mereka menjurus.
"Eheem! Pak, Bu, sepertinya Jaka dan Sarah sudah harus pamit... Jaka harus mengantar Sarah dulu ke AntiQ Jaya. Jaka sendiri ada meeting di kantor hari ini...",
"Saya permisi dulu Pak Ismail, ibu Ningsih... Terima kasih atas jamuan sarapannya... Luar biasa menyenangkan...", Sarah tersenyum.
Sarah bersalaman dengan Pak Ismail. Namun saat ingin bersalaman dengan Ibu Ningsih, wanita itu malah menarik Sarah kedalam pelukannya, seperti mereka sudah kenal sejak lama. Sarah membalas pelukan itu.
"Oke, baiklah... mungkin kapan-kapan Jaka akan mengajak Sarah untuk makan malam di sini",
Aku malu dengan diriku sendiri. Bahkan ibu terlihat lebih baik saat mengungkapkan keinginannya terhadap Sarah.
__ADS_1
"Benarkah? Ide bagus... kabari ibu jika kalian sudah siap", jelas Ibu Ningsih masih dengan senyum manisnya.
Oke... Apa itu maksudnya? Jika kami sudah siap... Astaga! Mereka membuatku berpikir keras!!
※※※
Baru setelah keluar dari rumah keluarga Sanjaya, Jaka ingat kalau Sarah masih punya cuti tiga hari lagi.
Jaka mengantar Sarah pulang dengan mobil Pak Ismail. Sepanjang perjalanan, mereka bahkan tidak saling bicara.
Astaga... Kenapa jadi canggung begini biasanya juga tidak sesunyi ini...
Ya ampun Kenapa Bapak dan Ibu bersikap seperti itu sih? Apa terlihat sekali kalau anaknya ini sedang dekat dengan seseorang?
Pak Jaka lagi mikir apa sih? Kenapa dia nggak ngomong aja coba...
Ni cewek biasanya juga banyak tanya, tumben-tumbenan diam... kan aku juga bingung mau ngomong apa...
※※※
Sarah keluar dari mobil dengan agak terburu-buru.
"Terima kasih ya Pak... Eemmm... apa Bapak mau mampir dulu?", Sarah mencoba untuk sopan.
"Ah, terima kasih atas tawarannya... Tapi aku harus pergi ke kantor. Bagaimana kalau makan malam? Ajak juga kakak dan keponakanmu... Bagaimana?",
"Eemmm.... Boleh sih... Tapi nanti saya kabarin lagi ya Pak...",
"Oke kalau begitu...", Jaka meninggalkan Sarah yang masih berdiri di tempatnya.
Maaf Sarah, aku juga gak ngerti kenapa perasaanku tidak seringan kemarin. Setelah kejadian-kejadian yang kita lewati aku malah... Entahlah...
♡
♡
♡
bersambung....
__ADS_1