Lay With The Devil

Lay With The Devil
Masalah (Konyol) Di Kantor


__ADS_3

Jaka berkali-kali minta maaf pada istrinya, Sarah. Tapi sama seperti tadi, Sarah menjelaskan kalau suaminya itu tidak perlu minta maaf. Bukan salah Jaka.


"Sudahlah sayang... bukan salahmu... bukan juga salah Paul... dia kan gak tau kita menikah dan sedang ingin bulan madu..." Sarah merangkul lengan suaminya.


"Iya sih... Aku janji, honey moon kita akan luar biasa... biar aku urus dulu masalah disana..." Jaka mengecup kening istrinya.


Jaka dan Sarah sedang mengantri untuk membeli tiket kereta api cepat kembali ke kotanya.


Sesaat yang lalu, Paul memberi kabar kalau beberapa pemegang saham berencana menarik saham mereka jika Jaka tidak muncul dalam rapat dewan direksi besok.


Jaka memang merasa bersalah juga karena ia hanya berencana libur selama tiga atau empat hari. Tapi setelah kejadian di rumah mertuanya, ia jadi bolos kerja lebih dari seminggu.


Jaka mengirimkan pesan singkat pada asistennya itu.


📩 Atur saja rapatku dengan mereka untuk besok pagi. Aku yang akan mengurus mereka.


📩 Oke Pak.


Jawaban singkat dari Paul. Ia selalu begitu.


※※※


Jaka sudah akan pergi meninggalkan Sarah saat istrinya itu kemudian menahan tangan Jaka.


"Tunggu..."


"Ya sayang?"


"Ini..." Sarah menyentuh cincin kawin mereka. Cincin yang dibeli Jaka dengan buru- buru. Untungnya ukuran nya sangat pas.


"Kenapa?" Jaka masih tidak paham.


"Lepaskan saja. Kalau tidak, akan mengundang kecuriagaan..."


"Kamu betul-betul ingin pernikahan kita disembunyikan? Aku tidak ada masalah dengan ini, Sayang..." Jaka menjelaskan pendapatnya.


"Aku takut ada yang mengadukan ke bapak mertuaku. Bisa-bisa kau dipecat jadi anak..." jelas Sarah. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya meminta Jaka untuk melepaskannya.

__ADS_1


Mau tidak mau Jaka melepasnya. Supaya Sarah tenang dan ia harus sampai sebelum jam delapan.


Jaka mencium bibir lembut Sarah.


"Kalau kau lelah, tidak usah masak. Sebaiknya istirahat..." Jaka berpesan. Ia kemudian pergi meninggalkan Sarah dan cincin kawinnya.



※※※


Jaka duduk di antara ke empat koleganya. Belum ada yang memulai pembicaraan sejauh ini. Sebenarnya bukan karena apa mereka mengancam akan menarik saham mereka, tapi kereka khawatir Jaka lari dari tanggung jawabnya. Padahal Emerald Auto sedang devisit.


Jaka meletakkan ponselnya ke atas meja. Karena agak kelepasan, suara yang di


tumbulkan jadi agak nyaring. Suara itu sukses membuat beberapa orang dihadapannya kaget. Bahkan salah satu dari mereka sampai mengelus dada.


Jaka ingin sekali tertawa, tapi ia tahan.


"Jadi..." Jaka ingin menyelesaikan rapat ini cepat-cepat. Ia perlu bicara dengan Paul.


"Ah! Kami yakin Pak Jaka tidak akan sembunyi apalagi kabur dari perusahaan sendiri. Ckk! Pak Wasito ini memang tidak percaya pada kata-kata saya..." seseorang dengan perawakan jangkung berusia pertengahan empat puluh itu menepuk bahu rekan di sebelahnya yang ia panggil Pak Wasito.


"Saya? Lah, kan Pak Roma yang kasih infonya. Saham saya tidak sampai dua puluh persen... Tidak seperti saham Pak Roma yang dua puluh persen itu..." Pak Wasito membalas rekannya tadi.


Kedua orang lainnya hanya geleng-geleng dengan kelakuan dua orang tua itu.


Setelah rapat kurang jelas yang mereka adakan selama hampir dua jam, mereka akhirnya beranjak pergi.


Ervan Sarbey, pemilik dua puluh persen saham yang usianya tiga tahun lebih muda daripada Jaka menahan langkah Jaka yang akan masuk kembali keruangannya.


"Aku tau info yang kami terima tidak valid. Tapi kami hanya menjaga properti kami dan menghindarkannya dari kebangkrutan. Kalau kau tidak bisa menanganinya, Laskar Samudra siap mengambil alih Emerald Auto untuk sementara..." jelas Ervan dengan suara yang tidak terlalu nyaring.


"Aku tidak tau info apa yang kalian dapat dari siapa... Tapi aku masih pemegang saham terbesar di sini. Tenanglah kerabat jauh, jalankan saja perusahaanmu baik-baik." Jaka menepuk bahu sepupu jauhnyan itu.


※※※


Jaka dan Paul sedang fokus dengan SMS yang dikirimkan Tobias Kusuma. Pemegang saham delapan belas persen yang tadi datang namun tidak bicara sama sekali.

__ADS_1


📩 Jaka Sanjaya menolak perjodohannya dengan anak pengusaha pilihan Pak Ismail. Hal itu membuat Pak Ismail malu dan berencana menarik aset Emerald Auto dan membekukannya sampai Jaka Sanjaya menerima keputusan Bapak Ismail.


"Kalau aku jadi mereka, aku juga akan khawatir." Paul menambahkan.


"Ia mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Mungkin aku harus bertemu ibu dan menanyakan hal ini." Jaka membuat keputusan. Ia akan mengundang ibunya makan malam bersama menantu barunya.


※※※


Jaka meraih ponselnya. Ia lalu mencari nama Ibu di daftar kontak.


📞 Selamat sore bu...


📞Hai sayang... Kau menelpon juga...


📞Jaka minta maaf soal itu.


Bu, apa ibu bisa keluar untuk makan malam dengan Jaka, malam ini?


📞Tentu saja sayang. Apa kau ingin Ibu mengajak Bapak?


📞Sebenarnya tidak... Jaka perlu bicara hanya dengan ibu. Ada yang ingin Jaka tanyakan...


📞Baiklah kalau begitu, apa kau akan menjemput ibu?


📞Sayangnya tidak... Tapi Paul yang akan menjemput ibu. Apa ibu keberatan?


📞Oohh... Tidak. Ibu akan siap pukul tujuh.


📞Baiklah Bu, Paul tidak akan terlambat...


Jam menunjukkan pukul tiga sore.


Sebaiknya aku segera pulang.


♡


♡

__ADS_1


♡


bersambung...


__ADS_2