
Jaka memijat-mijat kepalanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia meminum kopi, matanya menjadi berat. Dan ia mendengar suara orang meminta maaf. Itu suara Sarah.
Jaka bangkit dari kursi Alfandi. Ia keluar ruangan dan langsung menghampiri meja Sarah.
"Ehemmm... Pak Samsul, apa anda lihat Mbak Sarah?", tanya Jaka berusaha formal.
Paul kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan kantor menuju toilet. Jaka berada tak jauh dibelakangnya.
"Bagaimana? Apa yang kalian bicarakan didalam? Lama sekali...",
"Apanya yang bagaimana? Aku dibius dengan kopi. Gila. Dimana wanita itu?", tanya Jaka jengkel.
"Dia keluar. Sudah hampir jam makan siang dan ia meninggalkan kantor dengan terburu-buru",
"Sialan... apa yang ia lakukan tadi. Coba kamu cek, apakah ada CCTV di kantor Alfandi", perintah Jaka pada asistennya.
Dengan segera Paul meniggalkan Jaka yang sedang membasahi wajahnya.
°°°
Jaka mengamati video yang sedang diputar didepannya. Paul mendapatkan CCTV ruangan Alfandi dengan sangat mudah. Keamanannya tidak begitu baik.
"Anda ingin makan apa malam ini? Bagaimana kalau pizza?", tanya Paul yang dari pulang kerja langsung ikut ke apartemen bos nya.
"Terserah saja. Jangan lupa kopi hitam nya. Aku masih mengantuk", Jaka tidak melepaskan pandangannya.
Paul meninggalkan ruang kerja Jaka dan langsung memesan makanan di aplikasi langganannya.
Tidak lama setelah Paul memesan, ia menghampiri pintu depan. Ia tidak tau mengapa, tapi kakinya mengajaknya ke sana.
Saat itulah ia melihat seseorang yang sangat familiar tengah berdiri di depan pintu apartemen bos nya. Orang itu adalah Sarah. Wanita itu terlihat sangat bingung dan bolak-balik memeriksa Hp nya.
Dengan segera Paul menemui bosnya. Ia yang lebih berhak.
"Pak. Kemarilah. Anda perlu melihat ini...", jelas Paul. Ia khawatir wanita itu keburu pergi.
Jaka mengerutkan keningnya. Tapi ia kemudian menutup laptopnya dan mengikuti Paul ke luar kantornya.
"What...",
__ADS_1
"See that...", jelas Paul sambil menunjuk ke layar monitor yang terletak di samping pintu.
"Apa ia menekan bel? Aku tidak mendengar apa-apa...",
"Tidak. Tidak ada bel. Ia hanya kebingungan di depan situ. Mencurigakan...",
Jaka menyipitkan mata. Ia kemudian membukakan pintu.
"Pak, ingat... anda Jaka, bukan Usman", jelas Paul sesaat sebelum Sarah menerobos masuk dan menutup pintu apartemen Jaka.
"Maaf Pak... Ada orang... yang mengikuti saya dari tadi sore... apa saya boleh menunggu disini?", tanya Sarah sambil mengamati sekeliling ruangan. Ia kemudian setengah berlari menuju ke balkon ruang makan yang terbuka. Dengan terburu-buru ia menutupnya.
"Okey... apa ada yang bisa kami bantu? Perlu polisi?", tanya Jaka heran.
Sarah menggeleng dan kemudian membuka segel air mineral yang disuguhkan Paul. Ia duduk di ruang makan tanpa dipersilahkan. Hampir habis ia meneguk air itu.
"Pelan-pelan. Kau bisa tersedak. Jadi, apa yang sedang terjadi?", Paul menjelaskan.
"Sebaiknya kau lekas pulang. Kita semua tidak ingin drama kemarin terulang lagi", jelas Jaka mengingat drama ojol kemarin.
"Saya yakin bapak mau tau siapa dalang dibalik hilangnya sejumlah besar uang perusahaan Pak Ismail, kan?", jelas Sarah berbisik.
Bagai diSiram air es, Jaka memperhatikan wanita itu dengan lebih intens. Begitupula dengan Paul yang langsung memasang telinganya tajam-tajam.
Sarah mengangguk pasti.
Paul yang sangat hobi memperhatikkan ekspesi wajah orang saat berbicara, terlihat agak bingung.
"Sebaiknya anda pulang", jelas Paul sambil menarik tangan wanita itu.
"Apa?",
"Apa?", Jaka dan Sarah kaget.
"Maksudmu apa, Paul? Bukankah selama ini-",
"Betul Pak, selama ini. Tapi bukan malam ini. Semua yang anda lakukan dari tadi sangat mencurigakan. Kalau ada yang menyuruhmu melakukan hal-hal ini, anda boleh pergi sekarang, atau saya panggil polisi dengan tuduhan menerobos masuk",
Sarah sibuk mengetik di ponselnya.
__ADS_1
"Saya hanya ingin membantu. Hanya karena saya tau sesuatu, saya tidak ingin di teror terus menerus. Kalau boleh, saya ingin saya lupa ingatan saja, asal bapak tau ya...", Sarah meletakkan ponselnya di atas meja.
Jaka menatap layar ponsel Sarah yang masih menyala. Ia lalu bertukar pandang ke arah Paul. Dalam hati ia mengumpat. Siapa sebenarnya orang dibalik semua masalah ini.
"Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu. Semua isinya adalah real. Setelah saya memberikan ini, saya mohon agar kalian tidak pernah lagi datang ke kantor. Kalian boleh melaporkan semua isinya...",
Paul menerima sebuah flashdisk yang di berikan padanya. Ia langsung mengambil laptopnya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dengan cepat ia menyalakannya dan memeriksa isi Flashdisk itu. Ia sedikit kaget dengan apa yang ia temukan. Sekarang ia bingung. Apakah harus percaya ini bagian dari rencana mereka, ataukah ini benar dan mereka berharap kalau tidak ada yang percaya dengan data tersebut.
"Bagaimana?", tanya Jaka yang masih fokus pada Sarah. Ia berusaha memahami masalah wanita itu.
"Terima kasih, nona Sarah. Kami akan meminta seseorang untuk mengantar anda pulang jika tidak keberatan...",
"Ti...dak usah. Asal data itu sampai, saya kira saya sudah cukup aman untuk bisa pulang sendiri...", Sarah sendiri ragu dengan ucapannya.
Wanita itu beranjak dan pamit pada Jaka juga Paul.
°°°
"Apa kau percaya?", tanya Jaka pada Paul yang kembali menatap layar laptopnya.
"Tidak. Data ini tidak membuktikan apa-apa... Apalagi setelah mereka tau penyamaran kita dengan mudahnya..."
"Apa kita harus percaya dengan apa yang ia tulis??",
"Entahlah. Ia bisa jadi hanya korban, atau bagian penting dari kasus ini... kepalaku sakit...", jelas Paul sambil memijat keningnya.
"Mungkin aku terlalu berambisi menyelesaikan masalah ini sendiri... Mungkin sudah saatnya mencari orang yang lebih pro...",
Jaka menatap Paul dalam.
Ia tau asistennya setuju.
♡
♡
__ADS_1
♡
bersambung....