Lay With The Devil

Lay With The Devil
Minta Tolong


__ADS_3

Happy Reading 😘


————●●————


Sarah menghapus air matanya.


"Apa maksudmu? Bukankah kamu sudah tinggal bersama dengan keluargamu saat ini?" tanya Rangga yang di iyakan oleh dua anggota keluarga lainnya.


Dengan ragu Sarah menggeleng.


"Tadi siang aku mendengar percakapan kak Sinta dengan Ibunya. Dan sepertinya..." Sarah kemudian menceritakan semua yang didengar tadi siang.


"Sebenarnya aku juga sudah curiga kalau cerita Aris tentang mu itu hanya kebohongan saja... Apalagi kau dan dirinya tidak memiliki kemiripan apapun!" Risty terlihat jengkel.


"Selain kata-kata Sinta, apa ada hal lain yang membuatmu yakin, mereka bukan keluargamu?" tanya Bu Indy kemudian.


Sarah menggeleng ragu. Selain kata-kata Sinta, Ia memang tidak memiliki bukti apa-apa.


"Aku takut menjadi pemicu pertengkaran mereka... Belakangan ini kak Sinta menjadi agak kasar padaku. Dia mengira kalau Bang Aris mungkin suka padaku. Bukankah itu pemikiran yang gila, jika aku memang adiknya, tidak seharusnya kak Sinta berpikir seperti itu. Iya kan?"


Mereka terlihat mengangguk tanda setuju.


"Berarti memang benar, kalau Sarah itu bukan keluarga dari Aris. Lantas untuk apa Aris menampungnya selama tiga bulan ini?" bu Indy sepertinya tidak paham.


"Dasar parasit!! Sepertinya mereka berdua sengaja membuat Sarah merasa berhutang budi. Seperti Sarah bilang, dia berikan semua gajinya kepada Aris."


"Benar begitu Sarah?", tanya Risty seakan tak percaya.


Sarah mengangguk. Ia merasa bodoh saat ini. Tapi tidak ada yang men-judge-nya. Ia korban disini.


"Kalau kau benar-benar hilang ingatan, sepertinya akan agak susah untuk mempertemukanmu dengan keluargamu... Apa tidak ada satu atau dua hal yang kau ingat?" Risty berusaha mengorek informasi lebih lagi dari Sarah.


Sebelumnya, mereka tidak tahu kalau Sarah itu hilang ingatan. Yang mereka tahu, Sarah baru kembali dari kota setelah berapa tahun bekerja di sana.


Sarah menggelengkan kepalanya. Tidak ada hal yang ia ingat tentang keluarganya. Tapi ia kemudian menceritakan saat-saat sebelum ia bertemu dengan Aris. Yaitu saat ia di mobil bersama dengan seorang laki-laki dan kata-katanya yang ingin balas dendam.


"Kau tau, mugkin satu-satunya cara adalah melaporkan kehilanganmu kepada polisi. Aku tidak yakin kalau keluargamu tidak melaporkan kehilanganmu. Mereka pasti melakukannya." Rangga mengusulkan.


Ibu Indy dan Risty terlihat mengangguk setuju.


β€»β€»β€»


Jaka membaringkan tubuhnya yang lemas tak bertenaga.


[Flashback On]

__ADS_1


Tadi siang ia memuntahkan seluruh makan siangnya. Entah apa yang terjadi padanya.


"Mungkin masuk angin... Apa kau mau pijat?" tawar ibunya siang itu. Jaka hanya menggeleng lemas.


"Mungkin asam lambungku kambuh, bu. Sepertinya aku terlalu menikmati kopi-kopi itu..."


Jaka lalu meminta Paul untuk mengantarnya ke rumah sakit. Ia memerlukan kondisi tubuh yang fit untuk terus mencari istrinya.


Di ruang dokter Fandy


"Kau baik-baik saja Jaka... Tidak ada masalah yang serius dengan kondisi tubuhmu. Asam lambungmu juga baik-baik saja..." dokter Fandy menjelaskan kondisi kesehatan Jaka.


"Kalau begitu, mengapa aku sampai muntah setelah makan siangku tadi? Apa seperti kata ibuku, aku hanya masuk angin?" Jaka tidak puas dengan diagnosa dokter.


"Ya, bisa jadi." doter Fandy ikut berspekulasi. Nyatanya, pria di hadapannya ini sangat sehat. Hanya saja terlihat kelelahan.


"Mungkin begitu... Berapa hari ini aku terus keluar malam..." Jaka menjelaskan apa yang ia kerjakan.


"Apa kau ingin ku beri resep vitamin?" dokter Fandy menawarkan. Ia tidak akan memberinya jika Jaka tidak ingin.


"Terserah apa katamu saja..."


Dokter muda itu kemudian menuliskan beberapa jenis vitamin yang bisa diminum Jaka.


"Oya, cobalah minum susu, bukannya kopi. Mungkin tubuhmu sudah kelebihan kafein."


Jaka mangambil sekotak susu cair yang ia beli tadi. Setelah menusukkan sedotan, ia langsung meminumnya.


Jaka menutup mulutnya dan langsung berlari kedalam kamar mandi.


"Hueeeeekkk!!" Jaka memuntahkan semuanya tepat didalam closet.


Sial... Aku kenapa sih...


β€»β€»β€»


Jaka menghubungi Paul. Iya hanya ingin menyampaikan pesan, kalau ia tidak bisa datang ke kantor hari ini. Tubuhnya sangat lemah dan ia kemudian menceritakan kalau tadi malam dia kembali muntah setelah minum seteguk susu.


πŸ“ž Kau yakin baik-baik saja?


πŸ“ž Tidak! Ya Mana aku tahu? Kalau dokter saja bilang, tidak ada yang salah dengan kondisi kesehatanku, lantas aku harus bertanya kemana lagi?


πŸ“ž Kau benar juga... Ya sudah kalau begitu... Kau istirahat saja di rumah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.


Jaka memanggil asisten rumah tangga di rumahnya. Ya, semenjak Sarah menghilang, ibunya mencarikan Jaka seorang asisten rumah tangga untuk mengurus keperluannya.

__ADS_1


"Iya tuan? Apa anda ingin sarapan?" tanya pemuda yang sudah terlihat rapi itu.


"Ya Ar, tolong bawakan sarapannya kemari. Aku kurang enak badan."


"Baik tuan." pemuda itu menghilang dari balik pintu kamar Jaka.


Pemuda itu bernama Ardi. Anak dari asisten rumah tangga di rumah bapak dan ibunya. Saat malam, ia akan menjalani kuliah online atas perintah Jaka. Jaka sendiri yang mendaftarkannya. Anak itu pintar dan cekatan. Menjadi asisten rumah tangga bukan pilhannya, tapi keadaan memaksa begitu.


Jadilah, Jaka menyekolahkannya lagi. Pemuda sembilan belas tahun itu sangat senang. Jaka sendiri merasa seperti mendapat adik yang tidak pernah ia miliki.


.


.


Jaka menerima sarapan yang di bawa Ardi.



"Kau pandai masak." Jaka memuji hasil masakan Ardi. Sayangnya ia bahkan tidak ingin mencicipinya.


"Ada apa tuan?" tanya Ardi saat Jaka menjauhkan piring yang diterimanya tadi.


"Entahlah. Aku tiba-tiba ingin makan gado-gado. Bisakah kau membelikannya untukku? Setauku di komplek sini ada warung makan yang menjual gado-gado untuk sarapan..."


"Baiklah tuan." Ardi tidak protes. Ia mengambil kembali piring berisi nasi goreng yang dibawanya tadi.


"Pakai saja mobilku. Kau bisa mengendarai mobil kan..." jelas ku lagi.


"Ba-Baik tuan... Eeemm... apa tuan yakin?" tanya Ardi lagi.


"Iya. Pergi sana. Aku lapar."


Ardi meninggalkan tuannya sendirian dikamar.


Jaka meraih remote TV dan mulai mencari berita.


Sayang... Aku kangen kebersamaan kita... Aku sakit. Seharusnya kau ada disini...


.


.


✩bersambung...✩


β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β˜…β˜…β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

__ADS_1


Terima kasih untuk para pembaca dan author-author yang sudah berkenan mampir kesini... Jangan lupa kasih jempol, rate, vote jika berkenan.


🎨Image: Google Search.


__ADS_2