Lay With The Devil

Lay With The Devil
Flashback


__ADS_3

Jaka memperlambat laju mobilnya. Mereka sudah memasuki halaman rumah Sarah.



Rumah beratap rendah itu sangat menarik perhatian Jaka. Halamannya yang luas membuatnya terlihat segar. Karena lahan mereka yang luas, jadi jarak rumah mereka dengan tetangga lainnya lumayan jauh.


"Rumah kalian unik...", Jaka menghentikan mobilnya.


"Dan tua... Ayah yang mendesainnya sendiri saat aku masih berusia lima tahun. Katanya agar ia tidak terlalu merindukan kampung halamannya...", Sarah melepas sabuk pengamannya.


Sarah keluar dan mulai merenggangkan kaki dan tangannya. Ia berdiri sejenak. Dilihatnya rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi. Ia kangen dengan kamar nya di basement.


Sarah mengerutkan keningnya. Jaka masih tidak keluar dari dalam mobil.


"Ehem... apa kau baik-baik saja Sayang?", Sarah mengetuk jendela pintu penumpang. Kaca nya terbuka.


"Aku... aku agak gugup", Jaka menjawabnya dengan susah payah.


Sarah menahan tawanya. Ia membuka pintu dan masuk lagi ke dalam mobil Jaka.


Sarah tersenyum dan mendekat ke wajah Jaka. Ia mengecup pipi laki-laki itu sekilas.


"Katanya kau akan meyakinkan orang tuaku... Katanya kau akan memperjuangkanku... Kalau Sayangku duduk saja disini, bagaimana mau bertemu dengan mereka...", Sarah menggenggam tangan Jaka. Ia berusaha menenangkannya.


Jaka menoleh dan menarik Sarah mendekat. Ia mencium kekasihnya, berusaha menghilangkan kegugupannya.


"Oke... Baiklah... Sudah cukup... Ayo kita masuk", Sarah mendorong pelan dada Jaka. Pria itu mundur.


"Haruskah aku bertemu mereka hari ini...",


"Eh? Kemana keberanian kemarin? Tertinggal di suatu tempat?", Sarah menggoda orang itu.


Jaka turun dari mobil. Begitu pula dengan Sarah.


Jaka meletakkan kedua tas mereka di depan pintu. Sarah menekan bel rumahnya. Ia lalu mencoba membuka pintu.

__ADS_1


Oke, terkunci. Paling tidak aku mencoba...


"Masih bersamaku?",


"Ehem... iya", Jaka menjawab.


Tidak memerlukan waktu lama untuk seseorang membukakan pintu buat mereka.


"KAK SARAAH!! KYAAAA....", Sandra menubruk Sarah yang hanya bisa pasrah.


"Adik kecilku. Kau sudah jauh lebih tinggi... Dimana Ayah dan ibu?", Sarah mencari-cari keberadaan mereka.


Saat itulah sepasang suami istri muncul dari dapur dan langsung menghampiri mereka.


Sarah tidak kuasa menahan air matanya. Air mata bahagia itu menetes tak mau berhenti.


"Hei..hei.. Anak ibu tidak secengeng ini... Sudah jangan menangis...", jelas ibunya sambil sesekali menghapus titik air matanya sendiri.


"Sudah sudah. Kalian ini seperti belasan tahun tidak ketemu. Padahal belum juga setahun...", Pak Arnold, ayahnya menjelaskan. Ia lalu menyambut pelukan anaknya.


Sarah lalu menarik tangan Jaka yang dari tadi hanya menjadi penonton setia reuni keluarga itu.


"Ayah, Ibu, Sandra... Perkenalkan ini Jaka. Emm... Pacar Sarah...",


Ibu Mutia tersenyum lebar. Bagaimana tidak, dengan penampilan Jaka yang seperti itu, calon mertua mana yang tidak bahagia?


Sandra hanya bisa menutup rapat mulutnya dengan sebelah tangan. Ia tidak menyangka kakaknya bisa bertemu pangeran setampan itu. Intinya, ia iri.


Pak Arnold sendiri terlihat datar. Hal itu membuat Jaka semakin gugup. Apakah ia harus bilang sekarang atau nanti.


Untungnya, Ibu Mutia langsung memecah keheningan yang membuat Jaka tertekan.


"Sebaiknya kalian masuk. Nanti saja kita bicara. Ibu sudah masak makan siang yang banyak...", Ibu Mutia menarik Sarah dan Jaka. Sandra kebagian tugas untuk membawakan kedua tas yang di tinggal pemiliknya.


Pak Arnold? Ia masih mengamati Jaka dari belakang. Ia tidak menyangka kalau Sarah akhirnya benar-benar bersama dengan laki-laki itu. Yang ia khawatirkan terjadi.

__ADS_1


________●●________


Flashback Pak Arnold


Dengan tangan gemetar karena amarah, Pak Arnold menandatangani surat perjanjian yang dikirimkan kepadanya. Mau tidak mau harus ia lakukan agar mantan kolega nya tidak mengirimnya ke penjara.


Beberapa minggu kemudian, Sarah mengutarakan keinginannya untuk bekerja di kota. Ia ingin memiliki pengalaman yang baru. Setelah beberapa bulan berdiam diri dirumah, akhirnya ia mendapat kesempatan itu.


Pak Arnold, Ayahnya menawarkan sebuah pekerjaan di perusahaan besar di Kota. Katanya, ada salah satu temannya yang sedang mencari orang yang bisa ia percaya untuk bisa masuk kedalam perusahaan itu.


Sarah say yes. Kapan lagi?


Dibelakangnya, Pak Arnold meminta tolong pada seorang konekasinya di dalam peruasahaan itu untuk meloloskan anaknya. Sebagai teman lama, orang itu berjanji untuk membantu Pak Arnold menyelesaikan masalahnya.


Yang diinginkan Pak Arnold tidak banyak. Ia hanya ingin Sarah berteman dengan keluarga itu. Untuk kemudian mencari dan mengambil apa yang menjadi hak nya. Ya, Sarah tau dari awal. Ia tau siapa Ismail Wirawan Sanjaya, ia tau siapa Jaka.


Tapi ternyata rencana Pak Arnold tidak pernah sesimple itu. Sarah menghadapi masalah yang lebih serius dengan Pak Indra. Sarah tidak lagi sibuk mendekati keluarga Sanjaya seperti permintaan Ayahnya.


Pak Arnold tidak pernah punya kesempatan untuk bicara dengan Sarah, anaknya terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.


Pak Arnold berfikir, mungkin sudah saatnya mengakhiri perusahaannya. Ia sudah terlalu tua untuk ini semua.


Dan hari ini, Sarah pulang dengan seseorang. Anak dari Ismail Wirawan Sanjaya. Anaknya memperkenalkannya sebagai pacar. Jadi, apakah itu sungguhan? Apakah hanya bagian dari rencana Sarah? Apakah aku harus bertahan dengan rencana mereka sebentar lagi?? Sarah tidak pernah bisa di tebak.





bersambung...


...


Mengejutkan?

__ADS_1


Ternyata Sarah tau Siapa Pak Ismail dan Jaka selama ini. Jadi, bagaimana hubungan mereka selanjutnya?


__ADS_2