
⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠
📣Warning!! 21+
Mengandung konten dewasa dan atau kekerasan. Kebijakan pembaca di harapkan. Yang belum cukup umur, skip episode ini.
———————————♡♡———————————
💕Selamat Membaca 💕
Setelah dua hari menemani mertuanya terapi, Jaka merasa sudah banyak kemajuan yang terlihat. Bahkan Pak Arnold sudah bisa melangkahkan kakinya walaupun hanya satu atau dua langkah. Bicaranya juga sudah mulai bisa dipahami.
Besok ia harus pulang ke rumahnya sendiri. Ada perusahaan yang harus ia urus. Meskipun ada Paul, tapi ia tidak boleh membiarkan asistennya itu mengerjakan semuanya. Bisa-bisa orang itu kabur, karena pekerjaan yang tidak kunjung habis.
Jaka dan Sarah juga sudah mendiskusikan satu hal penting. Jaka memperbolehkan Sarah untuk tinggal lebih lama disini. Paling tidak hingga ayah mertuanya jauh lebih baik.
Apalagi ingatan Sarah akan masa lalunya tidak berkurang sedikitpun. Jaka berharap, dengan begitu Sarah akan sedikit-sedikit mengigat dirinya.
Sarah tertunduk lemas. Ia menyusun pakaian-pakaian Jaka kembali kedalam koper suaminya itu.
Jaka yang melihat keresahan Sarah, lalu menghampirinya.
"Sayang... tidurlah. Ini sudah malam... Biar aku saja yang menyelesaikan sisanya..." Jaka mengambil alih baju dari tangan Sarah.
Karena tadi keasikan ngobrol, mereka jadi lupa waktu. Tidak terasa jam di tangan sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit.
Sarah menuruti perintah Jaka. Ia berbaring di atas tempat tidurnya. Tapi Sarah tidak bisa memejamkan matanya. Tatapannya mengikuti kemanapun langkah Jaka pergi.
Jaka yang menyadarinya, lalu memutuskan untuk duduk si samping Sarah.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Jaka sambil mengusap rambut Sarah yang panjang.
Sarah menggeleng.
"Tidak tahu..."
"Apa kakinya sakit lagi? Mau dipijat?" Jaka menawarkan diri.
Saat ia akan mulai memijat, tangan Sarah menahannya.
"Tidak usah... Kakiku baik-baik saja..."
"Lalu ada apa?"
__ADS_1
"Saya tidak tau... Sejak anda bilang akan pulang besok... perasaan saya jadi aneh. Gimana ya, tidak bisa gambarkan. Saya juga tidak paham..."
Jaka tersenyum mendengar pengakuan jujur istrinya. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Tapi ia sembunyikan. Perasaan tidak ingin berpisah.
"Aku bisa tinggal lebih lama kalau kau mau. Tapi kau masih harus disini untuk mendukung terapi ayahmu... Bagaimanapun, semuanya gara-gara aku..." Jaka menjelaskan.
Sarah menggeleng.
"Anda harus bekerja... Biarpun Anda seorang direktur, Anda tetap harus berkomitmen dengan pekerjaan itu..." jawab Sarah lagi
Jaka tersenyum. Ia lupa kalau Sarah belum mengetahui pekerjaaannya.
"Betty akan tinggal disini. Jadi tenanglah..."
Sarah tau bukan kekhawatiran seperti itu yang ia rasakan. Ia memerlukan sosok Jaka yang akan sigap mengelus perutnya, memijat kakinya, atau sekedar mengusap kepalanya saat ia tidak bisa tidur.
Jaka lalu menarik Sarah kedalam pelukannya. Dengan lembut, diciumnya bibir Sarah yang sejak tadi tertutup rapat. Sarah merasa, begitulah ia memerlukan Jaka. Kedua tangannya melingkar di bahu suaminya. Ciuman ringan itu berubah menjadi lebih dalam. Tangan Jaka bahkan sudah menemukan mainan untuk dielus dan diremas sesekali.
"Eeemmmhh..." gumam Sarah pelan.
Jaka mulai tidak bisa menahan keinginannya. Dengan ijin dari Sarah, ia melepaskan semua penutup yang menghalangi.
Saat ini, tidak seperti kemarin-kemarin, Sarah tidak mau berkedip saat melihat tubuh suaminya yang telah polos. Tangannya mencoba menyentuh dadanya yang bidang.
Apa ini... Kenapa aku mempermalukan diri sendiri? batin Sarah bingung.
"Sa-saya... ingin menyentuh-nya..."bisik Sarah pelan.
Jaka yang merasa tergoda juga, lalu meraih tangan Sarah dan menuntunnya kesana.
Satu sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Apalagi saat Sarah mulai memijat dan mengelusnya.
Entah bagaimana kejadiannya, kini Sarah sudah berlutut dihadapannya. Mata Jaka menatap istrinya nanar.
Argh!! Aku bisa gila kalau ia melakukannya terus... batin Jaka.
Jaka yang sudah diliputi dengan n*fsu, mengangkat tubuh Sarah ke atas tempat tidur dan mulai mencari.
Sarah mencengkram bahu Jaka saat suaminya itu berhasil memasukinya. Sekelebat bayangan lalu muncul di pikirannya. Tapi Ia tidak terlalu peduli. Namun bayangan itu kembali muncul dengan suasana yang lebih nyata.
Tiba-tiba wajah seorang pria, selain suaminya muncul.
Sarah yang panik langsung mendorong tubuh Jaka hingga laki-laki itu kebingungan.
__ADS_1
"JANGAN!! TOLONG!! AKAN KU BAYAR BERAPAPUN YANG KAU MINTA!!" pekik Sarah yang juga membawa kesadaran Jaka kembali.
Laki-laki itu sepertinya tau apa yang dikatakan Sarah. Dengan erat dipeluknya tubuh Sarah yang masih berusaha menghindar.
"Ssstthh... Sayang... ini aku, suamimu... tenanglah..."
"Enggak!! Aku- aku- dia ingin memperkosaku!"
"Tidak sayang... Ia tidak berhasil menyentuhmu... Kau wanita kuat..." Jaka menjelaskan.
Ia cukup yakin dengan penemuan detektif Lee.
"Tindakan pelecahan itu untungnya belum terjadi. Kalaupun ada, sisa-sianya pasti terlihat." jelas detektif Lee saat itu.
Akhirnya Sarah melemah. Tubuhnya pasrah dalam pelukan Jaka. Ia lalu tertidur. Jaka menarik selimut dan menutupkannya di tubuh Sarah. Ia sendiri beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan diri dan meyelesaikan kebutuhannya.
※※※
Sarah terbangun. Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul empat kurang. Ia menyadari kalau dirinya masih polos dan hanya di tutupi selimut. Disebelahnya, Jaka hanya memakai boxer tanpa atasan.
Sarah menatap langit-langit kamar. Diingatnya lagi bayangan yang muncul tadi.
Aku merusaknya... Pasti ia sangat kecewa tadi... gumam Sarah.
Dibelainya kepala Jaka pelan. Ia tidak ingin membangunkannya. Tapi Jaka tetap bangun juga.
"A-anda tidak tidur?"
"Hhmmm... aku tidur, tapi belakangan ini mudah terjaga... Apa terjadi sesuatu?" tanya Jaka menyelidik.
"Aku... mengingat malam itu... Ini... anak ini... apa..."
Jaka tau betul apa yang akan dikatakan Sarah. Dengan tegas Jaka menjelaskan,
"Mereka anakku Sayang! Anak kita. Laki-laki brengsek itu tidak pernah menyentuhmu! Kau hanya milikku..." jelas Jaka yang sudah kembali memeluk Sarah.
Sarah menangis dalam pelukan Jaka.
"Aku minta maaf... Hiks... hiks... hiks..."
"Cup.. Cup.. cup.. Sudah, jangan memengingat hal itu lagi... Kalau untuk mengingat hal tentang kita, kau harus mengingatnya juga, seharsnya kubiarkan saja kau melupakanku... Kau mau menerimaku saja, aku sudah sangat senang... Aku minta maaf, sayang..." Jaka akhirnya sadar, kalau keinginannya agar Sarah mengingat semuanya, mengakibatkan Sarah mengingat-ingat juga kejadian-kejadian buruk yang ia alami.
Mulai saat ini ia bertekad untuk membiarkan Sarah melupakannya. Jika alam bawah sadar Sarah menginginkannya untuk lupa, pasti itulah alasannya. Ingatan itu terlalu menyakitkan untuk Sarah.
__ADS_1
📦Bersambung📦
Thanks atas dukungannya...