
Hai semua... Maaf untuk episode yang harusnya Up hari Jum'at, harus molor.
Sempat down karena sudah 850 kata dan harus hilang. Padahal sudah tinggal finishing dan upload.
Nyeseknya tuh di sini... Dan akhirnya saya ketik ulang, walaupun hati masih tidak terima. Entah saya menekan tombol tempat sampah itu, atau memang error dan hilang 😩😩😩.
Kalau kata Bondan Prakoso, Ya Sudahlah~~
Udah ah curhatnya. Lanjut ke cerita...
🎂Selamat Membaca🎂
...🎤🎤🎤...
...Hari ini, hari yang kau tunggu...
...Bertambah satu tahun, usiamu,...
...Bahagialah slalu...
...Yang kuberi, bukan jam dan cincin...
...Bukan seikat bunga, atau puisi,...
...Juga kalung hati...
...Maaf, bukannya pelit,...
...Atau nggak mau bermodal dikit...
...Yang ingin aku, beri padamu...
...Doa stulus hati ......
...Smoga Tuhan, melindungi kamu...
...Serta tercapai semua angan dan cita-citamu...
...Mudah-mudahan diberi umur panjang...
...Sehat selama-lamanya....
...Selamat ulang tahun yaaa......
...Semoga panjang umur selalu....
...Selamat Ulang Tahun ......
...Selamat Ulang Tahun ......
...Selamat Ulang Tahun — Jambrud...
...———————♡♡♡♡———————...
Sarah memutarkan lagu itu berulang kali, semanjak ia bangun tidur tadi. Jika dihitung-hitung, lagu itu sudah berulang sebanyak tiga kali, dan suaminya masih belum juga bangun.
Sebenarnya ia masih belum mengingat apapun. Tapi tadi malam, Paul mengiriminya pesan. Dia memberitahukan kalau suaminya itu berulang tahun hari ini. Sarah yang bingung harus memberi kado apa, akhirnya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan.
Sarah sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia ingin berenang tapi cuaca di luar sedang gerimis. Ia lalu memutuskan untuk kembali berbaring di samping suaminya.
"Hei tuan tidur..." panggil Sarah sambil mengelus pipi suaminya.
Pria itu bergerak sedikit lalu menggeliat meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
...Smoga Tuhan, melindungi kamu...
...Serta tercapai semua angan dan cita-citamu...
...Mudah-mudahan diberi umur panjang—...
Jaka mematikan lagu yang mengalun dari ponsel istrinya.
"Loh—loh... kok dimatikan?" Tanya Sarah .
Jaka lalu memeluk istrinya. Ia lalu berpindah posisi menjadi di atasnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Sarah tidak bisa menolak. Sarah hanya bisa menelan salivanya beberapa kali.
"Hati-hati dengan perutnya..." akhirnya ia berhasil mengeluarkan kata-kata.
Jaka lalu menjauh dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Sarah masih terbaring di sana. Saat sedang berusaha untuk bangun, Jaka sudah keluar dari kamar mandi dan kembali menyusulnya ke atas tempat tidur.
Jaka sudah berada lagi di atas istrinya.
"Happy birthday to you..." ucap Sarah lirih, sambil tangannya mengelus pipi Jaka.
"Hmmm... Thank you."
Cup
Ia mengecup bibir Sarah sekilas.
"Maaf, aku bukannya mengingat lagi semua itu... Tapi—"
Sarah terlihat bingung. Ia tidak tahu harus memberi kado apa untuk suaminya, yang sudah memiliki segalanya itu.
"Memangnya suamiku ini menginginkan apa? Bukankah anda sudah memiliki segalanya?" selidik Sarah.
Sebenarnya Sarah tahu pasti apa yang diinginkan suaminya pagi ini. Ia hanya memastikan-nya saja.
"Kau benar sayangku... istriku..." Jaka lalu mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Sangat lembut, seperti seseorang yang memperlakukan sebuah barang mewah yang sangat rapuh.
Sarah yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa mendes#h tertahan. Dengan lihainya tangan Jaka mulai melepas kancing baju yang dikenakan sang istri. Ia mulai menciumi leher mulus Sarah. Tangannya yang bebas, tidak hanya diam saja. Tapi sudah mulai ikut menjelajah tubuh sang istri yang sudah setengah polos. Sesekali ia mengelus puncak perut sang istri, tapi setelahnya tangan usil itu sudah berpindah lebih ke atas lagi.
Sarah merasa, Ia tidak akan sanggup jika suaminya itu bermain lebih lama lagi di sana.
"Sayang... Jangan terus-terusan menyiksaku..." bisik Sarah lirih.
Sarah memang tidak bisa menahan godaan-godaan yang ditujukan kepada pay#d#ranya. Dari beberapa titik sensitif yang selalu di sukai laki-laki, bagian itu adalah bagian tersensitif miliknya.
"Aku tidak berniat untuk menyiksamu, sayang. Aku hanya sedang berusaha mendapatkan hadiah ulang tahun terbaikku..." jelas Jaka disela kegiatannya.
"Akhh... Okey Sa—yang... Bisakah dengan tidak membuatku gila seperti ini?" Sarah memohon.
Ting Tong! Ting Tong!
"Shiit!! Sepagi ini?!" umpat Jaka jengkel.
"Hhmmm... Sayang terlalu bermain-main denganku... Kan, jadinya batal..." jelas Sarah yang sudah membenamkan wajahnya ke atas bantal.
"Kalau begitu kita abaikan saja." Jaka mengusulkan.
"Ah, sayang! Mana bisa begitu. Bagaimana kalau hal penting?"
__ADS_1
"Ck! Aku cukup yakin tidak sepenting itu!"
Jaka kembali menciumi sang istri.
Ting Tong!
"Ah! Ada apa dengan mereka, sih?!" omel Jaka lagi.
Sarah yang sudah kehilangan momentnya, hanya bisa tertawa geli melihat kegusaran sang suami. Sesekali ia mempermainkan rambut Jaka yang masih acak-acakan.
"Buka saja. Sepertinya ia tidak akan pergi kalau tidak di bukakan pintu..." Sarah membujuk.
Ting Tong!
Jaka benar-benar geram. Ia berniat untuk melaporkan pelayanan hotel ini kepada sang manajer. Bisa-bisanya mereka mengganggu liburan mereka seperti ini.
Cklek
"Apa—"
Pop!!
Sebuah confetti meledak dan menghambur potongan-potongan kertas warna-warni ke arah Jaka.
"Selamat ulang tahun Tuan Jaka. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Diberikan kebahagiaan dengan keluarga tercinta..." jelas orang itu sambil menyodorkan sebuah kue ulang tahun Red Velvet kehadapannya. Dua orang di belakangnya menggunakan topi ulang tahun dan hidung badut berwarna merah. Jaka ingin sekali tertawa, tapi Ia menahannya.
Red velvet, bagaimana mereka tahu kalau kue ini adalah kue favoritku? Hanya orang tuaku dan Paul saja yang mengetahuinya... Batin Jaka yang sudah menerima kue itu.
Ia lalu meletakkannya di atas bufet jati yang ada di sana.
Sarah sudah selesai memperbaiki baju yang berhasil di lepaskan Jaka tadi, kini ia sudah berada di sana bersama sang suami.
"Wow... Pihak hotel sangat perhatian sekali dengan tamunya, ya..." jelas Sarah saat melihat kue red velvet yang sangat menggoda terletak di atas bufet.
"Maaf sebelumnya, Tuan dan Nyonya Sanjaya, kejutan ini bukan dari pihak hotel. Tapi ada seorang wanita, yang tadi malam khusus datang dan meminta kami untuk melakukan perayaan ini. Dia bahkan menitipkan ini agar diberikan langsung kepada Tuan Jaka Sanjaya." jelas pegawai hotel yang tadi membawa kue ulang tahun untuk Jaka.
Orang itu lalu mengambil sebuah kotak kado, yang tadi dibawa oleh temannya. Ia menyodorkan kotak itu kepada Jaka.
"Kau bilang seorang wanita? Apa ia Ibuku? Tapi tidak mungkin ibu datang ke sini, kan?" Jaka bermonolog.
"Oh tidak. Ia masih muda tuan, penampilannya seperti seorang sosialita." Jelas pegawai itu.
"Apa ia menyebutkan nama?" Sarah ikut penasaran.
Pegawai itu menggeleng, "Tidak Tuan. Ia hanya bilang, setelah membuka kado darinya, Tuan Jaka pasti akan mengenali dirinya. Kalau begitu, kami permisi dulu Tuan dan Nyonya, kami harus kembali bekerja..." pegawai itu menjauh meninggalkan Jaka dan istrinya, yang masih diliputi kebingungan.
Setelah menutup pintu kamar, Jaka dan Sarah membawa kue ulang tahun tadi ke atas meja makan beserta dengan kotak kado, yang katanya bisa memberi tahu siapa pemberi kejutan itu.
"Apa suamiku ini memiliki seorang pengagum rahasia? Sampai-sampai ada seorang wanita yang khusus melakukan ini untuknya..." Goda Sarah.
"Entahlah... Aku memikirkan sebuah nama. Tapi jika memang orang itu yang melakukan semua ini, pasti ada maksud tertentu." jelas Jaka yakin.
Jaka lalu membuka kotak kado tadi. Dan benar kata pegawai hotel itu, dengan melihatnya saja, Jaka tahu persis siapa yang sudah merusak paginya...
🎶Bersambung🎶
Terima kasih lagi saya ucapkan kepada para pembaca dan author, yang sudah rela mampir ke karya ini.
Semoga kalian tidak bosan untuk memberi Like pada setiap bab, Rate bintang lima dan memberikan Vote seikhlasnya.
Jika berkenan, mampir juga ke karya saya yang satu lagi: Sekretaris Pribadi Bos Tampan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih ya...
__ADS_1
🤗🤗🤗