Lay With The Devil

Lay With The Devil
Cerita Sarah


__ADS_3

Sarah merasa puas dengan hidangan yang ia buat. Terlihat enak dan ia sendiri sudah merasakannya. Ia tidak menyangka bisa membuat hidangan seperti itu bermodalkan resep dari yutub.



Lima menit lagi jam dua belas. Sarah masuk ke kamarnya untuk ganti baju dan memakai sedikit lipstik.


°°°


"Katakan kalau aku salah masuk rumah... Makanan ini terlihat sangat cantik...",


"Oya? Hanya makanan itu?", Sarah membuka Jas yang dikenakan Jaka.


Jaka berbalik dan menarik Sarah kedalam pelukannya.


"Kau yang paling cantik... Apa kau iri dengan makanan ini?", Jaka merayu Sarah.


"Tidak sih... Sudah deh. Apa kau tidak lapar??", Sarah mengalihkan perhatian Jaka.


"Apakah boleh dimakan?", Jaka menyisipkan rambut Sarah yang melewati telinganya.


Jaka selalu menggoda Sarah. Ia suka melihat wanita itu menjadi malu.


°°°


Paling tidak kekesalan Jaka karena Debby terobati setelah ia datang ke rumah Sarah. Ia suka melihat apapun yang dilakukan Sarah.


"Apa piring kotornya banyak?", tanya Jaka yang dilarang Sarah mendekatinya di dapur.


"Tidak. Kau tidak perlu memanggil Starclean jika itu maksud pertanyaanmu...",

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kau kelelahan...", Jaka menyusul Sarah kedapur.


Ia sudah berdiri di belakang Sarah. Benar, piring kotornya tidak banyak.


"Tapi aku siap memijatmu jika kau benar-benar lelah...", Jaka mengecup tengkuk Sarah.


Ia berpikir kalau Sarah sengaja berpakaian cantik untuknya. Andai saja Bapaknya tidak mempermasalahkan tentang usahanya yang bangkrut itu, Ia pasti sudah membawa Sarah menghadap keluarganya. Namun tampaknya Pak Ismail masih menyimpan kekesalan dengan keluarga Sarah.


"Hai Sayang... aku penasaran... kenapa kau bekerja mati-matian sampai meninggalkan orang tuamu... Apakah Orang tuamu tidak bekerja?", Sebisa mugkin Jaka tidak membuka hal-hal yang masih rawan. Sarah pasti akan marah besar. Entah bagaimana, ia tau itu.


"Ayahku dulu pengusaha yang lumayan sukses. Kami hidup berkecukupan bahkan bisa memiliki tanah beberapa puluh hektar di kota asalku. Saat aku menginjak semester akhir masa kuliahku, Ayah bertemu dengan orang ini. Ia mengaku sebagai pengusaha dari Jakarta dan ingin mencoba keberuntungannya di bisnis yang ayahku jalani. Kau tahu, sebelum mereka bertemu ayahku memiliki ratusan karyawan yang bergantung kepadanya. Lalu masalah itu muncul...", Sarah meneguk air mineral yang Jaka berikan.


"...",


"Orang itu, yang sudah menanam saham dengan jumlah yang tidak sedikit, datang setelah setahun. Semua orang tahu, tidak ada yang bisa memprediksi harga jual dan beli suatu barang beberapa bulan kedepan atau mungkin besok",


"Iya meminta seluruh uangnya dikembalikan saat itu juga... Padahal Ayah sudah bilang kalau harga batu bara sedang anjlok...",


Sarah terlihat memijat keningnya. Jaka yang tadinya inginn berkata jujur tentang siapa dirinya kepada Sarah, jadi merasa ragu. Apakah wanita ini baik-baik saja dengan masalah itu atau tidak.


"Apa yang dilakukan orang itu kepada kalian?",


"Orang itu membekukan aset perusahaan kami... Kami pikir hal itu tidak mungkin, tapi rupanya Ia memiliki koneksi dan pengacara yang sangat hebat... Kami tahu sebenarnya ia tidak berniat jahat",


"Bagaimana kalian bisa seyakin itu?",


"Karena ia hanya membekukan perusahaan kami, bukan menjualnya untuk mendapatkan uangnya kembali...",


"Apa kalian dendam pada ia dan keluarganya?", Jaka bertanya lagi.

__ADS_1


Sarah melihat bingung ke arah Jaka dan kemudian memijat kepalanya lagi.


"Tidak penting meyimpan penyakit di dada hanya untuk dendam pada orang...",


Jaka kemudian memeluk Sarah. Tau kalau wanita itu tidak menyimpan dendam, ia merasa lega.


"Apa kau tidak mengenal orang itu?", Jaka masih belum puas dengan cerita Sarah.


"Kenal", jawab Sarah singkat. Jaka mematung mendengar jawaban itu "Namanya Ismail Wirawan... Kaget kan... Namanya sama seperti Pak Ismail... Bapak mu... Tapi nama itu terlalu pasaran... Sayangnya aku tidak pernah bertemu langsung... Aku masih kuliah di luar kota saat itu...",


Jaka tau jantungnya hampir copot. Sudah sedekat itu Sarah tau masalah keluarganya. Ia harus memberi tahu Sarah secara langsung sebelum ia mendengar dari orang lain atau dari orang tuanya. Karena ia tahu Sarah berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya besok.


Ia memikirkan cara yang baik untuk menyampaikannya. Tidak, tidak ada cara yang baik. Bagaimanapun cara Ia memberi tahu Sarah, kemungkinan besar wanita itu akan marah dan kecewa.


°°°


Sebenarnya Sarah tidak berniat untuk mengajak Jaka pulang ke rumahnya, karena ia sendiri belum terlalu yakin kalau orang tuanya akan menyetujui hubungan mereka. Apalagi jika mereka tahu kalau Jaka ternyata sudah pernah menikah, walaupun belum pernah memiliki anak.


Ia bahkan tidak pernah menyinggung masalah Jaka setiap kali ia menghubungi orang tuanya. Tapi Jaka bukankah Jaka kalau tidak bisa meyakinkan Sarah.


"Bagaimana kalau orang tuaku tidak menyetujui hubungan kita?", Sarah berkata begitu dengan wajah yang cemberut sambil memeluk Jaka dari belakang.


Pria itu sedang memasukkan tas Sarah dan miliknya, ke dalam bagasi mobil Jeep Renegade yang hari ini akan membawa mereka. Jaka lalu berbalik dan membalas pelukan Sarah.


"Itu tantangan buat ku, biar aku yang mengurus semuanya... Karena aku berencana untuk menikahimu, jadi aku tidak akan mundur...", Jaka mengecup kening Sarah.


Sudah jam sembilan dan mereka harus bergegas agar sampai tidak terlalu sore. Tiga jam jalan darat dan satu jam di atas fery penyebrangan. Sepertinya perjalanan ini akan menyenangkan...


__ADS_1


__ADS_2