
_____________Happy Reading All___________
—————————»»»«««—————————
Sarah duduk mematung dihadapan dua penyidik yang sedang mewawancarai nya.
Diluar, sudah ada Rangga, Risty dan Bu Indy. Mereka hanya bisa menunggu mereka selesai mewawancarai Sarah.
"Sudah saya bilang Bu, Saya tidak ingat apa-apa... Saya sampai di kampung ini saja, saya tidak ingat bagaimana..." Sarah mencoba menjelaskan.
"Alamat yang kau berikan dan kau akui sebagai rumah keluargamu disini ternyata kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Orang kami hanya menemukan dua buah tas berisi baju, yang mereka pikir pasti milik anda. Apa anda berencana kabur?" tanya petugas itu dengan nada mengintimidasi.
Sarah agak kaget karena mereka bilang tidak ada orang di sana.
Kak Sinta tidak pernah kemana-mana seharusnya Ia ada di rumah. Apa mereka tau hal ini akan terjadi??
"Astaga Bu, saya tidak tau apa-apa masalah kepergian mereka... tadi pagi juga Abang saya masih ada di rumah... rasanya tidak mungkin kalau mereka menghilang begitu saja. Ibu bisa bertanya dengan teman-teman saya. Abang saya bernama Aris dan istrinya Sinta. Saya tidak mengarang..." jelas Sarah lagi.
"Oke. Disini, dari data orang hilang yang kami terima, anda berasal dari Kota BP. Yang melaporkan kehilangan anda adalah orang tua dan suami anda."
"Suami?" tanya Sarah dengan senyum terukir di bibirnya. Itu berarti calon bayi ini memiliki ayah. Ia bukan wanita murahan.
"Benar. Karena kasus ini, kami akan mengembalikan anda ke keluarga anda. Tapi kami tetap akan menjalankan penyelidikan. Keluarga anda bisa menemui anda di kantor polisi..." Jelas polisi wanita itu. Polisi itu sebenarnya terlihat iba kepada Sarah, apalagi kehamilan Sarah yang sudah memasuki bulan keempat mulai terlihat.
Setelah wawancara yang tidak menghasilkan apa-apa itu, akhirnya Sarah bisa bertemu lagi dengan Rangga dan keluarganya. Seketika itu juga tangisannya tumpah.
"Bu... Sarah punya Suami... Anak ini ada bapaknya..." jelas Sarah disela Isak tangisnya.
Rangga yang mendengar penjelasan Sarah, hanya bisa tersenyum. Walaupun di dalam hatinya ada sedikit kekecewaan.
"Lalu bagaimana dengan tuduhan pembunuhan itu?" tanya Bu Indy yang sudah duduk di samping Sarah.
"Sebentar lagi Sarah akan di bawa kembali ke kantor polisi kota BP. Karena kata mereka, kejadian itu terjadi disana... Sarah harus bagaimana bu?"
"Ibu akan menghubungi keluargamu... Rangga, tolong kau minta kontak suami Sarah dengan sesorang di dalam... Kita harus mengabari mereka, agar Sarah tidak sendirian disana nanti..." jelas bu Indy.
Anak baik ini bisa-bisanya terlibat masalah yang sangat berat. Sarah... Sarah...
"Baik bu." Rangga tidak membantah.
Tidak lama berselang, Rangga kembali dan menyodorkan ponselnya yang sudah ia sambungkan langsung ke nomor Jaka Sanjaya.
__ADS_1
"Ini bu. Namanya Jaka Sanjaya..." jelas Rangga lagi. Ia tidak lagi mampu menatap Sarah, setelah ia tau wanita itu memiliki suami.
📞 Hallo
📞 Hallo... Apa benar ini nomornya bapak Jaka Sanjaya?
📞 Iya benar.
📞 Apa saya bicara dengan bapak Jaka?
📞 Saya asistennya. Yang bersangkutan sedang tidur. Ia sakit. Ada keperluan apa?
📞 Saya... mau memberi tahu kalau kami bersama Sarah.
📞 Apa?! Anda tidak bercanda, kan? Oke kami~~
Bu Indy kemudian menceritakan semuanya. Paul mencermati semua yang dikatakan wanita di ujung telfon.
※※※
Paul membangunkan Jaka. Lagi-lagi bosnya itu ngidam. Ia minta dibelikan rujak serut dan jus alpukat. Namun setelah itu, ia malah memuntahkan semuanya.
Paul tahu dari dokter Fandy, kalau salah satu penyebab ngidam bos nya ini karena stress berkelanjutan. Stres membuat tubuh melepaskan senyawa kimia yang berubah menjadi gejala kehamilan simpatik. Jadi, mungkin saja setelah Sarah ketemu, bos nya akan kembali sehat.
"Pak Bos Jaka. Anda belum benar-benar terlelap kan?" tanya Paul sambil menggoncang-goncang kaki Jaka pelan.
"Hhmmm... Apa sih? Pergilah ke kantor. Kau menggangguku saja." Jaka menolak membuka matanya.
"Sarah ketemu." jelas Paul singkat.
Kalimat singkat Paul itu, sukses membuat Jaka membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya.
"Kamu tidak bohong kan, Paul?" tanya Jaka yang sudah berdiri dan menarik kerah baju Paul.
Paul hanya tersenyum menunggu bos nya itu melepaskan kerah bajunya.
"Duduk dan dengarkan aku... Sarah menemui polisi untuk mengetahui apa ada kerabatnya yang melaporkan kehilangannya. Dan ia menemukan kita..."
"Kenapa baru sekarang?"
"Karena... Dia amnesia."
__ADS_1
Kepala Jaka kembali terasa berputar. Untungnya ia tidak sampai pingsan. Entah mengapa ia menjadi cepat lelah dan mudah pingsan. Kata dokter Fandy, semua terjadi karena hormon kehamilan. Ajaib bukan?
"Berarti dia tidak ingat kejadian malam itu ya... Aku jadi semakin merasa bersalah..."
"Lupakan dulu itu. Sekarang seperti apa yang pernah kita bahas. Sarah akan dituntut telah melakukan pembunuhan. Pengacara Lee dan detektif Junot seharusnya sudah siap dengan kasus ini, karena mereka menyelidikinya selama kurang lebih tiga bulan... Sarah akan pulang..."
"Lalu, apa kita harus memberi tahu ayah dan ibu mertuaku?" tanya Jaka yang sudah bisa mengatasi kepalanya.
"Jangan. Kasian ayah mertuamu jika harus menemui Sarah di penjara. Walaupun kita sudah siap dengan kasus yang menimpa Sarah, ia tetap akan menetap di penjara sampai sidang putusannya..." jelas Paul yang sudah memikirkan semuanya jauh-jauh hari.
"Baiklah. Aku akan mengabari Bapak dan Ibuku..."
※※※
Sarah memeluk Bu Indy dan bidan Risty bergantian. Berkat mereka Sarah menyadari kehamilannya. Ia bersalaman dengan Rangga. Teman yang selama ini membantunya. Ia kemudian memeluk Anna dan menjabat tangan Pak Candra. Kedua orang itu datang setelah diberi kabar oleh Rangga.
"Semoga kita bisa bertemu lagi dalam kondisi yang lebih baik..." Akhir Sarah sebelum seorang polisi menuntunnya masuk kedalam mobil polisi.
"Jaga dirimu baik-baik nak. Ibu yakin keluargamu orang baik... Feeling ibu gak pernah salah..." jelas bu Indy menguatkan Sarah.
Mobil yang membawa Sarah pergi menjauh. Hanya tetesan air mata yang menemani Sarah saat ini.
※※※
Jaka, Paul, Pak Ismail dan Nyonya Ningsih sudah berdiri di depan Polres Metro BP. Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil polisi masuk kedalam pekarangan Polres.
Matahari sudah terbenam. Cukup lama perjalanan mereka.
Klek
Pintu mobil tebuka. Seorang polisi dengan seragam lengkap turun dari mobil. Ia lalu membantu Sarah turun.
"Saraah..." ucap Jaka lirih. Hatinya sakit saat melihat istri yang ia cintai, mengenakan borgol di tangan. Lebih sakit lagi saat wanita itu tidak meresopon dirinya.
Jaka beranjak maju dan memeluk istrinya itu. Sudah lama ia menyimpan rasa rindu yang begitu dalam. Namun sayangnya, yang dipeluk diam saja. Bingung.
"Hai... Kau pasti Jaka..." ucap Sarah berbisik. Hanya itu yang terlintas dipikirannya untuk diucapkan. Tapi entah mengapa, air matanya mulai berjatuhan...
♡bersambung...♡
Gak tega author misahin mereka sampai Sarah melahirkan... Jadi, cukuplah empat bulan. Sayangnya Sarah gak ingat siapa Jaka dan keluarga lainnya. Yang penasaran, mampir terus ke sini. Main-main... kasih koment, vote... Koment nyela, nyindir atau ngehujat juga boleh kok. Hehehhe...
__ADS_1