
Sarah tidak tenang. Ia betul-betul tidak tenang. Entah karena apa. Tapi sejak ia melihat beberapa orang dengan jaket kulit sesekali berkeliling dan melewati apartemen ini, ia jadi berfikir macam-macam.
Sarah... sarah... Makanya jangan terlalu lama menonton drama. Semua-semua di curigai...
Sarah mengambil ponselnya di atas meja, ia harus menghubungi suaminya. Ia tidak peduli bahkan jika suaminya sedang bersenang-senang dengan Debby.
tuut... tuut... tuuut...
Tidak ada jawaban.
Sarah mencobanya hampir sepuluh kali.
Sebaiknya ia punya alasan yang tepat.
Sarah mengalihkan panggilannya kepada Paul. Paling tidak, orang itu bisa menengok Jaka untuknya.
๐ Hallo? Apa kau baik-baik saja?
Pertanyaan Paul membuatku semakin curiga. Pasti ada sesuatu.
๐ Apa maksudnya itu? Aku masih disini menunggu Jaka pulang! Ia bilang padamu kan?
๐ Ya. Dan ia minta agar aku mengawasimu. Ia khawatir terjadi sesuatu.
๐ Astaga... Jadi mereka orangmu? Bikin panik saja. Paling tidak, berpakaianlah yang normal... Mondar-mandir seperti itu dengan pakaian aneh...
๐ Apa maksudmu? Orangku berjaga di gedung depan dan di dalam mobil. Ah, Sial!! Sarah, kunci seluruh pintu dan jendela. Jangan buka untuk siapa-siapa.
๐ A-apa sih? Jangan bikin panik dong.
๐ Hubungi Jaka. Suruh dia segera pulang.
๐ Aku mencobanya! Tapi tidak ada jawaban. Makanya aku menghubungimu...
๐ Aku akan menghubungimu lagi nanti. Diam disana!
Sarah mengunci seluruh pintu dan jendela seperti yang disuruh Paul.
Semoga Jaka baik-baik saja...
โปโปโป
ยปSementara itu lokasi Jaka & Debbyยซ
Jaka menarik tangan Debby untuk meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat tadi, seseorang berusaha merebut tas Debby saat mereka akan meninggalkan restoran itu.
Jaka refleks mengejarnya. Jaka sebenarnya tidak ingin repot-repot. Tapi Debby keluar dengannya. Ia harus mengantarnya kembali kerumah tanpa kurang satu apapun. Ia bukan laki-laki brengsek.
"Lain kali jangan ajak aku datang ke tempat ini lagi. Bikin masalah saja!!"
"Hei, memangnya aku mau kecopetan?"
"Ck! Apa barang-barangmu lengkap?"
Debby membuka tas nya. Ia memeriksa seluruh isinya.
"Oke."
__ADS_1
Kini giliran Jaka yang sibuk mencari ponselnya.
"Damn!! Apa kau lihat ponselku?"
"Mana aku tau. Coba lihat ke dalam. Mana tau tertinggal di meja." Debby menyarankan.
Jaka masuk kembali ke dalam. Ia meninggalkan Debby yang sibuk mengutak-atik AC mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Jaka kembali dengan raut wajah jengkel. Meja mereka tadi bahkan sudah diisi oleh orang lain. Dan mereka semua kompak bilang kalau tidak ada ponsel tertinggal disana.
Ah!! Sudahlah. Aku harus segera pulang. Sarah pasti khawatir...
โปโปโป
Sarah mondar-mandir di dapur. Ia jengkel dan khawatir di saat yang bersamaan.
dddrrrrttt... dddrrrttt...
Ponselnya bergetar. Ia lalu melihat penelponnya.
Suamiku.
๐ Hallo?
๐ Tut.. tut.. tut..
"Ck! Kenapa sih?"
Sarah lalu menerima sebuah pesan.
What?? Dia pasti ngigau. Ini prank?
Sarah tidak berniat membalas pesan itu. Ia ingin menghubungi Paul. Tapi ia takut mengganggu. Sarah kembali ke kamarnya.
dddrrrttt... dddrrtttt...
๐ Hallo?
๐ Sarah, apa Jaka sudah datang?
๐ Belum. Tapi aku menerima pesan darinya. Katanya ia tidak pulang malam ini.
๐ Apa? Pasti salah. Coba kirim pesan itu kepadaku. Dan ingat, jangan buka pintu untuk orang yang tidak kamu kenal. Oke?
๐ I-iya.
Pesan terkirim.
Sarah memikirkan lagi apa yang terjadi malam ini. Dan ia masih tidak bisa menarik garis besarnya.
โปโปโป
ยปSementara itu di perjalanan pulangยซ
Debby terlihat sangat gelisah. Ia bolak-balik memperbaiki posisi duduknya.
"Hei! Bisa diam nggak? Duduk aja rusuh banget..."
__ADS_1
"Aku kebelet. Bisa mampir dulu gak? Dimana gitu..."
"Ampun dah ni anak. Iya iya tahan. Awas aja kalau sampai mobilku bau!"
"Hish! Aku cuma mau pipis. Dasar!" Debby memasang tampang jengkel.
Semakin lama lo sampai rumah, semakin baik. Debby tersenyum tipis.
Mobil Jaka berhenti di sebuah swalayan dua puluh empat jam yang masih buka.
"Cepat ya. Kalau kelamaan aku tinggal." Jaka mengancam. Ia ingin lekas pulang.
"Iya iya. Bawel banget ya..." Debby meninggalkan Jaka.
Jaka meluruskan jok mobilnya. Ia berbaring dengan nyaman.
Sepuluh menit... Lima belas menit... Akhirnya Debby kembali ke mobil.
"Heh. Lama banget ya! Untung aku masih punya perasaan."
"Makasih."
Jaka lalu memundurkan mobilnya. Saat itulah ia menyadari kalau ban belakang mobilnya perlahan kempes.
"Damn!"
"Kenapa? Ayo lah. Jangan becanda..."
"Turun." Jaka memerintah. Ia sendiri lalu turun.
Benar saja. Ban belakang sebelah kirinya nya benar-benar kehabisan angin. Ia juga menemukan sebuah sobekan yang lumayan besar disana.
Jaka mengumpat. Disaat ia ingin cepat pulang, hal sial malah datang berturut-turut.
Tunggu, berturut-turut? Seperti ada yang membuatnya supaya tidak bisa pulang.
Dengan marah ia menatap tajam Debby. Ia menarik tangan wanita itu kasar.
"Apa rencana mu? Ada sesuatu kan?!"
"A-apa? Aku tidak paham maksudmu. Lepaskan!!" Debby menarik tangannya.
Jaka melepaskan pengangannya di tangan Debby.
"Kemarikan ponselmu."
"Mau apa?"
"Mau panggil montir. Cepat!! Lama banget." emosi Jaka sudah di ubun-ubun.
Haaiiizzz... Sarah pasti sudah mulai khawatir.
_โฉ_
_โฉ_
_โฉ_
tbc
__ADS_1