Lay With The Devil

Lay With The Devil
Dua Makhluk


__ADS_3

Mungkin benar video itu editan, tapi mengapa ia begitu marah? Aku harus meminta Paul menyelidikinya lebih jauh. Kami tidak pernah berfikir kalau video itu di edit. Astaga...


Jaka menutup kotak pizza yang sudah kosong. Ia kemudian masuk ke kamarnya. Ia tidak ingin berdebat lebih jauh malam ini, ia cukup lelah dan ia yakin Sarah juga begitu. Untuk berjaga-jaga saja, ia tidak akan mengunci pintu kamarnya...


※※※


Jaka tidak bisa tidur. Ia masih menunggu email dari Paul.


Bib Bib


Suara email masuk. Jaka mengecek ponselnya. Ternyata email dari kakaknya, Melisa.


📮Aku dengar kau ada di Amerika? Berikan alamatmu. Kakak akan mampir... Kebetulan Kakak dan Steve sedang ada urusan bisnis di New York...


Pasti tau dari Paul...


Jaka tersenyum. Ia kemudian membalas email kakaknya.


Mungkin aku tidak akan mendapatkan jawabannya malam ini. Sebaiknya aku tidur.


Jaka merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang dingin.


Pikirannya melayang pada pernikahannya dua tahun yang lalu.


Jaka mengenakan tuxedo putih pilihan ibunya. Walaupun saat itu Ny. Sanjaya tidak terlalu menyetujui hubungan Jaka dan Angel yang berdarah balsteran Indonesia Amerika, ia tetap mendampingi anaknya untuk melaksanakan pernikahan.


Tuan Ismail sendiri lebih membebaskan anak laki-lakinya, asalkan mereka sendiri bertanggung jawab.


"Terima kasih sudah hadir Bu... ", Jaka memeluk Ibunya.


"Aku hanya tidak menyukainya... bukan membencimu... Kuharap kalian bahagia...", Ny. Sanjaya memeluk anak bungsunya. Anak yang paling dekat dengannya. Anak pandai yang berhasil mengikuti jejak bapaknya.


Mereka memutuskan untuk bulan madu di Swiss. Dua bulan lamanya mereka disana. Ketiga kakak perempuannya bahkan menghadiahkan sebuah resort house untuk pernikahan mereka.


Angel terlihat begitu bahagia, walaupun kadang-kadang Jaka melihat istrinya masih sering video call dengan teman-teman pria nya. Ia tidak ingin di cap sebagai suami yang over protektif.


"Apa kau bahagia?", pertanyaan yang selalu di ungkapkan Jaka. Angel hanya tersenyum.


Saat itu mereka pulang dalam keadaan Angel yang marah dengan perlakuan Jaka.

__ADS_1


"Kau sudah menikah... ceritalah denganku... aku janji akan mendengarkan semua keluh kesahmu... Berhenti menghubungi mereka... aku tidak ingin mereka berpikir kau semudah itu...",


Itulah perdebatan terakhir mereka. Setelah itu, Jaka menemukan istrinya menginap dihotel dengan seorang pria. Tanpa berpikir lebih lama, Jaka menceraikan istrinya*.


Setelah itu, memang banyak wanita yang mendekatinya. Tapi ia masih tidak berfikir untuk memiliki pendamping lagi.


Jaka menarik selimutnya. Ia hanya memakai celana pendek. Ia terbiasa begitu.


Jaka memandang langit-langit kamarnya. Saat itulah ia mendengar Sarah berteriak memanggil namanya.


"Aaa!!! Pak Jaka!!! Tolong!!!",


Jaka kaget. Ia langsung bangkit dan menuju kamar Sarah.


"Apa? Ada apa?", Jaka menemukan Sarah bersembunyi dibawah selimutnya. Jaka menarik selimut itu, Jantungnya benar-benar deg-deg an saat ini.


Ia mendapati Sarah meringkuk menutup matanya.


"Apaa??!", Jaka bertanya lagi.


Sarah membuka matanya. Ia turun dari ranjang dan berlindung di belakang Jaka.


"Astaga... aku pikir apa... Kau teriak-teriak begitu karena kecoa? Kau jauh lebih besar darinya nona...",


Sarah memukul bahu Jaka. Ia tidak terima.


"Aku trauma mendalam dengan makhluk itu. Pokoknya usir!!",


"Oke.. oke.. Dimana?",


"Dibelakang lemari. Mereka terbang kesana...",


Saat itulah dua makhluk tadi terbang dan mengelilingi mereka. Sarah yang panik langsung meninggalkan Jaka. Ia masuk ke kamar Jaka dan kembali sembunyi di bawah selimut.


Jaka ikut keluar dan menutup pintu kamar Sarah. Ia kembali ke kamarnya.


Jaka menarik selimutnya.


"Apa yang kau lakukan di kamar ini?",

__ADS_1


"Sembunyi",


"Saya mau tidur",


"Apa kecoa nya sudah pergi?",


"Mereka kembali ke belakang lemari. Besok saya panggil pembasmi serangga. Takutnya mereka punya teman...",


Jaka melihat jelas kalau wanita itu merinding. Otak isengnya muncul. Ia lalu melemparkan kertas struk pembayaran pizza yang ia remas-remas tepat ke kaki Sarah.


"Aaaa!!! Apa itu?! Dia disini!!", Sarah menjauh dari ranjang Jaka dan membersihkan kakinya. Padahal tidak ada apa-apa disana.


"Hahahaha... hahaha... Kau lucu sekali...",


"Gak lucu, Pak!! Apalagi kalau ingat dia nyangkut di rambutku dan jalan-jalan disana... hiiiyyyeee...", Sarah merasa geli.


Perutku bisa keram tertawa kalau ia terus begini...


"Ehemm...",


Jaka menarik Sarah duduk di sampingnya.


"Jadi bagaimana? Saya sudah sangat lelah dan ingin tidur... Kau bisa tidur disini kalau kau mau. Aku akan tidur didepan...",


"Ja-jangan. Ini kan kamar bapak... Biar saya yang tidur di luar... Kecoanya di dalam kamar kan... Kalau gitu aman...", Sarah berusaha tenang. Ia mengambil salah satu bantal Jaka dan membawanya keluar. Sofa di depan TV cukup nyaman...


Jaka menutup pintu kamarnya. Ia tidak berniat menguncinya. Ia tidak sejahat itu.


"Oke... plis kecoa... Diam disana dan jangan keluar...", Sarah bicara sendiri. Ia meletakkan bantal Jaka di atas Sofa.


Sarah berbaring. Tapi matanya terus-terusan melihat ke arah kamarnya yang telah di invasi oleh dua ekor kecoa.


Ada apa dengan dunia ini... Mengapa tidak membiarkanku hidup dengan damai... 😥




__ADS_1


bersambung....


__ADS_2